Suara.com - Jelang tahun politik, kinerja pemerintahan era Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih terus dibanding-bandingkan. Pasalnya, mereka merupakan pemimpin Indonesia yang sama-sama mengemban tugas untuk dua periode.
SBY menjadi presiden RI selama 2004-2014, sedangkan Jokowi melanjutkannya hingga 2024 mendatang. Adapun kinerja yang dibandingkan, yakni soal utang, pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, serta pengangguran di Indonesia. Mana yang lebih unggul?
Utang
Dalam kepemimpinan Presiden Jokowi selama dua periode, yakni pada 2014-2022, utang negara meningkat hingga 189,6%. Nominalnya bahkan bertambah, di mana sampai akhir Maret 2023, sudah mencapai Rp7,87 triliun. Hal ini dibilang sangat tinggi jika dibandingkan dengan era SBY.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini, menyebut, pada akhir masa pemerintahan SBY, utang yang perlu diwariskan ke Jokowi sebesar Rp2,60 triliun. Sementara jelang berakhirnya era Jokowi sebanyak Rp7,55 trilun.
Data tersebut diperoleh per November 2022. Namun, apabila ditelaah, utang di masa kepemimpinan Jokowi bertambah besar karena adanya pandemi Covid-19. Saat itu, pemerintah meminjam Rp1.686 triliun dengan Perppu No. 1 Tahun 2020.
Pertumbuhan Ekonomi
Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia memang terus meningkat setiap tahunnya. Meski begitu, laju pertumbuhan ekonomi pada era pemerintahan Presiden Jokowi bisa dibilang bergerak lebih lambat ketimbang saat Presiden SBY.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDB per kapita Indonesia tahun 2022 mencapai Rp71 juta. Angka ini naik sebesar 69% selama delapan tahun di era Presiden Jokowi. Meski begitu, totalnya masih kalah jauh dari periode Presiden SBY yang naik sekitar 234%.
Baca Juga: Farhat Abbas Sentil Wali Kota Solo: Ingatkan Soal Nasib Layang-layang Putus Talinya Bakal Jatuh
Kenaikan PDB per kapita era Presiden Jokowi tidak setinggi saat Presiden SBY karena pertumbuhan ekonominya yang juga lebih lambat. Terlebih saat pandemi Covid-19. Tercatat rata-rata laju pertumbuhan ekonomi dua periode SBY hampir mencapai 6%, sedangkan di era Jokowi hanya 4,01%.
Angka Kemiskinan
Menurut data terakhir BPS, angka kemiskinan di Indonesia per September 2022 sebesar 9,57% atau sebanyak 26,36 juta orang. Apabila dibandingkan saat Jokowi mulai menjabat sebagai presiden, angkanya ini telah mengalami penurunan.
Kenaikan sempat terjadi ketika ada pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Sementara itu, di tahun terakhir era Presiden SBY atau per September 2014, angka kemiskinan mencapai 10,96% atau 27,73 juta orang. Dengan kata lain, tiap tahunnya hingga kini, total warga miskin terus berkurang.
Pengangguran
Berdasarkan data yang diperoleh, angka pengangguran di awal kepemimpinan SBY mencapai 9,86%. Lalu, persentase ini menurun sebanyak 3,73% pada jelang akhir pemerintahannya. Berbeda dengan era Jokowi, yang justru bertambah.
Di awal kepemimpinan Jokowi, angka pengangguran mencapai 5,94%. Kemudian, meningkat sebanyak 0,22% hingga menjadi 6,16% pada tahun 2022. Kenaikan ini disebut-sebut karena banyaknya perusahaan yang mengalami kerugian dan memutuskan melakukan PHK.
Kontributor : Xandra Junia Indriasti
Berita Terkait
-
Farhat Abbas Sentil Wali Kota Solo: Ingatkan Soal Nasib Layang-layang Putus Talinya Bakal Jatuh
-
Kritik Telak Farhat Abbas Jelang 2024: Minta Gibran Nikmati Kekuasaan Sesuka Hati, Jokowi Jangan jadi Timses Capres!
-
Farhat Abbas Singgung Presiden Jokowi Agar Tak Berpihak ke Gibran Rakabuming di Pemilu 2024
-
Minta Jokowi Netral, Farhat Abbas Sentil Gibran Rakabuming: Nikmati Kekuasaan Sesuka Hati, Layang-layang Lagi di Atas!
-
Farhat Abbas Senggol Gibran Rakabuming Soal Masa Jabatan Presiden: Ayo Mas Wali Nikmati Kekuasaan Sesuka Hati
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
KAI Genjot Perbaikan Perlintasan Sebidang, 145 Titik Prioritas Rampung Dibenahi
-
Waspada Vampir Oli pada Motor Bekas, Kenali Ciri dan Cara Deteksinya sebelum Membeli
-
Apakah Aman Menyimpan Skincare dan Makanan dalam Satu Kulkas Mini?
-
Pabrik BYD di Subang Diresmikan Pekan Depan
-
Bukan Minta Maaf, Pelaku Begal Payudara di Bangkalan Malah Bacok Suami Korban
-
Sebelum Remaster Rilis, Toy Story 3 Akan Dihapus dari Xbox
-
Usut Sumber Limbah Kali Jantung, DLHK Depok Gandeng Wilayah Tempuh Jalur Hukum
-
Brimob Sterilisasi JIS dari Tribun Sampai Ruang Ganti Jelang Duel Persija vs Brisbane Roar
-
KPK Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa di Disdik Bogor
-
Utang Kereta Cepat Dialihkan ke Kemenkeu pada 15 September