Tahun 1991, Prabowo memegang jabatan sebagai Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 yang bermarkas di Cijantung. Dua tahun berselang, Prabowo kembali ke pasukan Khusus, di mana sekarang bernama Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.
Ia kemudian diangkat menjadi Komandan Grup 3/Sandi Yudha, yaitu salah satu Komando kontra-insurjensi Kopassus.
Seterusnya, Prabowo menduduki jabatan sebagai wakil komandan komando di bawah kepemimpinan Brigadir Jenderal Agum Gumelar dan Brigadir Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo.
Prabowo akhirnya diangkat sebagai komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat Mayor Jenderal pada Desember 1995. Salah satu tugas besarnya adalah operasi pembebasan sandera Mapenduma.
Pada tahun 1998, Prabowo lagi-lagi naik pangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis AD dengan jabatan yang pernah disandang ayah mertuanya.
Prabowo juga pernah ditugaskan sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI di Bandung untuk menggantikan Letnan Jenderal Arie J. Kumaat. Namun, Prabowo harus mengakhiri karier di dunia militer dengan buruk karena diberhentikan secara hormat.
Sosoknya akhirnya mulai berkecimprung di dunia politik dengan membentuk Partai Gerindra. Bahkan, Prabowo sudah dua kali resmi memajukan diri sebagai capres, yakni pada Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, di mana keduanya kalah melawan Jokowi.
Pendidikan Prabowo Subianto
Masa kecil Prabowo banyak dihabiskan di luar negeri. Terlebih setelah sang ayah mempunyai keterlibatan dalam menentang pemerintah Presiden Soekarno di dalam Pemerintah Revolusioner RI di Sumatera Barat.
Baca Juga: Nyatakan Dukung Prabowo, Demokrat Resmi Gabung Koalisi Indonesia Maju
Prabowo berhasil menyelesaikan pendidikan menengahnya di Victoria Institution di Kuala Lumpur, Malaysia. Prabowo kemudian melanjutkan pendidikannya ke Zurich International School di Swiss, lalu ke The American School di London, Inggris.
Setelah itu, Prabowo kembali ke Indonesia dan masuk ke Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah.
Catatan Hitam Prabowo Subianto
Prabowo diketahui pernah juga menuliskan catatan hitamnya. Ia dikabarkan pernah memerintahkan Kopassus untuk menghilangkan paksa sejumlah aktivis pada 1998, serta memicu adanya perpecahan di tubuh militer.
Dalam arsip pada tanggal 7 Mei 1998, mengungkap catatan staf Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengenai nasib para aktivis yang tiba-tiba menghilang.
Catatan itu memuat tulisan bahwa para aktivis yang menghilang bisa jadi ditahan di fasilitas Kopassus di jalan lama yang menghubungkan Jakarta dan Bogor.
Masyarakat pun terheran-heran terkait dengan dalang di balik aksi penghilangkan itu. Terlebih hasil percakapan seorang staf politik Kedutaan Besar AS di Jakarta dengan seorang pemimpin organisasi mahasiswa memunculkan nama Prabowo Subianto.
Narasumber tersebut mengaku mendapatkan informasi dari Kopassus bahwa penghilangan paksa dilakukan oleh Grup 4 Kopassus. Informasi itu juga menyebut bahwa terjadi konflik di antara divisi Kopassus bahwa Grup 4 masih dikendalikan oleh Prabowo.
Sementara itu, pada masa kampanye Pilpres 2014, Prabowo berulangkali menegaskan bahwa dirinya tidak bersalah pada saat rangkaian Peristiwa 1998. Ia juga menegaskan dirinya hanya menjalankan perintah dari atasan.
Kontributor : Syifa Khoerunnisa
Berita Terkait
-
Nyatakan Dukung Prabowo, Demokrat Resmi Gabung Koalisi Indonesia Maju
-
Beda Jejak Militer Prabowo vs SBY: Bak Langit dan Bumi, Kini Bersatu di Koalisi Indonesia Maju
-
Usai Pertemuan Di Hambalang, Gerindra Minta Demokrat Umumkan Resmi Dukung Prabowo
-
Iring-iring Mobil SBY dan AHY Tinggalkan Kediaman Prabowo Usai Pertemuan Tertutup 2 Jam Lebih
-
Waketum PAN: Demokrat Resmi Beri Dukungan ke Prabowo Subianto
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Indonesia-Belarus Sepakati 7 MoU dan Roadmap Kerja Sama hingga 2030
-
80 Tahun Polri: Reformasi Dinilai Jalan di Tempat, Pergantian Kapolri Dianggap Mendesak
-
Sekolah Rakyat Permanen Sukoharjo Hampir Rampung, Siap Beroperasi 14 Juli
-
Tri Tito Karnavian Berharap Produk Kerajinan Indonesia Tembus Pasar Global di HUT ke-46 Dekranas
-
Terjerat Korupsi MBG, Begini Nasib Brigjen Lalu di Polri!
-
Kolaborasi Perkuat Layanan Jantung Anak di RSUD Tobelo
-
Prabowo Berencana Terbang ke Belarus untuk Kunjungan Balasan
-
Wamensos Tinjau Sekolah Rakyat Permanen di Kulon Progo, Progres Pembangunan Capai 91 Persen
-
Telkom Akses Tingkatkan Kompetensi SDM Digital di Wilayah 3T melalui Program CSR Fiber Academy
-
Jelang Muktamar NU, Gus Irfan Minta Tak Ada Money Politics dan Campur Tangan Parpol