- Pesta tahun baru Jakarta diwarnai tiga insiden tawuran antarwarga.
- Tawuran adalah penyakit kronis dengan ratusan kasus setiap tahun di Jakarta.
- Solusi menuntut penataan kota dan pemberdayaan pemuda, bukan seremoni sesaat.
Suara.com - Langit Jakarta malam itu seharusnya menjadi kanvas harapan yang sempurna. Tepat pukul 00.00, pertunjukan cahaya drone yang membentuk formasi '2026' berpadu dengan pekik meriah ratusan ribu warga yang memadati Bundaran Hotel Indonesia hingga kawasan Tugu Monas. Wajah-wajah penuh senyum menengadah ke angkasa, merekam momen magis itu.
NAMUN, hanya dalam hitungan menit, euforia itu pecah menjadi teror.
Di salah satu sudut jalan yang padat, gesekan kecil antarpemuda yang dipicu saling ejek membesar menjadi bara api. Pekik 'Selamat Tahun Baru' berubah drastis menjadi makian kasar, diikuti melayangnya botol kaca dan batu yang membelah kerumunan. Jakarta tidak menyambut 2026 dengan semangat pembaruan, melainkan dengan luka lama masalah sosial yang kembali menganga.
Ironisnya, malam pergantian tahun itu didedikasikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebagai ajang solidaritas bagi para korban bencana di Sumatra. Sayangnya, niat baik itu justru dicoreng oleh segelintir kelompok pemuda yang menjadikan keramaian sebagai arena adu kekuatan.
Cerita dimulai dari Flyover Klender, Jakarta Timur, hanya beberapa menit setelah tahun berganti. Dua kelompok pemuda menjadikan suara petasan sebagai kode untuk memulai serangan.
Tak lama kemudian, pemandangan serupa terjadi di turunan Flyover RS Harapan Bunda, Ciracas, di mana dua kelompok saling serang dengan batu dan petasan, menebar kepanikan bagi pengguna jalan.
Menjelang petang di hari pertama tahun yang baru, api konflik kembali menyala di Manggarai, Jakarta Selatan. Ledakan petasan memicu ketegangan antara dua kelompok warga yang memang memiliki riwayat konflik menahun.
Penyakit Kronis Bernama Tawuran
Tawuran seolah telah menjadi penyakit kronis di Jakarta. Gubernur silih berganti, tetapi gesekan sosial ini tak kunjung reda.
Baca Juga: Tawuran Awali Tahun Baru di Jakarta, Pengamat Sebut Solusi Pemprov DKI Hanya Sentuh Permukaan
Data akhir tahun dari Polda Metro Jaya pada 2025 mencatat ada 440 kasus keributan antarkelompok. Beberapa titik seperti Matraman, Kemayoran, dan Manggarai bahkan telah dicap sebagai zona merah tawuran.
Salah satu kasus terbesar terjadi di kawasan elite Menteng pada 9 Juni 2025, di mana lebih dari 100 orang, mayoritas pemuda dan remaja di bawah umur, diamankan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bukannya tanpa upaya. Pada Mei 2025, Pramono Anung sempat menggelar acara "Manggarai Bersholawat" di salah satu titik rawan, berharap pendekatan kultural dan religius dapat meredam konflik.
Namun, di mata pengamat sosial, Rissalwan Habdy Lubis, pendekatan ini tak lebih dari sekadar obat pereda nyeri.
"Itu agak saya ketawain juga tuh," ujarnya kepada Suara.com pada Jumat (2/1/2026).
Menurut Rissalwan, pendekatan religius memang sah-sah saja, tetapi itu hanya menyentuh permukaan.
"Ibarat mengobati rasa sakit, hanya hilangkan sakitnya sesaat. Tapi akar masalahnya tidak disembuhkan," katanya.
Program aduan 'Jaga Jakarta' pun dinilai hanya mampu menekan angka kejadian, bukan menyembuhkan penyakitnya.
Tiga Resep Menyembuhkan Luka Jakarta
Alih-alih seremoni sesaat, Rissalwan menawarkan tiga resep fundamental yang bisa diterapkan Pemprov DKI untuk memutus mata rantai kekerasan ini.
Pertama, penataan ulang kawasan. Pramono Anung, menurutnya, wajib merencanakan penataan ulang kawasan rawan seperti Manggarai pada 2026.
"Perbaiki pola pemukimannya. Sekarang ini kan gesekan, suntuk, stres, dan sebagainya itu membuat orang gampang terpicu juga," papar Rissalwan.
Kedua, menyediakan panggung eksistensi. Pemprov DKI harus memperbanyak wadah kreativitas bagi anak-anak muda di wilayah rawan.
"Kasih mereka panggung eksistensi. Contohnya tuh di Korea, kreativitas anak-anak muda itu disalurkan dengan kompetisi, yang kalau perlu berhadiah," terangnya.
Ketiga, memutus rantai dendam. Rissalwan mengusulkan program beasiswa khusus bagi generasi muda di lingkungan rawan tawuran untuk memutus siklus kebencian yang diwariskan dari orang tua.
"Anak-anak ini kan mendengar obrolan orang tuanya ya. Jadi anaknya denger, terinternalisasi dia. Nah, itu saya bilang sebagai akar masalah juga tuh, yang harusnya distop," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
Terkini
-
KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku Hari Ini, DPR: Selamat Menikmati!
-
Ikrar Nusa Bakti Desak Prabowo Segera Reshuffle Kabinet
-
Roy Suryo Siapkan Gibran Black Paper, Soroti Riwayat Pendidikan hingga Legalitas Ijazah Wapres
-
KPK soal Kepala Daerah Dipilih DPRD: Tekan Biaya Politik, Cegah Korupsi
-
Tabrak Lari di Tambora Tewaskan Dua Orang, Mobil Pelaku Ringsek Ditabrak Kereta
-
Pesepeda Luka Kepala Ditabrak Mobil Listrik di Jalan Sudirman
-
Puncak Musim Hujan, BMKG Minta Warga DIY Waspadai Banjir dan Longsor
-
Demokrat Nilai Langkah Hukum SBY Jadi Pendidikan Politik Lawan Disinformasi
-
Pemerintah Pusat Puji Gerak Cepat Gubernur Bobby Nasution Bangun Huntap Korban Bencana
-
Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Kemen PPPA Pastikan Hak dan Pendidikan Anak Tetap Terpenuhi