Suara.com - Sejak 5 tahun terakhir, proses integrasi transportasi di DKI Jakarta benar-benar sangat diupayakan pemerintah. Masyarakat secara perlahan mulai tergiur untuk mencoba transportasi massal yang disediakan.
DKI Jakarta saat ini memiliki KRL, TransJakarta, MRT, LRT, JakLingko, hingga bus-bus layanan feeder. Semua fasilitas ini tersedia mulai dari lokasi-lokasi perumahan warga, sehingga masyarakat bisa menggunakan moda transportasi sejak keluar dari rumah menuju ke tempat kerjanya.
Keuntungan lain dari penggunaan moda transportasi publik adalah adanya jalur khusus bagi TransJakarta. Tentu, KRL, MRT, dan LRT demikian juga, sehingga memungkinkan mobilitas warga lebih dinamis.
Beruntung sekali bagi Rina (41). Warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ini merasa sangat terbantu dengan kehadiran TransJakarta. Walau ia harus naik ojek online menuju halte terdekat, namun ia mengatakan, waktu tempuh ke kantornya, di bilangan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, terbilang cepat.
"Paling lama, waktu yang saya habiskan di jalan cuma 45 menit. Paling lama 1 jamlah. Waktu paling lama ini biasanya untuk jam pulang, karena masyarakat terkesan berbarengan untuk jam pulang kantor," ujarnya, beberapa waktu lalu.
Begitupun bagi penumpang lain, Indra (38). Lelaki yang tinggal di Ciledug, Tangerang ini mengatakan, ia kini bisa menikmati perjalanan dengan moda transportasi umum dengan lebih nyaman. Ia sudah berani meninggalkan motornya dan beralih ke TransJakarta, karena perjalanan dirasa lebih aman dan nyaman.
"Saya tinggalkan motor saya di lokasi parkir halte terdekat dan saya naik Transjakarta. Lebih baik begini, daripada saya harus naik motor sampai Jakarta Kota," ujarnya.
Indra sudah 2 tahun bekerja di bilangan Olimo, Jakarta Barat. Sebelum ia yakin pada moda transportasi ibu kota, Indra naik motor pulang pergi ke lokasi kerjanya hingga ke tempat tinggalnya. Ia bisa membutuhkan waktu hingga 4 jam, belum kalau terdapat halangan berupa kemacetan atau hujan.
Di halte terdekat TransJakarta, Indra naik menuju kawasan Blok M dan berganti dengan TransJakarta dengan arah kantornya. Ia bisa juga memilih moda MRT dan dilanjutkan TransJakarta.
"Dengan naik kendaraan umum, tenaga saya lebih terjaga. Kendaraan umum tak seperti dulu lagi, kini lebih nyaman dan aman, sehingga saya nggak keberatan," ujarnya.
Menurut BPS DKI Jakarta, sepanjang Januari 2024, total perjalanan MRT Jakarta mencapai 8.241 perjalanan, meningkat 1,44 persen dibandingkan Desember 2023 (m-to-m) dan meningkat 2,56 persen dibandingkan Januari 2023 (y-on-y). Jumlah penumpang MRT Jakarta pada Januari 2024 mencapai 3.143.854 orang, meningkat 3,54 persen dibandingkan Desember 2023 (m-to-m) dan mengalami peningkatan 23,76 persen dibandingkan Januari 2023 yoy.
Total perjalanan LRT Jakarta mencapai 6.324 perjalanan, turun 0,41 persen dibandingkan Desember 2023 (m-to-m), namun meningkat 2,16 persen dibandingkan Januari 2023 yoy. Jumlah penumpang LRT Jakarta sepanjang Januari 2024 sebesar 96.837 orang, turun 1,60 persen dibandingkan Desember 2023 (m-to-m), namun mengalami peningkatan 33,71 persen dibandingkan Januari 2023 yoy.
Total bus Transjakarta yang beroperasi sepanjang Januari 2024 mencapai 4.395 unit, naik 0,90 persen dibandingkan Desember 2023 (m-to-m) dan meningkat 14,07 persen dibandingkan Januari 2023 yoy.
Sepanjang Januari 2024, jumlah penumpang Transjakarta mencapai 30.934.491 orang, meningkat 6,83 persen dibandingkan Desember 2023 (m-to m) dan mengalami peningkatan 54,66 persen dibandingkan Januari 2023.
Berita Terkait
-
Kabar Gembira, Tarif LRT Jabodebek Maksimal Rp 10.000 di Akhir Pekan dan Libur Nasional
-
Hankook Tire Luncurkan Ban Khusus Untuk Armada Bus Listrik TransJakarta
-
Tak Cukup TransJakarta, Pramono Janjikan TransJabodetabek hingga Cianjur Buat Atasi Macet
-
Usai Kepanasan, RK Ngide Mau Pasang AC di Halte TransJakarta Biar Gak Emosi
-
Bus Paspampres Tabrak Halte TransJakarta, Netizen Gagal Fokus dengan Tempelan Misterius Ini
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Komisi III DPR RI Sayangkan Guru Honorer di Probolinggo Dipidanakan karena Rangkap Jabatan
-
Sebut Dakwaan Jaksa Tidak Terbukti, Kerry Riza Minta Pembebasan dan Pengembalian Aset
-
Tragedi NS dan Fenomena Filisida: Mengapa Rumah Jadi Ruang Berbahaya bagi Anak?
-
Kubu Kerry Riza Sebut Jaksa Paksakan Keputusan Bisnis Jadi Tindak Pidana Korupsi
-
Konflik Kartel Meksiko Geser Rantai Pasok Narkoba ke Indonesia, BNN Waspadai Jalur Alternatif
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
Jelang Vonis Korupsi Pertamina, Ketua Hakim Beri Peringatan Keras: Jangan Coba-coba Pengaruhi Kami!
-
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga: Kerry Adrianto Merasa Dijebak dalam Kasus Korupsi Pertamina
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan