Suara.com - Penggunaan gas air mata yang berlebihan oleh polisi diduga kuat menjadi penyebab tragedi Kanjuruhan. Namun Polri menepisnya dan mengklaim paparan gas air mata dalam jumlah banyak tidak berbahaya apalagi mematikan.
Pernyataan ini menambah panjang daftar kritikan publik terhadap korps bhayangkara yang sebelumnya kerap mendapat sentimen negatif, terutama setelah Najwa Shihab meminta masyarakat untuk tidak ditakut-takuti oleh polisi.
Hal inilah yang tampaknya memicu seorang oknum polisi mengunggah reel Instagram yang menjadi bulan-bulanan publik. Pasalnya oknum polisi itu terlihat mengunggah video ketika mereka juga berlatih bertahan dari paparan gas air mata.
Tangkapan layar reel itu terlihat diunggah akun Twitter @txtdrberseragam. Tampak oknum polisi yang telah disensor nama akun Instagram-nya itu menantang Najwa untuk ikut merasakan paparan gas air mata.
"Gas air mata. Kami juga pernah bertahan ngerasain gas air mata itu kok mba @najwashihab, mba mau coba ikutan ngga?" tulisnya, dikutip Suara.com, Kamis (13/10/2022).
Konten ini seolah menjadi pemicu untuk semakin mengecam polisi. Berbagai komentar pedas terlihat memenuhi postingan, apalagi karena polisi di reel tersebut mengenakan perlindungan lengkap hingga berada di ruang terbuka saat terpapar gas air mata.
"Pake helm, pake shield, di ruangan terbuka, ditambah ga kadaluarsa. Apa yang diharapkan dari lulusan halo dek," komentar warganet.
"Iya masuk akal karena rakyat awam punya perisai gede dan gak panikan pas harus kabur di tengah gerombolan massa yang panik dan pintu tribun yang dikunci," sindir warganet.
"Ga keren ah masa full armor," ledek warganet lain.
"Loh kan gas air matanya yang normal yang situ coba, kalo ngga salah gas air mata yang di lempar katanya yang expired, coba dong yang expired," ujar warganet.
"Udah gitu yang difoto itu manusia-manusia berseragam pada pake alat perlindungan... tolol banget bandingin sama yang dikanjuruhan," timpal yang lainnya.
Komnas HAM Tepis Klaim soal Gas Air Mata Tidak Berbahaya
Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada Sabtu (1/10/2022) malam dilaporkan telah menewaskan 132 jiwa, membuatnya menjadi salah satu tragedi pertandingan sepak bola terburuk dalam sejarah.
Publik menduga kuat tembakan gas air mata adalah penyebabnya, tetapi polisi membantah hal tersebut. Pernyataan Polri ini yang kemudian ditepis pula oleh Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara.
"Sebenarnya begini, kalau kita bicara soal hasil laboratorium itu kan bukan hanya sekadar kandungan kimianya, tapi analisanya terhadap kesehatan. Itu kami menunggu dari hasil uji laboratorium," kata Beka di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Rabu (12/10/2022).
Apalagi karena kemudian ditemukan banyak korban yang meninggal dengan wajah membiru, mengeluarkan busa, bahkan kejang-kejang.
Sementara untuk mereka para penyintas banyak yang mengalami mata merah hingga cokelat. Korban juga sampai tidak bisa melihat selama beberapa hari setelah kejadian nahas tersebut.
Berita Terkait
-
LPSK Sebut Ambulans yang Membawa Korban Saat Tragedi Kanjuruhan Juga Jadi Sasaran Gas Air Mata Aparat
-
LPSK Ungkap Fakta, Tidak Ada Larangan Polisi Tembakkan Gas Air Mata: Kapolres Malang Tidak Mengetahui Aturan FIFA
-
Kronologis Ancaman Shin Tae-yong Mundur dari Pelatih Timnas Indonesia
-
Najwa Shihab Buka Suara! Tanggapi Nyinyiran dari Nikita Mirzani: Drama Tidak Penting!
-
Bahas Tragedi Kanjuruhan, Najwa Shihab Sebut PSSI Sudah Hilang Rasa Malu dan Miskin Empati
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Digerebek Lagi, Dua Kilang Minyak Ilegal di Muba Terbongkar, Pemiliknya Masih Buron
-
Dorong Ciwidey Naik Kelas, Legislator NasDem Ini Ingin Warga Manfaatkan Jabatannya di Komisi IV DPR
-
Walk Out dari Paripurna, Pengamat Nilai Keliru Jika Sebut Bobby Nasution Arogan
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
Geger Spanduk 'Tangkap Jokowi' Bertebaran di Lebak Jelang Kunjungan ke Banten
-
Karhutla Sumsel Terus Meluas, Mengapa Muba dan Ogan Ilir Jadi Titik Terparah?
-
Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan
-
Dakwaan Dibatalkan Hakim, Jaksa Kembali Limpahkan Perkara dr Tifa ke PN Jakarta Timur
-
HKBP Perkuat Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan
-
Resmi Dihibahkan ke Pemprov Jabar, Teras Cihampelas Bandung Bakal Dibongkar Total