Suara.com - Guru besar Universitas Islam Negeri atau UIN Syarif Hidayatullah atau yang kerap disebut UIN Jakarta di Ciputat, Kota Tangsel ramai-ramai mendesak Presiden Joko Widodo tak lagi cawe-cawe dan tidak berpihak pada salah satu pasangan calon Presiden dan wakil presiden.
Para Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu bahkan mengingatkan, adanya potensi gerakan 98 akan terulang jika integritas Presiden dan aparat negara tak memuaskan rakyat.
Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Saiful Mujani mengatakan, saat ini sumber disintergritas demokrasi berada pada Presiden.
"Sumber disintegritas itu salah satu sumber utamanya adalah Presiden. Oleh karena itu, Presiden harus dinetralkan oleh cawe-cawe politik partisan. Kita berharap itu dipahami dan didengarkan oleh Presiden karena akan menciptakan suasana berbahaya," kata Saiful usai deklarasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa, 5 Februari 2024.
Guru besar FISIP UIN Jakarta itu menuturkan, jika tidak ada perbaikan integritas dari presiden dam aparat negara pada Pemilu 2024, dia mengisyaratkan adanya gerakan dari masyarakat.
"Saya percaya berbagai komponen bangsa akan terus bergerak untuk menyelematkan bangsa ini, demokrasi negara kita yang sudah diperjuangkan nyawa, air mata dan pengorbanan begitu besar pada 98," tutur Saiful.
Soal cawe-cawe politik, Saiful lalu mencontohkan dengan mantan Presiden terdahulu dan membandingkan dengan presiden saat ini. Menurutnya, banyak mantan Presiden yang menjadi contoh baik menjaga integritas dalam Pemilu.
"Kita punya contoh pemimpin yang sangat baik. Pak Habibi punya kesempatan tapi tidak memaksakan diri untuk jadi Presiden. Kemudian ibu mega, incumbent waktu itu. Mega tidak ada cawe-cawe partisan politik. Pak Jokowi sekarang bukan incumbent, harusnya enak dia bebas memilih," papar Saiful.
Hal senada juga diungkapkan oleh Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Yati Andriyani. Menurutnya, gerakan besar seperti saat reformasi 98 berpotensi terulang.
Menurutnya, pemerintah dan aparat negara jangan memandang gerakan Civitas dan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini sebagai aksi partisan. Gerakan yang dinamai 'Seruan Ciputat' itu disebut sebagai gerakan murni.
"Harusnya pemerintah tidak menyebut ini sekadar partisan, kepentingan elektoral, tapi ini sebuah aktivitas gerakan murni dari landasan moral dan etik atas kecintaan kepada bangsa ini. Agar situasi-situasi kekerasan, situasi chaos tragedi 98 itu tidak terjadi lagi," papar Yati.
Yati yang juga aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan menegaskan, pihaknya akan terus menyerukan kepada masyarakt agar tidak diam pada situasi saat ini.
"Kewajiban publik adalah tidak diam terhadap situasi seperti ini, agar demokrasi yang sudah kita bangun di atas darah dan banyak pengorbanan reformasi yang sudah kita bangun itu tidak terulang lagi," ungkap Yati.
"Itu akan berdampak buruk tidak hanya pada situasi demokrasi di indonesia, tapi juga pada ekonomi dan situasi politik jika masukan dan kritik-kritik seruan ini tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah," tambah Yati.
Kontributor : Wivy Hikmatullah
Berita Terkait
-
Mahfud MD: Komisi Reformasi Fokus Benahi Sistem Karier Polri, Bukan Usul Nama Ganti Kapolri
-
Komisi Reformasi Polri Serahkan Laporan Akhir ke Presiden, Berkasnya Setebal 3000 Halaman
-
Ke Gresik, Gus Ipul Disambut Pidato 4 Bahasa Siswa Sekolah Rakyat
-
Sentil Prabowo Tentang Yaman, Habib Rizieq Singgung Jenderal Baliho
-
Habib Rizieq Tuding 'Jenderal Baliho' Pengaruhi Prabowo Soal Yaman, Dudung: Tidak Usah Didengerin!
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Korea Utara Tantang AS dan Sekutu: Jangan Atur-atur Kami Soal Nuklir
-
Sekarang Malu dan Menyesal Terima Uang Rp3 Miliar dan Ducati, Noel: Saya Minta Ampun Yang Mulia
-
Kapolri Sebut Penguatan Kompolnas Cukup Masuk di Revisi UU Polri, Tak Perlu UU Baru
-
Ahli Psikologi TNI Bongkar Profil 4 Penyiram Air Keras Andrie Yunus: Kemampuan Analisa Rendah
-
Buntut Kematian Dokter Myta, Kemenkes Tunda Internship di Puskesmas dan RSUD Kuala Tungkal
-
'Nak Keluar Sayang', Noel Minta Putrinya yang Berseragam Sekolah Keluar Sidang karena Ditegur Hakim
-
7,36 Persen Warga Indonesia Tanpa Air Bersih, Teknologi Ini Jadi Harapan Baru?
-
Kasus Dokter Internship Meninggal, Menkes Minta Audit Medis Tindakan RS
-
Maut Mengintai di Balik 'Jalan Pintas', 57 Nyawa Melayang Sia-sia di Jalur Kereta Daop 1 Jakarta
-
Eks Wamenaker Noel Ngaku 'Gak Tahu' Terima Ducati Harus Lapor KPK: Saya Menyesal Banget