Suara.com - Taliban kembali memangkas hak perempuan dengan mewajibkan jilbab di ruang publik. Restriksi datang silih berganti seiring surutnya perhatian dunia internasional. Perempuan Afganistan kini sendirian menghadapi Taliban.
Jika ada secercah harapan bahwa Taliban akan mau menegakkan hak asasi manusia dan mendorong kesetaraan hak bagi perempuan di Afganistan, aturan teranyar kelompok militan Pashtun itu sudah membuyarkannya.
Sejak Sabtu (7/5), "mereka (perempuan) harus mengenakan cadar karena tradisional dan bermartabat,” titah pemimpin spiritual Taliban, Hibatullah Akhundzada.
Dalam fatwanya itu, Akhundzada memperkenalkan serangkaian aturan baru "untuk mencegah provokasi jika bertemu laki-laki yang bukan muhrim,” imbuhnya sebelum menganjurkan agar perempuan "lebih baik berdiam di rumah” ketimbang berkarya di dunia luar.
Cuma kaum lansia dan anak-anak yang dikecualikan dari kewajiban berjilbab di ruang publik. "Kewajiban burqa yang dikenakan Taliban menghapus identitas perempuan,” tukas Daud Naji, bekas pejabat pemerintah Afganistan lewat akun Twitternya.
"Masalahnya di sini bukan hijab, tetapi eliminasi perempuan.” Belum lama ini, para Talib juga urung menepati janji mengizinkan murid perempuan kembali bersekolah.
Pekan lalu, Taliban mengatakan sekolah tingkat menengah baru akan dibuka bagi perempuan jika "aturan pakaian yang pantas” sudah disepakati.
Silang ideologi di tubuh Taliban
Hampir setiap hari, Kementerian Amal Maruf Nahi Munkar mengeluarkan aturan baru yang membatasi kebebasan perempuan.
Baca Juga: Taliban Larang PUBG dan TikTok, Dianggap Menyesatkan Generasi Muda
Sejak Maret silam, perempuan misalnya tidak lagi diizinkan menumpangi pesawat seorang diri, tanpa ditemani laki-laki muhrim.
Upaya Taliban terhadap perempuan berbanding kontras degan kondisi perekonomian yang carut marut. Negeri yang remuk oleh perang itu hampir sepenuhnya bergantung dari kucuran dana bantuan donor luar negeri untuk menjalankan pemerintahan.
Uluran bantuan terhenti sejak Taliban mengambilalih kekuasaan Agustus 2021 silam. Sejak itu, komunitas internasional menyaratkan perbaikan hak perempuan dan minoritas sebagai jaminan untuk menerima dana hibah.
Namun tuntutan itu ditolak kelompok garis keras di tubuh Taliban. "Aturan baru terhadap perempuan dibuat oleh jajaran pemimpin yang tua dan tidak mengenal kompromi,” kata bekas penasehat presiden Afganistan, Tariq Farhadi.
"Bagi mereka, ideologi lebih penting ketimbang kesejahteraan rakyat. Mereka tidak peduli terhadap pengakuan oleh dunia internasional,” imbuhnya.
Hak Perempuan sebagai alat tawar? Soraya Peykan, bekas profesor di Universitas Kabul, meyakini pertukaran informal dan terbatas antara dunia internasional dan Taliban berpotensi terputus jika pembatasan terhadap hak sipil terus dilanjutkan.
Berita Terkait
-
Mata Uang Negara Lain Menguat, Rupiah Amblas ke Rp17.124 per Dolar AS
-
Jan Olde Riekerink Ungkap Kunci Tumbangkan Malut United di Ternate
-
Harga Emas Antam Naik saat Harga Emas Dunia Turun, Mengapa?
-
Kurniawan Dwi Yulianto Puji Setinggi Langit Gol Salto Dava Yunna ke Gawang Timor Leste
-
Geger Pelecehan Seksual FH UI, Respons Grup WhatsApp Orang Tua Mahasiswa Jadi Sorotan
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Benarkah Langit RI akan Dibuka untuk Pesawat Tempur AS? Kemhan Tegaskan Perjanjian Belum Final
-
Kontroversi Pete Hegseth, Pembawa Acara TV yang Jadi 'Dewa Perang' AS
-
Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Tak Ada Pendaftaran: Anak Lulus, Orang Tua Harus Lepas Bansos!
-
Indra Iskandar Menang Praperadilan, Hakim Perintahkan KPK Hentikan Penyidikan
-
Perang di Mata Rakyat Israel: Terlalu Berat Bagi Saya Pikirkan Masa Depan
-
Tujuh Hari Jelang Keberangkatan, DPR Desak Kepastian Biaya Tambahan Haji
-
Dugaan Pelecehan Seksual di FH UI, BEM Dorong Sanksi Berat hingga DO
-
KPK Kalah! PN Jaksel Batalkan Status Tersangka Sekjen DPR Indra Iskandar
-
Sekutu NATO Tolak Terlibat Rencana Donald Trump untuk Blokade Selat Hormuz
-
Hitung-hitungan Dampak Buruk Blokade AS di Pelabuhan Iran dan Selat Hormuz