Di mana lokasi perumahan yang ditempati empat orang ternyata adalah perumahan elite.
Menurutnya, dugaan kelaparan jauh kemungkinan dari penyebab kematian satu keluarga itu mengingat kediaman yang terletak di perumahan elit Kalideres.
"Tapi bukan berarti yang bersangkutan tidak memiliki pangan. Karena tetangganya jualan dan rumahnya juga kita lihat seperti ini ya," katanya kepada awak media di lokasi, Jakarta, Sabtu (12/11/2022).
Yani menuturkan dugaan tersebut muncul di publik usai pihak Dokter Forensik Polri mendapatkan adanya lambung yang sudah tak memiliki zat makan saat otopsi berlangsung.
Diduga Ada Yang Coba Menutup-nutupi
Wali Kota Jakarta Barat Yani Wahyu Purwoko bahkan menduga salah satu anggota keluarga yang tewas di Kalideres, Jakarta Barat, ada yang mencoba menutup-nutupi kematian korban lainnya dengan menaburi kapur barus.
Yani menyebutkan keempat korban tersebut tidak meninggal dunia pada saat yang bersamaan.
"Bapaknya meninggal disikapi dengan hanya ditaburi kapur barus. Kemudian, berikutnya yang meninggal adalah ibunya, itu juga disikapi seperti itu," kata Yani saat ditemui di tempat kejadian perkara (TKP), Sabtu (12/11).
Dalam kesempatan yang sama, Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar mengatakan kapur barus berfungsi untuk menyerap bau.
Baca Juga: Berjarak 5 Kilometer Dari Istana, Satu Keluarga Tewas Diduga Kelaparan, Jokowi ke Mana?
"Kapur barus kan ada ditemukan di TKP, dokter forensik mengatakan bahwa kapur barus bisa menyerap bau," kata Syafri.
Keanehan Di Bulan September
Fakta baru juga terungkap jauh hari sebelum keempat orang itu ditemukan tewas. Ternyata, korban tewas di rumah Kalideres itu sempat melarang Juru Pemantau Jentik atau Jumantik masuk ke dalam rumah pada September lalu.
"Pada September petugas Jumantik ingin cek keadaan rumah, petugas Jumantik tidak boleh masuk," kata Kapolsek Kalideres AKP Syarfri Wasdar kepada wartawan, Sabtu kemarin.
Hal itu juga dikuatkan oleh keterangan Ketua RT di lokasi yakni RT 015/RW 7 Kalideres, Asiung. Kata dia, pada September lalu, keluarga korban melarang petugas Jumantik masuk ke dalam rumah.
"Keluarga hanya memberikan laporan kepada petugas Jumantik melalui foto," katanya.
Tim Kombes Hengki Haryadi Turun Tangan
Tak hanya Polres Metro Jakarta Barat, Polda Metro Jaya turun langsung menyelidiki kasus tewasnya empat orang satu keluarga ini.
Secara induktif, Polda Metro menyebut saat ini olah TKP sudah dilaksanakan, sembari pihaknya menunggu hasil dari kedokteran forensik maupun laboratorium forensik, yakni toksikologi dan histopatologi ihwal kematian korban secara akurat.
"Saat ini, ditreskrimum PMJ backup Polres Jakarta Barat dalam penyelidikan kasus ini," ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/11).
Tak Ada Darah Atau Kekerasan
Yang makin membuat tanda tanya besar adalah, tak ada tanda kekerasan atau darah di tubuh para korban.
Anehnya lagi, kondisi rumah, atau barang-barang di dalam rumah masih tersusun rapi. Tak ada tanda-tanda pencurian atau tanda kriminal lainnya.
Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar mengatakan, keempat jasad itu juga sudah membusuk dan diduga telah tewas lebih dari satu pekan.
"Tidak ditemukan tanda kekerasan. Untuk jenazah membusuk ini karena sudah lebih dari satu minggu," kata Syafri.
Tag
Berita Terkait
-
Berjarak 5 Kilometer Dari Istana, Satu Keluarga Tewas Diduga Kelaparan, Jokowi ke Mana?
-
Tak Ada Darah Dan Kekerasan, Barang-barang Di Rumah Rapi, Apa Sebenarnya Penyebab Kematian Sekeluarga Di Kalideres?
-
Penuh Misteri, 3 Temuan Benda Aneh Dekat Jasad Satu Keluarga Tewas di Kalideres
-
Satu Keluarga Tewas di Kalideres Diduga Kelaparan, Wali Kota Jakbar: Dugaannya Mereka Antisosial
-
Terpopuler: Satu Keluarga Tewas di Kalideres Tidak Meninggal Bersamaan, Aturan Baru Konser Musik di Jakarta
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Kisah BGS: Merdeka dari Balik Jeruji, Bawa 'Ilmu' Ternak Ayam dari Penjara untuk Mulai Hidup Baru
-
Diskon di Miniso Karawaci Khusus HUT RI ke-81 dari BRI, Ini Cara Klaimnya
-
Jemuran Bikin Resah, 27 Pakaian Dalam Warga Tuban Raib Dicuri
-
Bukan Sekadar Lomba, Pesta Rakyat Trindo Residence Jadi Modal Sosial Kekompakan Warga
-
Tagih Pesangon dan THR, Eks Karyawan PT Sritex Upacara Bendera di Depan Pabrik
-
Tawa dan Harapan di Balik Tembok Tinggi: Potret Kemeriahan HUT ke-81 RI di Lapas Salemba
-
Replika Gajah Raksasa Semarakkan Karnaval HUT ke-81 RI di Kota Banjar
-
Buku Gramedia Diskon 25 Persen Pakai BRI, Ini Syaratnya
-
IHSG Bisa Kembali Terbang Besok, Saham-saham Ini Bisa Dilirik
-
Unjuk Rasa hingga Saling Dorong,Mahasiswa Papua Sebut Kolonialisme Masih Tumbuh