News / metropolitan
Chandra Iswinarno | Fakhri Fuadi Muflih
Jakarta International Stadium (Antara)

Suara.com - Anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak tidak terima, jika Jakarta International Stadium (JIS) disebut sebagai mahakarya.

Ia mengemukakan, jika stadion yang akan menjadi kandang klub sepak bola Persija Jakarta itu sebagai stadion biasa.

"Ini teknologi dan karya yang sudah ada lama di luar negeri, dengan beberapa sentuhan arsitektur Indonesia," jelasnya kepada wartawan, Rabu (4/5/2022).

Anggota Komisi B Gilbert Simanjuntak saat menghadiri rapat Komisi B di gedung DPRD DKI, Senin (3/2/2020). (Suara.com/Fakhri).

Menurut Gilbert, stadion dengan spesifikasi seperti JIS sudah banyak dibuat di kota lain di luar negeri. Fasilitas yang dimiliki JIS sekarang bukan satu-satunya di dunia.

Baca Juga: Gilbert PDIP Sibuk Urusi Anies yang Sebut JIS Mahakarya

"Pernyataan JIS mahakarya adalah hiperbola, karena di kota lain di luar negeri itu merupakan standar stadion. Baik untuk tenis, atau bola," ujar Gilbert.

Karena itu, ia mengaku heran mengapa Anies kerap kali membanggakan JIS kepada publik.

Ia menduga Anies melakukannya karena tidak banyak prestasi yang bisa dibanggakan selama menjabat Gubernur.

"Tetapi karena Anies minim prestasi, jadi ini yang dibanggakan. Kenapa Anies tidak membanggakan tugu sepeda, tugu bambu sebagai monumental?" tuturnya.

Selain itu, Gilbert menilai masih banyak kekurangan dalam pembangunan JIS. Mulai dari sinyal telepon yang sulit, lift ke atap yang belum bisa digunakan, dan biaya pemeliharaan tinggi karena debu tebal menutupi bangku.

Baca Juga: Salat Ied Di JIS, Anies: Sebuah Janji Telah Tertunaikan

"Sebaiknya, ucapan mahakarya kemarin diikuti juga permintaan maaf kepada para korban banjir, mereka yang tidak memiliki rumah yang layak, korban kebakaran tanpa rumah dan kegagalan memenuhi janji kampanye," katanya.

Komentar

terkini