News / Nasional
Kamis, 02 Februari 2023 | 11:24 WIB
InaTEWS buoy yang ditempatkan di Perairan Gunung Anak Krakatau pada 2019 silam. [Sumber: bppt.go.id]

Dengan menggunakan Decision Support System (DSS), InaTEWS mampu mengolah informasi dari sistem pemantauan darat dan laut tentang resiko tsunami setelah gempa. Setelah data itu diverifikasi, peringatan dini tsunami dapat dikeluarkan oleh BMKG.

BMKG hanya perlu waktu lima menit untuk mengeluarkan peringatan dini ancaman tsunami. Hal itulah yang membuat BMKG mengeluarkan status "awas", "siaga", dan "waspada".

Sejarah InaTEWS

InaTEWS diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melindungi masyarakat Indonesia dari tsunami. SBY meresmikan Tsunami Early Warning System (TEWS) pada 11 November 2008. 

TEWS diciptakan usai Aceh dihantam gempa dan tsunami paling mematikan pada tahun 2004 yang menewaskan lebih dari 200 ratus ribu orang. Setahun setelah itu, Indonesia mencanangkan InaTEWS pada pertengahan 2005. 

InaTEWS adalah proyek nasional yang dikoordinasi langsung oleh Kementerian Riset dan Teknologi dengan menggandeng beberapa lembaga seperti BMKG, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Kontributor : Trias Rohmadoni

Load More