News / Nasional
Sabtu, 31 Januari 2026 | 12:29 WIB
Pendiri Deep Intelligence Research (DIR) Rhenald Kasali berbicara dalam diskusi bertajuk Quantum Age, Big Data, dan Masa Depan Industri Media di Kantor Suara.com, Jakarta, Jumat (30/1/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rhenald Kasali menyatakan saat ini adalah abad ketidakpastian karena keterhubungan manusia melibatkan elemen perasaan.
  • Konsumsi kini didasarkan pada tinjauan atau ulasan orang lain, bukan lagi teori pemasaran tradisional.
  • Munculnya profesi *influencer* disebabkan kuatnya pengaruh ulasan *netizen* terhadap keputusan konsumen.

Suara.com - Founder Deep Intelligence Research (DIR) Rhenald Kasali menjelaskan bahwa saat ini merupakan abad ketidakpastian atau uncertainty karena pelibatan perasaan manusia sebagai pengaruh keterhubungan.

Hal itu dia sampaikan dalam Diskusi Bulanan bertajuk Quantum Age, Big Data, dan Masa Depan Industri Media yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

“Inilah abad uncertainty. Ketika semua manusia terhubung dan partikel yang menghubungkan kita tidak hanya pikiran, tidak hanya opini, tidak hanya fakta, tetapi juga ada perasaan, elemen perasaan masuk,” kata Rhenald, dikutip pada Sabtu (31/1/2026).

Dengan begitu, manusia saat ini bisa terpengaruh hidupnya berdasarkan apa kata orang lain. Misalnya, seorang artis membuat video di sebuah tempat makan yang bisa membuat orang lain ikut mendatangi tempat makan tersebut.

“Bayangkan coba. Apa kata orang itu berpengaruh sekali pada hari ini. Dulu juga apa kata wartawan kan. Hari ini pewartanya bisa semua orang. Yang partikel-partikel ini,” ujar Rhenald.

Dia menyebut hal itu yang membuat konsumsi saat ini tidak lagi berdasarkan teori marketing lama dan branding melainkan berdasarkan hasil tinjauan atau review dari orang lain.

“Review based ini terus berpengaruh pada hidup. Makanya ada muncul profesi namanya influencer,” ucap Rhenald.

“Influencer yang seribu aja udah laku. Yang punya seribu followernya udah laku. Seribu bisa dipakai,” tambah dia.

Hal serupa juga bisa terjadi untuk membuat suatu usaha tidak berhasil melalui review yang tidak baik. Review tidak baik bisa memengaruhi orang lain agar tidak menjadi konsumen.

Baca Juga: AMSI dan Deep Intelligence Research Teken MoU Diseminasi Riset

“Nah kemudian akhirnya ada orang yang mencoba untuk mempengaruhi supaya tidak berhasil. Itu juga ada. Kita tahu misalnya ada orang kecewa, langsung dikasih review,” tandas Rhenald.

Load More