Suara.com - Ketika kapal perang Rusia Moskva tenggelam setelah dikabarkan dihantam rudal Ukraina, tidak ada informasi resmi tentang korban yang dirilis. BBC News Rusia berbicara dengan dua perempuan di Krimea wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia pada 2014 yang putranya bertugas di kapal Moskva. Hingga saat ini kedua perempuan itu tidak tahu nasib anak-anak mereka.
Pada 13 April, Ukraina mengumumkan pihaknya telah menghantam kapal perang Rusia dengan dua rudal Neptunus (Neptune) buatan Ukraina. Para pejabat AS yang tidak disebutkan namanya berkata kepada media AS bahwa mereka percaya versi Ukraina.
Rusia mengatakan bahwa kapal itu rusak setelah terjadi ledakan dan kemudian tenggelam karena "lautan badai".
Baca juga:
- Sejarah kapal perang Moskva, simbol dominasi Rusia di Laut Hitam dan duri bagi Ukraina yang kini karam 'terhantam rudal'
- Mengapa Rusia kehilangan banyak tank di Ukraina?
- Tiga skenario berisiko menyeret NATO perang langsung dengan Rusia dan memperparah konflik Ukraina
'Seluruh kru dievakuasi'
Sebelum tenggelam, kementerian pertahanan Rusia mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, "Kapal itu rusak parah. Seluruh kru telah dievakuasi." BBC belum dapat memverifikasi klaim tersebut.
Rusia juga belum mengakui adanya korban. Kementerian pertahanan Rusia bahkan merilis rekaman yang mereka sebut menunjukkan awak Moskva sedang berbaris di kota pelabuhan Krimea, Sevastopol.
Tetapi Yulia dan Olesya, dua perempuan yang berbicara dengan BBC, mengatakan mereka belum mendengar kabar dari putra mereka selama berhari-hari.
Wajib militer di Moskva
Yulia mengatakan kepada BBC bahwa putranya, Andrei, yang berusia 19 tahun, bertugas di Moskva sebagai wajib militer setelah direkrut pada musim panas lalu. Perempuan itu telah menemukan nama putranya dalam daftar orang-orang yang hilang saat bertugas.
Yulia mengatakan dia menelepon kantor militer setempat tetapi diberitahu bahwa putranya tidak mungkin berada di Moskva dan dia tidak perlu khawatir.
Tapi Yulia tidak bisa tidak khawatir. Dia mengatakan putranya akan menyelesaikan wajib militernya dalam satu atau dua bulan lagi.
Dia telah pergi dari rumah sejak awal Februari. Yulia berasumsi dia mengikuti latihan militer.
Ketika invasi Rusia ke Ukraina dimulai, atau seperti yang dijelaskan oleh para pejabat Rusia, "operasi militer khusus", Yulia menjadi sangat khawatir.
Kembali ke pelabuhan Sevastopol
Pada awal Maret Moskva kembali ke pelabuhan Sevastopol. Yulia dapat berbicara dengan putranya di telepon beberapa kali.
"Saya terus bertanya kepadanya, 'Mengapa kamu harus pergi ke sana [ke Ukraina]?' Dia jawab, "Saya tidak tahu."
Tenggelam
Setelah mendengar tentang tenggelamnya Moskva, sambil mengkhawatirkan hal terburuk, Yulia pergi ke Sevastopol untuk menuntut jawaban dari otoritas angkatan laut di sana.
Kerabat petugas lain juga menunggu di luar kantor. Yulia berkata seorang petugas menyodorkan selembar kertas dengan sejumlah nama. Si petugas mengatakan itu adalah nama-nama mereka yang hilang saat bertugas. Yulia menemukan nama anaknya di antara mereka.
"Begitu banyak waktu telah berlalu tetapi mereka terus memberi tahu kami bahwa mereka masih mencari yang selamat," Yulia menangis saat menceritakan pengalaman pahitnya. Dia mengatakan dia mencoba menelepon otoritas militer yang lebih tinggi di Moskow, tetapi itu tidak ada gunanya.
Permintaan informasi
Yulia tidak sendirian.
BBC News Rusia melihat banyak permintaan informasi di media sosial dari keluarga pelaut dari Moskva, yang mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada orang yang mereka cintai.
Nikita
Olesya adalah perempuan lain dari Krimea yang kami ajak bicara. Putranya Nikita berusia 20 tahun dan, seperti Andrei, bertugas di angkatan laut sebagai wajib militer.
