Alhasil, perolehan suara masing-masing partai politik Islam tersebut tidak cukup untuk mengantar wakilnya ke parlemen, termasuk yang dialami PPP di sejumlah daerah pemilihan. Apalagi “harga” kursi di Jawa lebih “mahal” karena bilangan pembaginya jauh lebih besar dibanding di luar Jawa.
Berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga riset politik, posisi PPP pada Pemilu 2024 memang kurang cerah karena rata-rata masih di bawah 4 persen. Konflik terakhir yang menyebabkan Suharso tersingkir dikhawatirkan memperburuk kinerja partai guna mendongkrak perolehan suara pada Pemilu 2024.
Salah satu harapan tambahan perolehan suara PPP, mungkin dari DKI Jakarta menyusul kembalinya keluarga Haji Lulung atau Abraham Lunggana ke partai tersebut setelah hengkang dan memberikan dukungan pada PAN pada Pemilu 2019.
PAN DKI Jakarta yang pada Pemilu 2014 hanya mendapat tiga kursi DPRD, melesat menjadi sembilan kursi pada 2019, sedangkan PPP pada periode sama anjlok, dari 10 kursi pada 2014 tinggal menyisakan satu kursi pada 2019.
Haji Lulung memang memiliki jaringan hingga akar rumput di Ibu Kota Jakarta. Setelah Haji Lulung meninggal pada Desember 2021, jaringan akar rumput itulah yang bakal kembali digarap oleh anaknya untuk memberi dukungan kepada PPP pada Pemilu 2024.
Namun, berdasarkan perolehan suara Pemilu 2019, secara nasional posisi PPP memang tidak bisa disebut aman karena partai berlambang Kakbah ini hanya meraup 6.323.147 atau 4,52 persen, sedikit di atas ambang batas parlemen 4 persen.
Perolehan suara sebanyak itu pada Pemilu 2019 hanya mampu mengantarkan 19 wakilnya di DPR RI, terjun bebas dibanding hasil Pemilu 2014 sebanyak 39 kursi di DPR RI.
Konflik yang baru saja terjadi bisa saja makin menggerogoti perolehan suara PPP pada pemilu mendatang bila tidak ada perlakuan (treatment) yang jitu setelah konflik belakangan ini.
Oleh karena itu, Mardiono yang hanya memiliki waktu sekitar 1,5 tahun sebelum Pemilu 2024 digelar, harus bergerak cepat dan tepat. Pengurus PPP harus segera melakukan konsolidasi internal agar dalam menghadapi Pemilu 2024 tidak lagi disibukkan mengatasi gesekan di internal partai setelah konflik tersebut.
Pilihannya memang tidak mudah karena konsolidasi tersebut bisa memakan korban bila menempuh cara dengan membersihkan para loyalis Suharso dari tubuh partai. Opsi ini juga berisiko, karena para loyalis Suharso – sedikit atau banyak -- juga memiliki jaringan di akar rumput yang selama ini bekerja untuk mengumpulkan suara.
Alternatif lain melakukan konsolidasi dengan mengakomodasi kubu Suharso dengan cara islah. Akan tetapi, langkah ini juga bukan perkara gampang karena kubu Suharso sampai saat ini masih menganggap penggusurannya melalui mukernas di Serang itu inkonstitusional.
Dalam kondisi apa pun, PPP harus mampu mempertahankan basis dukungan tradisional. Mereka adalah para pemilih ideologis yang berada di perdesaan dan kaum marjinal perkotaan. Rasanya sulit bagi partai ini merebut pemilih pemula, kecuali Mardiono mampu menggandeng para vote getter yang mampu menjelaskan pentingnya memilih PPP bagi remaja dan anak muda.
Apa pun pilihannya, Mardiono tetap harus melihat Pemilu 2024 sebagai pertaruhan reputasi dirinya sebagai orang nomor satu di PPP.
Jika perolehan suara partai tersebut pada Pemilu 2024 di bawah ambang batas parlemen, sejarah bakal mencatat sebagai ketua umum pertama PPP yang gagal menempatkan wakilnya di DPR RI.
Berita Terkait
-
Mardiono Pastikan PPP Tidak Pecah, Meski ada Pergantian Kepemimpinan Jelang Pemilu 2024
-
Klaim Bersahabat dengan Suharso Manoarfa, Plt Ketum Mardiono Bantah PPP Pecah: Tidak Ada Keributan!
-
Adakan Pertemuan Dengan Suharso, Plt Ketum PPP Mardiono Tegaskan Tak Ada Islah: Islah Itu Kalau Ada Konflik
-
Ajak Suharso Monoarfa Gabung ke Majelis PPP, Mardiono: Beliau Belum Berkenan
-
Jadi Plt Ketua Umum PPP, Mardiono Ajukan Permohonan Untuk Bertemu Jokowi
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
Herman Khaeron Apresiasi KWP Berbagi, Dorong Peningkatan Kegiatan Sosial di DPR RI
-
Kejagung Buka Peluang Tambah Tersangka Korupsi MBG, Nama-Nama Baru Masih Didalami
-
Sempat Dikeluhkan karena Galian Berbahaya, Proyek PAM Jaya di Condet Kini Mulai Alirkan Air Bersih
-
Menanti Nyanyian Sony Sonjaya, Siapa Saja Petinggi di Balik Skandal Korupsi MBG?
-
Tabrak Lari Tewaskan Tokoh Pramuka Tangerang, Polisi Kantongi Identitas Kendaraan
-
Kejagung Sasar Kantor dan Rumah Tersangka Korupsi MBG, Dokumen hingga Barang Bukti Elektronik Disita
-
Bansos Sarung dan Mukena Dikorupsi, Eks Legislator NTB Cuma Dituntut 2 Tahun Bui
-
Moratorium MBG Bikin Investor Menjerit, Jupnas Gizi: Ini Rapor Merah
-
Dijuluki 'Banjir Abadi', Genangan di Joglo Kembangan Akhirnya Ditangani Pemkot Jakbar
-
Babak Baru Korupsi MBG, Asep Yusuf Somantri Punya Tugas 'Spesial' Atur SPPG