Suara.com - Pengamat politik sekaligus akademisi Ade Armando menyebut PDI Perjuangan terlalu memaksakan diri jika ngotot mengusung Puan Maharani.
Hal ini dinyatakan oleh Ade dalam perbincangan di Zulfan Lindan Unpacking Indonesia.
Menurut Ade Armando, Puan memiliki elektabilitas yang rendah sehingga mengajukannya malah membuat PDIP bunuh diri.
"Menurut saya agak bunuh diri kalau PDIP memajukan Puan di nomor satu, paling enggak nomor dua lah," imbuhnya.
Ade juga menyebutkan bahwa di berbagai survei, suara elektabilitas Puan tak pernah meningkat.
"Artinya kalau angka Puan terus menerus di bawah dan di bawahnya itu sangat di bawah loh bukan di tengah itu artinya bukan lagi subjektfitas tapi mendekati obkektifitas," kata Ade.
"Kalau ada hanya taruhlah lima persen orang di Indonesia yang menganggap Puan punya kemampuan memimpin, dan persyaratan menjadi pemimpin adalah kapasistas peromance, kinerja, dan seterusnya mereka enggak menganggap dimiliki Puan, maka saya rasa pdip terlalu ngotot untuk memajukan Puan," imbuhnya.
Ade menyebutkan jika masyarakat saja sudah tidak melihat kinerja dan sosok Puan, maka PDIP yang ngotot tetap mengusung putri Megawati itu terlalu memaksakan diri.
Puan Populer Tapi Elektabilitas Tak Moncer
Baca Juga: Puan Maharani Panen Kritik Usai Nyekar di Itaewon, Warganet Sarankan Ikut 40 Harian ke Kanjuruhan
Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menyebutkan bahwa Puan Maharani memiliki popularitas tinggi di tengah masyarakat.
"Puan sebetulnya populer dalam pengertian dikenal, tapi yang bermasalah di Puan itu tingkat penerimaan publiknya," ujar Saidiman Ahmad.
"Dia sekarang sudah dikenal 70 persen, hampir sama dengan Ganjar. Yang kenal [Puan] 70 persen tapi yang suka dan kenal [hanya] 40 persen, jadi setengahnya resisten," tambahnya.
Jika dibandingkan dengan Ganjar, popularitas dan penerimaan publik Puan berbanding terbalik.
Ganjar sendiri dikenal 74 persen tapi tingkat penerimaannya tinggi yakni sampai 88 persen. Sama halnya dengan Ganjar, Anies popularitas pengenalan mencapai 86 persen dengan tingkat penerimaan publik 76 persen.
"Mereka [Ganjar dan Anies] sebagaian yang kenal itu suka, kan yang memilih suka dulu," imbuhnya lagi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Siapkan Dana Haji Lebih Terstruktur, BNI Andalkan Fitur Life Goals di wondr
-
Viral Pemotor di Cikarang Tabrak Penyapu, Pura-pura Menolong Lalu Kabur Sambil Buang Sandal Korban!
-
TB Hasanuddin: Kritik Pemerintah Bukan Ekstremisme, Perpres 8/2026 Rawan Multitafsir
-
Siasat Licin Kiai AS Hindari Polisi, Kabur ke Wonogiri Naik Travel Demi Tak Terlacak
-
Soal Homeless Media jadi Mitra Bakom, Indonesia New Media Forum Buka Suara
-
Kapolri Minta Jajaran Polri Perkuat Sinergi dengan APH Hadapi Dinamika Global
-
Viral Aksi Bejat Pria Rekam Rok Penumpang dari Kolong Peron Stasiun Kebayoran, Polisi Buru Pelaku
-
Cari Keadilan! Keluarga Korban Kekerasan TNI Serahkan Kesimpulan Gugatan UU Peradilan Militer ke MK
-
Orang Dekat Bobby Nasution Diperiksa KPK dalam Kasus Dugaan Suap Proyek PUPR Sumut
-
Kemendagri Perluas Pemanfaatan IKD, Ratusan Ribu Warga Akses Layanan Tanpa Fotokopi KTP