News / Metropolitan
Minggu, 05 Mei 2024 | 20:59 WIB
Indeks Kualitas Udara di Jakarta Paling Buruk di Dunia (Unsplash/Alex Gindin)

Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengakui akan potensi penurunan kualitas udara dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan musim kemarau yang sudah memasuki Jakarta saat ini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto menyebut, pihaknya sudah mengumpulkan para pemangku kepentingan untuk merumuskan upaya antisipasi potensi penurunan kualitas udara.

Baca Juga:

Waspada! Kualitas Udara Jakarta Hari Ini Terburuk Keempat di Dunia, Ini Kawasan Ibu Kota Paling Tak Sehat

Selain dari unsur Organisasi Perangkat Daerah Pemprov DKI, unsur pemangku kepentingan dari pemerintah pusat seperti Kemenko Marves, KLHK, dan Kemenhub juga ikut dilibatkan. Selain itu, DLH juga mengajak diskusi organisasi masyarakat sipil hingga akademisi.

“Isu polusi udara menjadi fokus Pemprov DKI sejak dua tahun ke belakang, sekarang benar-benar serius, Jakarta sangat konsen terhadap pengendalian pencemaran udara, khususnya masalah polusi. Isu lingkungan hidup memang menjadi Isu global,” ujar Asep dalam keterangannya, dikutip Minggu (5/5/2024).

Hal tersebut sudah tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 576 Tahun 2023 tentang Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang mencantumkan road map isu penyelesaian masalah udara di Jakarta hingga 2030.

Menurut Asep, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) DKI Jakarta sudah berorientasi kepada lingkungan hidup.

“Prioritas pembangunan di Jakarta 5 tahun ke depan, 7 prioritasnya ada di bidang pembangunan lingkungan hidup,” kata Asep.

Baca Juga: Waspada! Kualitas Udara Jakarta Hari Ini Terburuk Keempat di Dunia, Ini Kawasan Ibu Kota Paling Tak Sehat

Terlebih lagi, setelah tak menjadi ibu kota negara, Jakarta memiliki tantangan besar dalam mengelola lingkungan hidup.

“Dengan ditarik dan dihilangkannya status ibu kota dari Jakarta, maka tuntutan Jakarta menjadi kota mandiri Itu semakin kuat. Jakarta harus mampu membiayai semua kebutuhan perencanaannya secara mandiri,” pungkas Asep.

Sementara, Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert Nahas, memprediksi bahwa Jakarta akan memasuki musim kemarau pada Mei 2024, dan akan mencapai puncaknya pada Juni 2024.

Selain itu, Ia megatakan bahwa dampak fenomena iklim global juga memiliki pengaruh terhadap PM2.5 yang merupakan salah satu partikel polutan.

“Fenomena iklim global bisa memengaruhi iklim di Indonesia, yang juga berakibat ke kondisi PM2.5 diantaranya adalah El Nino, La Nina, dan Dipole Mode Positif/Negatif,” jelasnya.

Baca Juga:

Load More