Suara.com - Seorang pria yang menderita kelumpuhan lebih dari delapan tahun yang lalu, kini tengah berjuang menggapai mimpinya, yaitu menaklukan gunung tertinggi di dunia, Everest.
Dia dijadwalkan akan berangkat pada hari Selasa, (03/04), dengan tim kecil untuk melakukan pendakian menggunakan kruk - tongkat atau alat bantu berjalan atau tongkat ketiak.
Jamie McAnsh, dari Cwmbran, Torfaen, Wales, menderita sindrom nyeri regional kompleks atau complex regional pain syndrome (CRPS) yang menyebabkan nyeri parah dan melemahkan tubuhnya.
Dia mengatakan, mendaki Everest adalah mimpinya dari kecil. Rencana yang semula akan dilakukan pada tahun 2020, telah dua kali tertunda akibat pandemi Covid-19.
Baca juga:
- Kisah ibu rumah tangga yang 10 kali mendaki puncak Everest, gunung tertinggi di dunia
- Kisah perempuan Kosovo pertama yang berhasil menaklukkan Everest
- Puncak perawan nan 'sakral' di pegunungan Himalaya yang terlarang bagi pendaki
Jamie menceritakan kepada BBC, pada 6 Januari 2014, dia pergi tidur "seperti biasa". Namun, keesokan paginya, ketika bangun, ia menyadari tubuhnya dari pinggang ke kaki mengalami kelumpuhan. Penyebabnya adalah patahnya tulang punggung saat ia tidur.
Butuh waktu 13 bulan bagi Jamie untuk mengetahui ia menderita CRPS, penyakit yang tidak dapat disembuhkan namun dapat membaik secara bertahap dari waktu ke waktu dengan terapi.
Jamie mengatakan, dia depresi dan berada di "tempat gelap" setelah mendengar diagnosis itu.
Tetapi ia mengaku "sangat beruntung" dengan dukungan di sekitar yang memungkinkannya menerima tantangan untuk mencapai perkemahan Gunung Everest, yang berada di ketinggian 5.364 meter (17.600 kaki).
Baca Juga: Kisah Lhakpa Sherpa Si Ratu Everest, 10 Kali Capai Puncak Gunung Tertinggi
Dia berkata, "Everest telah menjadi mimpi sejak saya berusia tujuh tahun. Saya sering mengatakan mimpi itu hancur pada tahun 2014 ketika saya bangun dengan lumpuh dan saya menyesal 'mengapa tidak melakukannya lebih awal, mengapa tidak melakukannya? Pergi dan lakukan itu'.
"Ketika saya menjalani fisioterapi, mereka mengatakan saya membutuhkan tujuan, saya membutuhkan sesuatu untuk dikerjakan dan saya berkata 'baik saya punya tujuan, saya ingin mendaki Everest' dan saya ingat fisioterapis saya mengatakan 'Jamie, saya katakan padamu, ayo buat kamu berdiri dulu'."
Jamie mengatakan, dia ingin menggunakan pendakian itu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sindrom CRPS.
"Jika Anda mengetahuinya lebih awal, Anda sebenarnya bisa mengubahnya, Anda bisa mengembalikan dan mencegah itu," katanya.
Baca juga:
- Kisah pendaki yang baru saja menuntaskan 'pendakian 100% vegan' di Gunung Everest
- Gunung Everest mencair, jasad-jasad pendaki yang hilang mulai bermunculan
- Mantan guru cetak rekor sebagai perempuan tercepat yang menaklukkan puncak Gunung Everest, apa kuncinya?
"Tapi sayangnya CRPS sangat disalahpahami sehingga banyak orang melewati tahap diagnosis dan telat menyadari atau memahami apa yang mereka idap, jadi mereka harus melewati gerbang itu, jendela itu (kelumpuhan)."
Perjalanan Jamie awalnya dijadwalkan pada Mei 2020, tetapi ditunda akibat lockdown Covid-19 pertama. Upaya kedua pada tahun 2021 kembali gagal di menit terakhir ketika Nepal masuk dalam daftar merah pandemi.
Jamie memperkirakan akan memakan waktu sekitar 10 hari untuk mencapai perkemahan dengan kruknya yang didesain secara khusus, dan kemudian membutuhkan empat hari lagi untuk turun kembali.
Berita Terkait
-
28 Ton Pasir Timah Ilegal Disita Bareskrim, 97 Karung Siap Dikirim ke Malaysia
-
BRI Gelar Promo Spesial di Voila, Ada Potongan Harga Hingga Rp1,7 Juta
-
Sambut HUT RI, BRI Promo Cashback 10 Persen di Papaya Supermarket
-
Prabowo Guyur Dana Rp360 Triliun untuk Rakyat dari Efisiensi Pengadaan
-
Bedah Pidato Presiden, Gerindra Beberkan 6 Fondasi Utama Pembangunan Nasional Era Prabowo
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Standar Baru Industri Mobil Bekas Focus Motor Hadir di Kawasan Bintaro
-
Bukan Honor Nyanyi! Bebizie Terima Aliran Uang Tambang Terkait Kasus Rita Widyasari
-
Hornet Diminta Dihapus dari App Store dan Play Store, Komdigi Ungkap Masalahnya
-
Jangan Asal Timpa, Dokter Ungkap Cara Re-apply Saat Pakai Tinted Sunscreen
-
Menelisik Garam Palungan Desa Les: Saat Warisan Leluhur Bertahan di Tengah Modernisasi
-
Sinyal HP Tumbang, 200 BTS Rusak: Begini Update Gempa NTT
-
Data Sering Nyangkut, DPRD DKI Minta Mekanisme Sanggah Manual untuk Desil Warga
-
Cara Pakai Tinted Sunscreen Yang Benar Ala dr Zie Untuk Samarkan Flek Hitam
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Skybar ibis Styles Yogyakarta Kembali Dibuka, Hadirkan Beragam Agenda Rutin