Suara.com - Akademisi ramai-ramai menyampaikan petisi secara terbuka yang mengkritik Presiden Jokowi, karena dianggap melakukan penyimpangan kekuasaan menjelang Pilpres 2024.
Terbaru, Jumat (2/2/2024), civitas academica Universitas Indonesia (UI) mengeluarkan petisi yang menyatakan terdapat indikasi demokrasi yang terkoyak.
Dalam petisinya, mereka menyebut "Negeri kami tampak kehilangan kemudi akibat kecurangan dalam perebutan kuasa, nihil etika, menggerus keluhuran budaya serta kesejatian bangsa."
Awalnya, petisi terhadap Presiden Jokowi dilancarkan sejumlah civitas academica Univesitas Gadjah Mada atau UGM Yogyakarta.
Dalam kritik yang disebut sebagai 'Petisi Bulaksumur' tersebut, para ilmuwan mengkritik Presiden Jokowi yang dianggap melakukan sejumlah tindakan menyimpang dari prinsip demokrasi, kerakyatan serta keadilan sosial.
Setelah UGM, civitas academica Universitas Islam Indonesia (UII) mempetisi Jokowi. mereka menilai terdapat kemunduran demokrasi melalui tingkah lalu serta kebijakan Presiden Jokowi menjelang Pilpres 2024.
Tak hanya itu, mereka juga menyebut adanya gejala pudarnya sikap kenegarawanan Jokowi. Indikatornya adalah putra sulung Jokowi, yakni Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden setelah ada putusan Mahkamah Konstitusi No. 90/PUU-XXI/2023 yang kontroversial.
Menanggapi hal tersebut, Jokowi menyebut semua petisi dari kalangan akademisi itu adalah hal biasa dalam negeri demokratis.
"Ya, itu hak demokrasi, setiap orang boleh berbicara, berpendapat, silakan," kata Jokowi seusai acara pembukaan Kongres XVI GP Ansor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat.
Baca Juga: Sederet Pejabat Ini Dekat dengan Raffi Ahmad: Ada Johnny G Plate sampai Rafael Alun
Sementara pihak istana yang diwakili Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana, menegaskan kebebasan untuk menyampaikan pendapat, seruan, petisi, maupun kritik harus dihormati.
Namun, Ari menyebut pihak istana merasakan gelagat pembuatan narasi politik untuk kepentingan pemilu maupun pilpres.
"Akhir-akhir ini, terlihat ada upaya yang sengaja mengorkestrasi narasi politik tertentu untuk kepentingan elektoral. Strategi politik partisan seperti itu juga sah-sah saja dalam ruang kontestasi politik. Namun, ada baiknya kontestasi politik, termasuk dalam pertarungan opini, dibangun dalam kultur dialog yang substantif dan perdebatan yang sehat," tutur Ari Dwipayana.
Berita Terkait
-
Sederet Pejabat Ini Dekat dengan Raffi Ahmad: Ada Johnny G Plate sampai Rafael Alun
-
Soroti Aksi Sejumlah Civitas Akademika di Jogja Kritik Jokowi, Sri Sultan HB X: Kampus Tak Perlu Takut
-
Viral Presiden Jokowi Menginap di Hotel Bintang 2 yang Sederhana Saat Kunjungan ke Wonogiri, Berapa Harga Permalamnya?
-
Ungkit Etika saat Mundur, Sikap Mahfud MD Bisa Ditiru Menteri Lain di Kabinet Jokowi? Apa Penyebabnya?
-
Jokowi Bantah PDIP soal Menteri Tak Nyaman: Tak Perlu Dibesar-besarkan
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Pengendara Motor Tewas di Koridor 9 Slipi, Manajemen Transjakarta Pastikan Kecelakaan Tunggal
-
Mendagri Tegaskan Realisasi Program Perumahan Rakyat Akan Dorong Kemajuan Daerah
-
Hakim Siap Jemput Bola! Andrie Yunus Absen Sidang Demi Operasi Cangkok Kulit Akibat Air Keras
-
Misteri Hilangnya Pebisnis Berakhir Horor, Polisi Temukan Jasad dalam Perut Buaya Raksasa
-
Singapura Wacanakan Hukuman Cambuk untuk Siswa Pelaku Perundungan, Tuai Pro dan Kontra
-
KPK: ASN Cilacap Sampai Harus Ngutang demi Setor Uang Rp10 Juta ke Bupati Syamsul Auliya
-
Ekonomi Dunia Terancam 'Kiamat', Donald Trump Mulai Keder Hadapi Ketangguhan Iran di Selat Hormuz
-
Sidang Perdana Korupsi Bea Cukai: Bos Blueray Cargo John Field Hadapi Pembacaan Dakwaan
-
Mendagri: Program Tiga Juta Rumah Wujud Kepedulian Presiden kepada "Rakyat Kecil"
-
Mendagri: Program 3 Juta Rumah Percepat Akses Hunian Layak bagi Masyarakat Kurang Mampu