Suara.com - Sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berkualitas dibutuhkan dalam menyongsong cita-cita besar Indonesia Emas tahun 2045. Mutu pendidikan Indonesia dan kemampuan literasi menjadi salah satu aspek penting yang perlu ditingkatkan demi mendapatkan SDM unggul dan berdaya saing tinggi, sehingga keberadaan perpustakaan mempunyai peran penting sebagai sumber belajar demi mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Seperti yang kita semua ketahui, sebagai negara berkembang, Indonesia saat ini memiliki cita-cita besar untuk dapat menaikkan levelnya menjadi negara maju. Dalam menggapai cita-cita “Indonesia Emas 2045”, Pemerintah telah menuangkannya ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 guna mewujudkan visi ‘Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan’.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam peluncuran RPJPN 2025-2045, pada Bulan Juni 2023 menjelaskan, setidaknya ada tiga hal pokok yang tertuang pada dokumen RPJPN 2025-2045, dan akan menjadi acuan pembangunan Indonesia untuk menggapai visi Indonesia Emas 2045. Pertama adalah stabilitas bangsa dan negara. Kedua, keberlanjutan dan kesinambungan pembangunan. Ketiga adalah SDM yang berkualitas.
Optimis dalam menggapai cita-cita besar tersebut, Indonesia telah dibekali kekuatan yang tidak dapat disepelekan. Pertama, Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. Kedua, optimalisasi peluang bonus demografi. Ketiga, letak wilayah Indonesia yang strategis dan sangat menguntungkan dalam perdagangan internasional, serta Indonesia sebagai negara agraris.
Keempat, melimpahnya sumber daya alam dengan kekayaan cadangan mineral yang sangat besar. Jika modal tersebut dapat dikelola dengan baik, tentunya Indonesia memiliki peluang besar menjadi lima negara ekonomi terkuat tahun 2045.
Salah satu modal besar dalam mencapai Indonesia Emas 2045 adalah jumlah penduduk Indonesia termasuk yang terbesar ke-4 di dunia. Per 3 Maret 2024, jumlah penduduk Indonesia menurut worldmeters.info (berdasarkan data terbaru PBB) adalah sebanyak 279.053.774 jiwa, dengan median usia 30,1 tahun.
Dengan populasi tersebut, tentunya Indonesia perlu mempunyai formulasi yang tepat agar SDM yang telah tersedia dapat dimaksimalkan menjadi SDM unggul, kompeten, dan berkualitas.
SDM yang unggul merupakan salah satu faktor penentu kemajuan bangsa, karena sebaik apapun infrastuktur yang dimiliki Indonesia, tidak akan memiliki dampak yang maksimal pada kemajuan bangsa jika tidak dibekali dengan SDM yang berkualitas dan berdaya saing.
Tantangan dalam menghasilkan SDM unggul demi menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045 tentu tidaklah mudah. Berdasarkan dokumen RPJPN 2025-2045, pada sasaran visi 4, yaitu Daya Saing Sumber Daya Manusia Meningkat, terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia secara merata, yaitu melalui pendidikan, pelatihan dan pengembangan, sikap dan etos kerja, penguasaan teknologi inovasi dan kreativitas, dan kesehatan.
Pada dunia pendidikan, literasi menjadi salah satu fondasi penting untuk meningkatkan mutu pendidikan serta meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat bangkit dan bersaing dengan bangsa lain. Secara sederhana, literasi merupakan kemampuan individu untuk membaca, menulis, memahami, menginterpretasi, dan menggunakan informasi secara efektif.
Literasi melibatkan penggunaan bahasa serta simbol-simbol untuk memperoleh, mengolah, dan menyampaikan informasi. Maka dari itu, diperlukan upaya yang komprehensif dan terintegrasi demi meningkatkan literasi masyarakat Indonesia, di mana hal ini juga akan berimplikasi pada meningkatnya kualitas SDM Indonesia.
Namun sayangnya, tingkat literasi masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah. Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 72 dari 78 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.
Sementara data UNESCO di tahun 2016 menyebutkan bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara di dunia, di mana hanya 0,001 persen atau 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang rajin membaca.
Selain itu, berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dihimpun oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menunjukkan tingkat literasi masyarakat pada tahun 2022 berada pada 64,48 dari skala 100 atau masuk kategori sedang. Pemerintah telah menargetkan pada tahun 2024 sebesar 71,4.
Ketiga data tersebut menunjukkan persoalan literasi masih harus dibenahi di Indonesia. Kemampuan literasi dasar yang salah satunya adalah kemampuan dalam membaca mempunyai peran penting dalam kemampuan berpikir seseorang pada kehidupannya, dimulai dari memahami hal-hal yang lebih kompleks, hingga mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya memberikan peluang lebih besar seseorang untuk dapat berdaya saing global hingga meraih kesuksesan,
Berita Terkait
-
Hari Film Nasional, Ini 3 Fakta Tentang Industri Film Indonesia yang Terus Berkembang
-
Sejauh Mana Capaian dan Kebermanfaatan Program Merdeka Belajar?
-
Anies Siapkan Perpustakaan Bertaraf Internasional seperti TIM untuk Daerah
-
Berkunjung ke Perpustakaan Umum Kabupaten Gowa
-
10 Potret Rumah Anies Baswedan: 'Humble' Tak Berpagar, Ada Perpustakaan Gratis
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Polda Jabar Libatkan Ahli Kejiwaan untuk Dalami Kondisi Psikologis Taufik Hidayat
-
Realita Pahit Dunia Kerja: Antrean 2 Km di Malaysia dan Bayang-Bayang PHK di Indonesia
-
Berkat Jejak Transaksi Daring, Pelaku Penyekapan Perempuan di Bandung Ditangkap
-
Segera Hadir, Film Sekolah Rakyat Angkat Kisah Dramatis dari Kehidupan Nyata
-
SDA Terus Dicuri, Prabowo: TNI AL dan Bea Cukai Sudah Dikerahkan, Masih Saja Bocor!
-
Rugi Terus, Prabowo Bakal Tutup 800 Perusahaan Pelat Merah untuk Berhemat
-
Jakarta Darurat Kabel Semrawut: Pelajar Tewas, Perda Mangkrak, Legislator Tuntut Sanksi Operator
-
UU Peradilan Militer Jadi Tameng Impunitas TNI! Aktivis Desak Reformasi Total
-
Kapolri Buka Suara Usai Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan: Itu Kewenangan Kejaksaan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya