News / Internasional
Senin, 10 Oktober 2022 | 14:25 WIB
Warga berdoa saat peringatan 19 tahun tragedi bom Bali di Monumen Bom Bali, Badung, Bali, Selasa (12/10/2021). [ANTARA FOTO/Fikri Yusuf]

Saat Angkatan Udara Australia mengirimkan puluhan pasien ke rumah sakit, staf kesehatan berpacu untuk menstabilkan kondisi pasien yang terluka dan memulangkan mereka ke negara bagian masing-masing untuk perawatan lebih lanjut."

"Saya masih ingat berjalan menaiki tanjakan [pesawat] Hercules dan melihat itu penuh dengan tumpukan tandu orang-orang yang terluka parah," kata Dr Brian.

"Korban luka bakar lainnya benar-benar [ditumpuk] tiga di atas tandu militer."

Inovasi untuk atasi luka bakar

Puluhan pasien yang selamat dari bom Bali mengalami luka bakar tingkat tiga yang parah hingga ke lapisan kulit mereka, merusak ujung saraf dan mengancam organ vital lainnya.

Dr Fiona Wood, spesialis luka bakar ternama, bersama dengan timnya di Rumah Sakit Royal Perth, membantu menyelamatkan 28 pasien menggunakan teknik inovatifnya yang dikenal sebagai "spray-on skin".

Teknologi pertama di dunia ini memungkinkan sel-sel kulit sehat untuk dibiakkan dan disemprotkan ke luka sehingga bisa mengurangi bekas luka bakar secara permanen.

"Ini jadi membuka cakrawala kita soal perawatan luka bakar]," kata Dr Wood.

"Masyarakat memahami tingkat keparahan dan sifat dari luka bakar, sehingga dimulailah program yang juga didukung oleh masyarakat."

Dr Fiona dinobatkan sebagai Australian of the Year pada tahun 2005 setelah membantu korban dengan luka bakar.

Baca Juga: Cerita Mantan Polisi Australia yang Membantu Korban Bom Bali 20 Tahun Lalu

Sementara inovasi medis penyelamat nyawa itu hingga kini terus membantu mereka yang mengalami luka bakar.

"Kami sedang mencoba memahami kekuatan rekayasa jaringan dan bagaimana kami dapat menggunakannya untuk menyembuhkan luka bakar," katanya.

Bahkan dengan pengalaman luas dalam menangani luka bakar, Dr Wood mengatakan dia terkejut dengan dampak ledakan bom pada luka di kulit.

"Kompleksitas cedera pasien dari Bali cukup membuka mata," kata Dr Wood.

"Bom Bali telah mengejutkan Australia, karena membuat [dampak] terorisme menjadi dekat dengan kami."

Lahirnya pusat tanggap darurat nasional

Dr Len Notaras, mantan manajer umum Royal Darwin Hospital, mengatakan saat itu timnya menangani cedera yang mengerikan dalam situasi penuh tantangan

"[Ada] luka tusukan, amputasi yang traumatis, segala macam hal mengerikan yang jadi produk perang … tetapi respon dan keberhasilannya harus dibanggakan oleh setiap individu yang terlibat pada hari itu," katanya.

Tantangan untuk mengoordinasikan respons medis yang sangat terampil dan harus dilakukan segera menjadi pendorong didirikannya National Critical Care and Trauma Response Centre Pusat (NCCTRC) yang kini jadi terkemuka di dunia.

"Sebelum [bom] Bali, ada banyak sumber daya yang sangat berbakat di seluruh Australia, tetapi menyatukan semuanya di bawah satu payung dan mampu merespon di bawah satu payung sangatlah penting," kata Dr Notaras.

Sejak didirikan pada tahun 2004, pusat ini telah menjadi bagian penting saat pemerintah Australia menanggapi bencana kemanusiaan, baik di dalam atau luar negeri.

Dari kebakaran hutan, gempa bumi, hingga wabah penyakit, angin topan, dan tumpahan minyak di lautan Asia-Pasifik, tim dari NCCTRC sudah menyelamatkan ribuan nyawa.

"Untuk Indo-Pasifik dan memang, bagi dunia, kedatangan [petugas dengan] kemeja biru dan celana krem [seragam NCCTRC] sudah dihargai sangat signifikan," kata Dr Notaras.

Ronnie, yang dulu ikut merawat korban selamat bom Bali, sekarang menjadi salah satu manajer di NCCTRC.

Ia mengatakan lembaga tersebut sudah banyak berkembang sejak bom Bali.

"Saya pikir sangat penting untuk mengingat bagaimana itu terjadi dan dari mana kita berasal," katanya.

"Saya sangat bangga saat kita menanggapi [korban bom Bali] selama tiga hari itu. Sungguh luar biasa."

Diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporan ABC News

Load More