News / Internasional
Jum'at, 04 April 2025 | 17:03 WIB
Warga menggotong diduga jenazah seorang komandan senior Hamas, Hassan Farhat, yang tewas dalam serangan udara Israel di kota pelabuhan Sidon, Lebanon, pada Jumat (4/4/2025) dini hari. (Suara.com/X)

Di bawah perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh PBB, Hizbullah diharuskan menarik pasukannya ke utara Sungai Litani dan membongkar infrastruktur militernya di selatan, sementara Israel diwajibkan menarik pasukannya ke luar Garis Biru, perbatasan de facto yang ditetapkan oleh PBB.

Namun hingga kini, Israel masih mempertahankan lima posisi militer yang mereka anggap “strategis,” melewati dua tenggat waktu penarikan.

Ketegangan antara Israel dan Hizbullah tetap tinggi sejak konflik terbuka yang pecah pada September lalu, dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun ada upaya gencatan senjata.

Perang antara Israel dan Hamas kembali pecah pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Israel, menewaskan ratusan warga sipil dan tentara.

Serangan balasan Israel ke Jalur Gaza pun berlangsung brutal, dengan pengeboman intensif yang menewaskan ribuan warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak.

Konflik ini memicu krisis kemanusiaan besar di Gaza, menghancurkan infrastruktur dan memaksa jutaan orang mengungsi. 

Meski sempat ada gencatan senjata sementara, serangan dan balasan terus terjadi, termasuk eskalasi di Lebanon selatan antara Israel dan Hizbullah.

Israel menyatakan bahwa tujuannya adalah menghancurkan infrastruktur militer Hamas, sementara Hamas dan kelompok lain menyebut aksi mereka sebagai perlawanan terhadap pendudukan.

Komunitas internasional telah menyerukan de-eskalasi dan solusi jangka panjang, namun hingga kini tidak ada tanda-tanda akhir dari konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini.

Baca Juga: Gaza Terancam Terbelah: Netanyahu Umumkan Rencana Koridor Militer Kontroversial

Load More