Suara.com - Empat dari lima negara Uni Eropa yang berbatasan dengan Rusia mulai menolak masuk wisatawan Rusia pada hari Senin (19/9/2022). Alasannya, bahwa mereka tidak boleh bepergian saat negara mereka (Rusia) tengah berperang dengan Ukraina.
Polandia, Estonia, Latvia dan Lithuania memberlakukan langkah-langkah pembatasan baru tersebut, sementara Finlandia memutuskan untuk tetap membuka pintunya bagi turis Rusia, meski sudah mengurangi jumlah janji temu konsuler bagi pelancong Rusia yang mendaftar visa.
Itu adalah langkah terbaru dari serangkaian sanksi dan langkah lain yang diambil Uni Eropa atau negara anggotanya semenjak Rusia menginvasi Ukraina 24 Februari lalu dalam apa yang disebut Moskow sebagai “operasi militer khusus.”
Uni Eropa telah melarang seluruh penerbangan dari Rusia dan hanya menyisakan jaringan transportasi kereta api dan jalur darat. Bulan ini, UE setuju untuk membatasi penerbitan visa zona Schengen gratis.
Pada hari Minggu (18/9) di Narva, kota perbatasan Estonia dengan lebih dari 90 persen penduduknya berbahasa Rusia, warga Rusia bergegas memasuki wilayah Estonia sebelum larangan masuk itu berlaku.
Peraturan baru yang berlaku mulai Senin itu menyasar para wisatawan, namun mengecualikan warga Rusia yang membangkang pemerintahan Moskow dan mencari perlindungan di Uni Eropa, serta para pengemudi truk, pencari suaka, penduduk tetap negara-negara Uni Eropa, dan mereka yang ingin mengunjungi keluarga mereka.
Kurang dari sepersepuluh dari total 4.000 warga Rusia yang memasuki wilayah Estonia sehari-hari yang kehilangan hak mereka di bawah peraturan baru, menurut pejabat.
Isu mengenai hak bepergian ke Uni Eropa itu telah memecah blok tersebut, dengan beberapa ibu kota di UE, seperti Berlin dan Paris, berargumen bahwa larangan bepergian bagi warga Rusia biasa akan kontraproduktif – sebuah langkah yang disokong Ukraina.
Finlandia, yang perdana menterinya, Sanna Marin, pernah menyatakan bahwa wisatawan Rusia tidak boleh bepergian ke Uni Eropa selama perang, mengatakan bahwa larangan seperti itu dapat bertentangan dengan perjanjian zona Schengen bahwa semua negara menghormati visa yang dikeluarkan oleh negara lain di zona tersebut.
Baca Juga: Viral Pengeroyokan Bule Rusia di Kuta, Ternyata Karena Ini
Perdana Menteri Estonia Kaja Kallas mengungkapkan rasa frustrasinya atas perpecahan di dalam UE. Ia memperingatkan bahwa banyak pelancong Rusia yang sekarang akan menuju perbatasan mereka dengan Finlandia.
Kallas mengatakan kepada Reuters, “Tentu saja ada celah, dan celah itu adalah Finlandia, benar… Larangan ini tidak sepenuhnya efektif apabila Finlandia tidak bergabung, benar, namun ini tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan terkait keamanan, saya rasa dengan menghentikan arus wisatawan di perbatasan, situasi keamanan kami sudah lebih baik ketimbang tidak melakukannya. Dua pertiga wisatawan Rusia memasuki wilayah Eropa melalui Finlandia dan Estonia. Jadi, jelas dengan kami memberlakukan larangan masuk, maka tekanan itu akan dirasakan Finlandia. Saya benar-benar berharap mereka mau bergabung.”
Sementara bagi Mikhail Ivanov, warga Rusia berusia 35 tahun yang berkereta dari St Petersburg di Rusia ke kota Tallinn di Estonia, mengunjungi teman-temannya yang tinggal di Estonia mungkin akan menjadi lebih rumit.
“Saya tetap bisa masuk ke Estonia lewat negara Uni Eropa lain di mana saya masih punya akses, jadi saya tidak melihatnya sebagai masalah besar. Saya sudah mengunjungi Estonia sejak tahun 2008-2009. Teman-teman saya tinggal di sini dan saya sendiri sering mengikuti berbagai ajang olahraga di sini, tapi sekarang saya harus menunggu,” tutur Ivanov.
Sementara itu, Maria Onikina, warga yang bekerja di bidang pemasaran, menyayangkan larangan tersebut. “Sangat disayangkan masalah ini sampai menyentuh masyarakat biasa yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan situasi ini,” keluhnya.
Rusia mengatakan akan membalas pembatasan akses masuk warganya ke wilayah Uni Eropa tersebut, namun mengaku tidak akan menutup diri dari blok itu. (Sumber: VOA)
Berita Terkait
-
Peraturan Uni Eropa Terkait Deforestasi Disebut Untungkan Petani Sawit Indonesia
-
Viral Pengeroyokan Bule Rusia di Kuta, Ternyata Karena Ini
-
Uni Eropa Gelar Pekan Diplomasi Iklim, Anak Muda Diminta Ikut Dalam Aksi Iklim
-
Negara yang Paling Banyak Punya Nuklir, Amerika Nomor Dua
-
Samsung Diyakini Kembali Beroperasi di Rusia Mulai Oktober
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
-
Tsunami Terjadi di Halmahera Barat dan Bitung, Begini Ketinggiannya
Terkini
-
Indonesia WFA, Korea Selatan Pakai Cara Ini Bikin Karyawan Hemat BBM Meski Kerja Full WFO
-
Diplomasi Unik Prabowo di Korea: Hadiah Keris hingga Baju Anjing untuk Presiden Lee Jae Myung
-
Dewan Keamanan PBB Kutuk Keras Insiden yang Menewaskan Tiga Prajurit TNI di Lebanon
-
Ngaku 'Allah Kedua' dan Ancaman Hamil Gaib, Dukun Cabul di Magetan Diringkus Polisi
-
Nuklir Iran Jadi Incaran Trump Lewat Operasi Militer Rahasia Pentagon
-
WALHI Temukan 1.351 Titik Api Karhutla Terdeteksi di Konsesi Perusahaan: Mengapa Terjadi?
-
BMKG Akhiri Peringatan Tsunami Pascagempa Maluku Utara, Ini Data Dampak dan Susulannya
-
Update Repatriasi Jenazah Prajurit TNI, Upacara Pelepasan PBB di Beirut Digelar Hari Ini
-
Krisis Selat Hormuz Makin Panas, Uni Emirat Arab Desak PBB Gunakan Kekuatan Militer Hadapi Blokade
-
'Dua Menit Langsung Meledak', Cerita Mencekam Detik-detik Picu Kebakaran SPBE Cimuning