Suara.com - Kelemahan penegakan hukum yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu belakangan menjadikan Indonesia sebagai target penjahat dunia dalam tindak kekerasan seksual.
Ketua Yayasan Ketahanan Perempuan dan Anak Margareth Hanita menyampaikan informasi tersebut saat menghadiri acara Global Policy Dialogue di Korea Selatan tentang teknologi facilitated gender-based violence (GBV).
Margareth menyebut, lantaran penegakan hukumnya dinilai lemah, para pelaku kekerasan seksual bisa bertindak secara leluasa.
"Jadi banyak saat ini kekerasan berbasis gender yang difasilitasi oleh teknologi. Dan Indonesia termasuk yang menjadi target. Karena apa? Payung hukumnya, penegakan hukumnya lemah, perempuan dan anak-anak mudah sekali terbujuk rayu," kata Margareth dalam media talk di kantor Kementerian PPPA, Jakarta, Selasa (19/12/2024).
Dia menyebutkan, kalau di Indonesia hampir semua bentuk kekerasan seksual berbasis teknologi sudah terjadi.
"Dari yang kekerasaan seksual online yang betul-betul hanya dalam bentuk yang ringan, sampai love scamming yang perputaran uangnya sampai miliaran. Jadi Indonesia target, semua itu tentang technology facilitated GBV," imbuh Margareth.
Hal lain yang juga jadi penyebab Indonesia dijadikan target kejahatan seksual karena sistem teknologi yang ada dianggap lemah.
Ia mendorong pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk bersinergi memperkuat sistem hukum dan teknologi agar ancaman kekerasan seksual berbasis teknologi dapat diminimalkan.
"Teknologi kita masih lemah. Untuk mengatasi ini, kita membutuhkan akuransi digital yang canggih, dan itu tidak murah. Ini tantangan besar buat kita," ucapnya.
Baca Juga: Bahaya Judi Online Mengancam, Pakar Hukum Tawarkan 4 Solusi Ampuh
Margareth juga menekankan pentingnya langkah pencegahan sebagai upaya utama untuk melindungi perempuan dan anak dari ancaman kekerasan seksual berbasis teknologi.
"Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Pepatah lama ini sangat relevan dengan tantangan yang kita hadapi saat ini," tuturnya.
Berita Terkait
-
Isu Penegakan Hukum Jadi Sorotan, Para Pembantu Presiden Diminta Bisa Terjemahkan Instruksi Prabowo
-
Pidato Puan di Sidang Tahunan Singgung Penegakan Hukum: Negara Jangan Tunggu Viral, No Justice
-
Survei Litbang Kompas: Ranking KPK Jeblok Sebagai Penegak Hukum, Citranya Paling Buruk di Bawah TNI-Polri
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi