Suara.com - Tepat di hari ini, 1 Juni 2024, Kepolisian Indonesia memeringati HUT ke-78 Bhayangkara. Riwayat polisi tanah air yang juga disebut sebagai bhayangkara ternyata memiliki asal-usul yang lahir sejak lama.
Jauh sebelum lahir era polisi modern seperti saat ini, jejak polisi Indonesia sudah ada sejak era kerajaan. Nama Bhayangkara muncul ketika satuan tersebut menjadi pasukan pengaman istana kerajaan Singhasari yang kini letaknya di sekitaran Jawa Timur.
Meski begitu, nama pasukan Bhayangkara diketahui telah dirintis di masa jauh sebelum Kertanegara berkuasa sebagai Raja Singhasari. Oleh sebagian sejarawan pasukan Bhayangkara terdeteksi telah muncul di masa pemerintahan Tohjaya sebagai raja Kediri.
Dari Keamanan Istana hingga Ekspedisi Pamalayu
Dikutip dari buku Sri Wintala Achmad bertajuk Gajah Mada: Kisah Cinta dan Kisah Penaklukan-penaklukannya, ketika Kertanegara nyaris tewas dibunuh Wisnuwardhana di Katanglambang pada tahun 1248, sebagian pasukan Bhayangkara berperan dalam menjaga keamanan istana.
Sumber lain menyebutkan ketika Raja Wisnuwardhana yang berkuasa di Singhasari periode 1248-1254 menyerang Kediri, ia mengerahkan pasukan Bhayangkara. Seusai Kediri berhasil dikuasai, Wisnuwardhana menyatukan kedua kerajaan tersebut ke dalam wilayah kekuasaannya.
Di masa pemerintahan Kertanegara, kesatuan Kalana Bhayangkara dikerahkan untuk merealisasikan proyek ambisiusnya memperluas kekuasaan lewat Ekspedisi Pamalayu.
Akibat pengerahan pasukan nan masif termasuk pelibatan pasukan Kalana Bhayangkara selama ekspedisi Pamalayu, membuat pertahanan di dalam negeri Singhasari menjadi rapuh.
Situasi ini kemudian dimanfaatkan Arya Wiraraja yang merupakan barisan sakit hati usai dilengserkan dari jabatannya, untuk menikung Kertanegara. Ia kemudian memprovokasi Adipati Jayakatwang dari Gelang gelang yang notabene masih kerabat Kertanegara, untuk melancarkan pemberontakan terhadap penguasa Singhasari tersebut.
Didukung Patih Mundarang, pasukan Jaran Guyang serta pangeran Ardaraja, Jayakatwang berhasil merebut Singhasari dan membunuh Kertanegara. Mengetahui Singhasari telah ditaklukkan, sang menantu Dyah Wijaya bersama pasukan Kalana Bhayangkara melarikan
diri ke Sumenep.
Di Sumenep, Dyah Wijaya bersama pasukannya meminta perlindungan dari Arya Wiraraja. Atas bantuan Arya Wiraraja, Dyah Wijaya dan pengikutnya mendapat ampunan dari Jayakatwang dan diberikan wilayah di Hutan Tarik. Di wilayah itulah Dyah Wijaya dengan dukungan sisa mantan anggota pasukan Kalana Bhayangkara mendirikan pedukuhan Wilwatikta atau Majapahit.
Sementara Dyah Wijaya sibuk membangun wilayah kekuasaan barunya, Singhasari yang telah runtuh berdampak pada lemahnya kekuatan di wilayah vasal termasuk di Sumatera.
Pasukan China di bawah komando Kubilai Khan yang sedang berupaya menguasai nusantara dengan mudah menguasai bekas wilayah Singhasari. Beberapa kerajaan kecil di wilayah Sumatera secara cepat dikuasai usai mereka mengirimkan utusan tanda takluk.
Dari Sumatera, pasukan Kubilai Khan merangsek ke Jawa yang tengah menghadapi chaos. Kedatangan pasukan Kubilai Khan ke Jawa ini dengan cerdik mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Dyah Wijaya untuk balas dendam terhadap Jayakatwang.
Berkat bantuan pasukan Kubilai Khan, Jayakatwang berhasil dilengserkan dan dibunuh. Di kala pasukan Mongol tersebut larut dalam euforia usai mengalahkan Jayakatwang, Dyah Wijaya bersama pasukan Bhayangkara melakukan serangan tak terduga.
Berita Terkait
-
'Kado' IPW di HUT Bhayangkara ke-78: Kekerasan Polisi Sulit Dicegah jika Pimpinan Polri Tak Becus Awasi Anak Buahnya
-
16 Kereta Api Jarak Jauh PT KAI Daop 1 Singgah di Stasiun Alternatif saat HUT Bhayangkara, Ini Daftar Lengkapnya
-
Gratis! Gelar Konser Pesta Rakyat Hari Ini, Polri Imbau Pengendara Tak Lewat Monas
-
Besok Konser HUT Bhayangkara ke-78 di Monas Dijaga Ketat Ribuan Aparat, Kapolres Jakpus: Awas Copet!
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Dea Arranoya Lulusan Mana? Anak Pejabat Aceh Viral Pamer 15 Jeriken BBM dan Liburan ke Eropa
-
Velodrome Bergemuruh, Pelatih Reidel Toiran Puji Antusiasme Suporter Timnas Voli Indonesia
-
Indonesia Kekurangan Talenta Siber, ITSEC Asia dan PT INTI Siapkan Solusinya
-
Geger di Lapangan Kodim Ponorogo: Dikira Tidur, Pria Misterius Ditemukan Tak Bernyawa di Selokan
-
Gabung Kendal Tornado FC, Diego Dalloca: Saya Ingin Menciptakan Sejarah!
-
5 HP Samsung Kamera OIS Terbaik, Hasil Videonya Mirip Kelas Flagship!
-
Londo Ireng Artinya Apa? Ini Asal Usul Istilah yang Dipakai Prabowo Menyindir Jurnalis hingga LSM
-
Ulasan Novel Negara Kelima, Menguak Konspirasi Gelap Kelompok Aparat Korup
-
Mengurai Inovasi Regulasi dan Dominasi Institusi di Balik "Rebound" Pasar Kripto Global
-
Tidar Jakarta Barat: Pelantikan Sudaryono Momentum Pembenahan Sistem MBG