Suara.com - Pecahnya pertempuran antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut. Kabar terbaru, ditemukan fakta sekelompok pasukan Rusia tolak perang. Jelas hal ini mendapat tanggapan beragam, dan bahkan tindakan tegas dari pemerintah Negeri Beruang Merah tersebut.
Penolakan sebenarnya sudah terjadi sejak akhir tahun lalu, ketika pemerintah Rusia memerintahkan mobilisasi pasukan ke area Ukraina untuk berperang. Hal ini memicu eksodus warga laki-laki Rusia ke berbagai negara tetangga, sebagai bentuk penolakan atas kebijakan pemerintah ini.
Fakta sekelompok pasukan Rusia tolak perang bisa Anda lihat di sini.
1. Mobilisasi 300.000 Orang
Hal ini bermula pada kebijakan mobilisasi sebanyak 300.000 orang pada akhir September 2022 lalu. Mobilisasi ini dilakukan setelah Rusia menderita kekalahan medan perang di tangan Ukraina, sehingga memicu eksodus penduduk laki-laki Rusia ke negara tetangga.
Eksodus ini dilakukan sebagai bentuk protes atas kebijakan tersebut, dan penentangan rakyat Rusia atas kebijakan yang diambil.
2. Marsel Kandarov, Pertama Dihukum Penjara
Penolakan juga datang dari tentara muda Rusia, dengan nama Marsel Kandarov yang berusia 24 tahun. Ia menolak berperang di Ukraina karena tidak ingin ikut serta dalam operasi militer khusus, tidak melapor untuk bertugas pada Mei 2022, dan akan diadili.
Pada akhirnya, tentara tersebut dijatuhi hukuman 5 tahun penjara akibat penolakannya tersebut.
Baca Juga: WNA Suriah Dan Ukraina di Bali Punya KTP Dan Sedang Proses Urus NPWP
3. Video Penolakan Perang
Belakangan muncul video yang menunjukkan sepasukan tentara Rusia membangkang dan menolak untuk mengikuti perintah berperang dari milisi. Video ini beredar di internet, dan menampilkan tentara Rusia dengan pemimpin di depan membacakan alasan penolakan untuk bertempur.
Hal ini didasarkan pada kerugian yang diderita peleton mereka, yang berada di kota Shabekino. Mereka kemudian dikirim ke Donetsk, dan digabungkan dengan milisi Republik Rakyat Donetsk yang memproklamirkan diri.
4. TIdak Ada Pemberitahuan Penggabungan
Sekelompok tentara ini juga tidak mendapatkan pemberitahuan akan diadakannya penggabungan pasukan oleh milisi dari Donetsk.
Terlebih, pasukan ini kemudian juga mendapatkan perintah dari milisi tersebut, dan bukan dari militer Rusia. Hal ini dianggap tidak sesuai dengan prinsip yang mereka miliki.
Berita Terkait
-
Tentara Bayaran Mana Paling Brutal? Rusia Wagner Group atau Amerika Blackwater
-
Dua Bule di Bali Miliki KTP Ilegal, Ganti Nama Jadi Agung dan Nur Rudi
-
WNA Bikin Rusuh di Bali Siap-siap Dideportasi
-
Bule Rusia Bentak Polisi dan Tak Mau Taat Aturan Lalu Lintas, Publik Geram: Usir Saja!
-
WNA Suriah Dan Ukraina di Bali Punya KTP Dan Sedang Proses Urus NPWP
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Tragis! ILRC Temukan 20 Kasus Femisida di 2025, Korban Banyak Dibunuh Pasangan
-
Bareskrim Gerebek Markas Judi Online Internasional di Hayam Wuruk, 321 WNA Ditangkap
-
Prabowo Tinjau Kampung Nelayan Merah Putih di Gorontalo, Sapa Warga dari Atas Maung
-
Mau Penghasilan Pencari Ikan Meningkat, Prabowo Targetkan 1.386 Ribu Kampung Nelayan Tahun Ini
-
Bakar Semangat Mahasiswa UI, Afi Kalla: Industri Besar Mulai dari Garasi
-
Markas Judi Online Lintas Negara di Hayam Wuruk Digerebek, Polisi Sita Banyak Barang Bukti
-
Prabowo Tiba di Gorontalo, Langsung Tinjau Kampung Nelayan Leato Selatan
-
ILRC Ungkap Femisida Banyak Terjadi di Ruang Privat, Pelaku Bisa Pasangan hingga Keluarga
-
KPK Bantah Open Donasi Anak Yatim, Poster Berlogo Lembaga Disebar ke Grup WhatsApp
-
Berkunjung ke Miangas, Prabowo Beri Bantuan Kapal Ikan, Starlink hingga Handphone