- Densus 88 menangkap delapan terduga teroris di Poso dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, untuk mencegah regenerasi kelompok radikal.
- Kriminolog Tegar Bimantoro menyatakan bahwa jaringan terorisme memanfaatkan platform digital guna menyebarkan ideologi secara masif dan eksklusif.
- Penegakan hukum perlu didukung strategi pencegahan komprehensif, khususnya pengawasan ketat terhadap aktivitas propaganda di ruang digital masyarakat.
Suara.com - Penangkapan delapan terduga teroris oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di wilayah Poso dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kembali menjadi sorotan.
Langkah tegas ini dinilai tidak terlepas dari rekam jejak panjang terorisme di kawasan tersebut, yang telah bertransformasi dari konflik horizontal menjadi aksi teror terorganisir.
Wilayah pegunungan di Sulawesi Tengah sebelumnya dikenal sebagai basis pelatihan dan gerilya kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
Meski kekuatan kelompok tersebut sempat melemah pasca-serangkaian operasi keamanan, penangkapan terbaru menunjukkan bahwa sel-sel radikalisme masih berupaya melakukan regenerasi.
Menanggapi hal tersebut, Kriminolog, Tegar Bimantoro, menilai munculnya kembali aktivitas terorisme di Poso dipengaruhi oleh faktor eksternal yang cukup dominan.
“Fenomena ini dapat dianalisis melalui teori Differential Association dari Edwin Sutherland, yang menyatakan bahwa perilaku kriminal bukan merupakan bawaan, melainkan dipelajari melalui interaksi sosial,” ujar Tegar, Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, penangkapan delapan terduga teroris menjadi indikasi bahwa “lingkaran komunikasi” kelompok radikal masih aktif.
Menurutnya, kelompok teror memiliki jaringan komunikasi yang eksklusif, yang kini semakin berkembang melalui platform digital.
“Melalui percakapan daring, proses transfer ideologi dan penguatan motivasi terorisme terus berlangsung. Pengaruh lingkungan, baik melalui ikatan primordial maupun jaringan kelompok, kerap lebih kuat dibanding intervensi negara,” ujarnya.
Tegar juga menekankan bahwa penegakan hukum melalui penangkapan saja tidak cukup untuk memberantas terorisme secara menyeluruh.
Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk memutus rantai penyebaran paham radikal.
“Negara harus hadir dengan strategi pencegahan yang adaptif, terutama dalam mengawasi ruang digital yang kini menjadi sarana utama propaganda dan rekrutmen. Tanpa pengawasan yang efektif di ruang privat digital, sel-sel jaringan akan terus menemukan celah untuk tumbuh kembali,” tambahnya.
Berita Terkait
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Sebar Propaganda Lewat Medsos, Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris Jaringan JAD di Sulteng!
-
Gelar Aksi di BPK RI, Massa Desak Audit Investigatif Dugaan Kredit Macet Kalla Group
-
JK Pertimbangkan Lapor Balik Pelapor Kasus Dugaan Penistaan Agama: Mereka Memfitnah Saya!
-
JK Klarifikasi Pernyataan Soal Poso-Ambon: Saya Bicara Realita Sosiologis, Bukan Dogma Agama
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Jakarta Rangkul Konten Kreator untuk Jembatani Informasi Ibu Kota ke Warga
-
Empat Karyawan di Jaksel Sekap Teman Wanita Gara-gara Urusan Kantor, Begini Kronologinya
-
KPK Endus Aliran Duit Haram di Loket Imigrasi Bali, Biro Jasa Mulai 'Bernyanyi'
-
Kapolda Jabar: Taufik Hidayat Sangat Sadis, Harus Dihukum Maksimal 12 Tahun Penjara!
-
Prabowo Hadiri Konvensi Sains, Beri Taklimat di Hadapan 2.600 Akademisi
-
Identik dengan Gajah, Analis Bongkar Alasan Jokowi Pilih Lampung Jadi Target Safari Politik
-
Kedok Game Keluarga! Disney Timezone di Jakarta Ternyata Sarang Judi Beromzet Rp2,1 Miliar Sebulan
-
Guntur Romli Sebut Safari Politik Jokowi Demi Gibran di 2029
-
3 Peserta Latsarmil Meninggal, KSP Dudung: Belum Ada Kelalaian, Mungkin Faktor Penyakit
-
Refocusing MBG Prioritaskan Kelompok Rentan, Ribuan Dapur Terancam Mubazir