Dia melihat di media sosial bahwa kapal perang Moskva terbakar. Namun dia tidak khawatir karena dia percaya jaminan dari pihak berwenang bahwa semua pelaut telah dievakuasi.
Tetapi ketika berita tentang korban mulai menyebar, dia mulai menelepon, mencari jawaban. Dia tidak mendapatkan apa-apa.
Olesya menelepon beberapa rumah sakit di Sevastopol, berharap menemukan putranya di antara yang terluka. Tidak ada yang bisa membantunya. Di satu rumah sakit dia diberi tahu agar mempersiapkan diri untuk yang terburuk.
"'Apa maksud Anda,' saya tanya mereka. Apakah Anda tahu apa yang terjadi pada anak saya?"
"'Menurut Anda apa yang terjadi,' kata mereka. 'Suhu laut saat ini tidak cocok dengan kehidupan.'"
'Bersiap untuk yang terburuk'
Olesya pergi ke rumah sakit militer di Sevastopol dan meminta daftar semua pelaut yang terluka dari Moskva yang nama keluarganya dimulai dengan huruf yang sama dengan putranya. Dia mengatakan ada puluhan dari mereka, tetapi putranya, Nikita, bukan salah satunya.
Suami Olesya mencoba nomor hotline untuk kerabat sekali lagi tetapi diminta untuk berhenti menelepon. "Mereka bilang mereka sibuk dan mereka akan menelepon jika mereka menemukan Nikita."
Sama seperti Yulia, terakhir kali Olesya mendengar kabar dari putranya adalah pada pertengahan Maret.
"Dia menelepon saya dari nomor yang tidak dikenal dan berkata, 'Bu, ini saya. Mereka melarang kami mengungkap di mana kami berada, tapi saya berada di kapal perang."
Daftar Hilang Saat Bertugas
BBC News Rusia telah meminta Kementerian Pertahanan Rusia untuk mengomentari informasi tentang daftar pelaut yang hilang saat bertugas.
BBC juga menanyakan keberadaan Andrei, Nikita, dan pelaut lainnya di atas kapal Moskva. Sampai saat berita ini diterbitkan, belum ada jawaban yang diterima.
Pulau Ular
Pada awal konflik, Moskva menjadi terkenal setelah meminta pasukan perbatasan Ukraina yang mempertahankan Pulau Ular di Laut Hitam untuk menyerah.
Orang-orang Ukraina mengirimkan pesan penolakan yang kurang-lebih artinya "pergilah ke neraka".
Tag
Berita Terkait
-
Latihan Gabungan, Kapal Selam Rusia hingga Korvet Gromky bersandar di Jakarta
-
Perantau Bangka Belitung Bahagia Mudik Gratis Pakai Kapal Perang TNI AL
-
AS Desak Militer Jepang, Korsel, China hingga Eropa Buka Selat Hormuz, Realistis atau Sia-sia?
-
Mengenal Kapal Perang US Fifth Fleet yang Masuk Bidikan Rudal Iran, Sudah Berumur31Tahun
-
Perang Iran Bakal Pecah Lagi! Sekutu Zionis Kirim Kapal Perang, Netanyahu Makin Nafsu
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Wamen PPPA Soroti Lingkaran Setan Kemiskinan Akibat 'Banyak Anak Banyak Rezeki'
-
Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran dan AS
-
Isu Perombakan Kabinet, Sekjen Partai Golkar Berharap Tidak Ada Kadernya yang Terkena Reshuffle
-
Prabowo Targetkan 3 Tahun Lagi Indonesia Bebas Sampah: Kita Punya Teknologi Buatan Sendiri
-
Lakukan Evaluasi Imbas 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pemerintah Bakal Tarik Pasukan Perdamaian?
-
Mahasiswa Desak MK Kabulkan Uji Materi UU TNI Terkait Tragedi Andrie Yunus
-
Polemik Kasus Chromebook dan Ancaman Trial by The Press di Era Digital
-
Buronan Interpol dan Bos Mafia Asal Inggris Akhirnya Dideportasi Imigrasi Ngurah Rai
-
Istana Belum Terima Hasil Investigasi PBB Penyebab 3 TNI Gugur di Lebanon
-
Bupati Bekasi Ade Kuswara Klaim Tak Tahu Soal Pembakaran Rumah Saksi dalam Kasus Suap Ijon Proyek