- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara tegas menolak pemindahan Polri dari komando langsung Presiden ke bawah kementerian.
- PSI menilai posisi Polri di bawah Presiden menjaga supremasi sipil dan memastikan rantai komando responsif terhadap keamanan.
- Menurut PSI, akuntabilitas politik Polri lebih mudah diawasi publik dan DPR jika tetap berada di bawah Presiden.
Suara.com - Wacana untuk memindahkan posisi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dari komando langsung Presiden ke bawah sebuah kementerian kembali memanas.
Di tengah perdebatan sengit ini, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengambil sikap tegas, menolak mentah-mentah gagasan tersebut dan mendukung penuh agar Polri tetap berada di bawah kendali langsung kepala negara.
Sikap ini disampaikan secara lugas oleh Wakil Ketua Umum DPP PSI, Andy Budiman. Menurutnya, mempertahankan posisi Polri saat ini bukanlah sekadar urusan struktur organisasi, melainkan sebuah pilar fundamental untuk menjaga supremasi sipil dan akuntabilitas dalam sistem demokrasi Indonesia.
Bagi PSI, menempatkan lembaga penegak hukum sekuat Polri di bawah figur yang dipilih langsung oleh rakyat adalah sebuah keharusan.
Menjaga Supremasi Sipil dan Rantai Komando
Andy Budiman menjelaskan bahwa dalam sebuah negara demokratis, seluruh instrumen kekuasaan, termasuk aparat keamanan, wajib tunduk pada kontrol otoritas sipil yang memegang mandat rakyat.
Presiden, sebagai panglima tertinggi yang dipilih melalui pemilu, adalah perwujudan dari otoritas tersebut.
“Presiden sebagai kepala pemerintahan merupakan pemegang mandat langsung dari rakyat, sehingga penempatan kepolisian di bawah Presiden adalah perwujudan supremasi sipil dalam negara demokrasi,” kata Andy Budiman, Rabu (28/01/2026).
Selain alasan ideologis, PSI juga menyoroti aspek praktis dan efisiensi. Menurut Andy, struktur komando yang ada saat ini jauh lebih efektif.
Baca Juga: Tolak Polri di Bawah Kementerian, Boni Hargens: Sikap Kapolri Jaga Arsitektur Demokrasi
Dengan berada langsung di bawah Presiden, rantai komando menjadi lebih pendek dan jelas, memungkinkan respons yang lebih cepat dan terkoordinasi dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang dinamis.
Debat Lama yang Kembali Muncul
Gagasan menempatkan Polri di bawah kementerian, seperti Kementerian Dalam Negeri atau sebuah Kementerian Keamanan Nasional yang baru, memang bukan isu baru.
Wacana ini kerap muncul dengan argumen untuk menyelaraskan struktur Polri dengan TNI yang berada di bawah Kementerian Pertahanan.
Para pendukung gagasan ini berpendapat bahwa penempatan di bawah kementerian dapat meningkatkan koordinasi antarlembaga dan berpotensi mengurangi politisasi institusi Polri oleh kepentingan eksekutif. Namun, pandangan ini dibantah keras oleh PSI.
Partai yang kini berlambang gajah ini berpendapat bahwa netralitas dan profesionalisme Polri tidak ditentukan oleh posisinya, melainkan oleh kualitas sistem internalnya.
Berita Terkait
-
Tolak Polri di Bawah Kementerian, Boni Hargens: Sikap Kapolri Jaga Arsitektur Demokrasi
-
Gedung DPR Riuh, Kapolri Pilih Bertani daripada Bernaung di Bawah Kementerian
-
FPIR Apresiasi Ketegasan Kapolri Tolak Wacana Kementerian Polisi, Polri Tetap di Bawah Presiden
-
Sidang Paripurna, DPR Sepakat Polri Berada di Bawah Presiden
-
DPR Laporkan 8 Poin Hasil Panja Percepatan Reformasi Polri, Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Lebih dari 200 Penari dari Berbagai Daerah Ramaikan Lomba Tari Kreasi 2026 di Saloka Theme Park
-
Remehkan Timnas Indonesia, Pemain Thailand: Kami Paling Layak Juara Piala AFF 2026!
-
GoTo Cetak Laba Beruntun Q2-2026, Fintech Resmi Jadi Mesin Uang Baru
-
KPK Sita Mobil Pajero Sport yang Dipakai Istri Kedua Suhardiman Amby
-
5 Cushion untuk Kulit Kering agar Makeup Tidak Crack, Hasil Dewy dan Glowing
-
Aceh Pacu Pemulihan Lahan Pertanian, Serapan Anggaran Tembus Rp231 Miliar
-
Duel Simbolik Kaesang di Dapil Neraka: Mampukah Efek Jokowi Runtuhkan Dominasi Puan dan PDIP?
-
WhatsApp Hadirkan Panggilan Langsung di Browser, Meta Perluas Inovasi Komunikasi Tanpa Aplikasi
-
Dukung Lingkungan Bersih, BRI Serahkan Bantuan Truk Sampah ke Kodam IX/Udayana
-
BPDP Ungkap 41% Industri Sawit Nasional Dikelola Rakyat Langsung, Serap 16,5 Juta Tenaga Kerja