Suara.com - Rencana Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi yang akan memasukan siswa bermasalah ke barak militer dipertanyakan psikolog pendidikan. Kebijakan tersebut dinilai tidak taktis juga tanpa indikator yang jelas.
Psikolog pendidikan Karina Adistiana mempertanyakan alasan Dedi Mulyadi sampai harus melibatkan militer dalam proses pendidikan karakter murid yang harusnya masih menjadi tanggungjawab sekolah dan orang tua.
"Sejak kapan sih sebenarnya militer dan polisi jadi ada wewenang di pendidikan. Kenapa hanya khusus untuk anak bermasalah? Kalau memang dianggap, apa yang bagus, disiplinnya kah? Kalau memang dianggap disiplin ini bagus untuk pendidikan karakter, kenapa khusus anak bermasalah?" beber Karina saat dihubungi Suara.com pada Senin (28/4/2025).
Penyebutan 'siswa bermasalah' yang akan dikirim ke barak militer selama enam bulan itu juga dinilai tidak tepat. Karena tidak ada indikator yang pasti dari stigma siswa bermasalah tersebut.
Karina mencontohkan, kalau pun ada perilaku murid yang bermasalah hingga melanggar hukum, Indonesia telah memiliki sistem peradilan anak yang jelas tanpa harus membawanya ke barak militer. Dia melanjutkan bahwa dari sisi psikologis, anak yang dikatakan bermasalah biasanya disebabkan banyak faktor.
"Pemda itu tugasnya kan melihat itu ya, melihat secara keseluruhan. Jadi gak melulu si anaknya yang jadi faktor. Sepertinya kalau di sini jadi kayak anaknya ini yang tunggal nih, anaknya ini yang udah gak bisa diapa-apain gitu," ujarnya.
Karina juga mengkritisi gubernur Jabar yang bahkan sudah menyiapkan sampai 40 barak militer untuk 'menyekolahkan' murid yang dikatakan bermasalah itu.
"Ini kan berarti mereka memikirkan banyak kemungkinannya gitu. Apakah 40 barak ini perkiraannya berdasarkan apa nih 40 barak? Pertimbangannya itu berdasarkan apa? Datanya sebenarnya gimana sih perilaku remaja bermasalah, perilaku anak bermasalah di Jawa Barat, itu datanya bagaimana? Data itu kan yang mestinya diterjemahkan menjadi sistem," kritiknya.
Diketahui, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi mengaku berniat memasukan siswa bermasalah ke barak militer itu akan dimulai pada 2 Mei 2025.
Baca Juga: Sebut Anggaran Fantastis MBG Irasional, Ekonom Ferry Latuhihin: Kok Maksa Banget, Ini Proyek Siapa?
Dedi Mulyadi mengatakan rencana tersebut bagian dari pendidikan karakter yang akan mulai dijalankan di beberapa wilayah di Jawa Barat yang dianggap rawan dan bekerja sama dengan TNI dan Polri.
Pemprov Jabar bahkan telah menyediakan sekitar 30 hingga 40 barak khusus yang disiapkan oleh TNI. Peserta program, dipilih berdasarkan kesepakatan antara sekolah dan orang tua, dengan prioritas pada siswa yang sulit dibina atau terindikasi terlibat dalam pergaulan bebas maupun tindakan kriminal, untuk diikutkan program pembinaan yang akan berlangsung enam bulan per siswa.
Niatan Dedi Mulyadi yang mengirim siswa bermasalah ke barak TNI menuai pro-kontra. Di tengah polemik itu, Ketua Dewan Pakar Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) Itje Chodidjah justru menyarankan agar Dedi Mulyadi membenahi kualitas guru dan sistem pengajaran ketimbang mengirim siswa nakal ke barak militer.
Dia beranggapan kalau hal itu lebih efektif menjadi solusi atas pendidikan karakter anak.
Menurut Itje, mengirimkan siswa ke barak militer berpotensi tidak mampu mendeteksi penyebab buruknya karakter siswa.
"Sekolah benahi, guru benahi. Itu kan lagi beredar data dari KPK, berapa banyak, berapa persen guru yang sering meninggalkan kelas tanpa alasan, jam kosong. Itu yang diperbaiki. Jangan yang rusak fondasinya yang diperbaiki jendelanya kalau ibaratnya itu rumah," kata Itje kepada Suara.com saat dihubungi Senin.
Berita Terkait
-
Sebut Anggaran Fantastis MBG Irasional, Ekonom Ferry Latuhihin: Kok Maksa Banget, Ini Proyek Siapa?
-
Dedi Mulyadi Ancam Bawa Siswa Nakal ke Barak,Mayjen TB Hasannudin: Tujuannya Baik, asal...
-
Bawa Saksi ke Polisi, Relawan Tepis Polisikan Roy Suryo Cs karena Arahan Jokowi: Ini Murni...
-
Pede Sebut Kekayaan Danantara Tembus 1 Triliun Dolar AS, Prabowo: Ternyata Kita Kaya
-
Dicap Koplak, Ekonom Ferry Latuhihin Skakmat Kepala Bappenas soal MBG: Ini Sekolahnya di Mana?
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- 5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- 6 Moisturizer Pencerah Wajah Kusam di Indomaret, Harga di Bawah Rp50 Ribu
Pilihan
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
Terkini
-
Politisi Peter Mandelson Mundur Usai Foto Vulgar di Epstein Files Tersebar
-
Bukan Bertemu Oposisi, Istana Jelaskan soal Pertemuan Prabowo dengan Siti Zuhro hingga Abraham Samad
-
Relawan Prabowo Tegas Tolak Polri di Bawah Menteri, Singgung Ancaman Keamanan
-
Gas N2O Disorot Usai Kasus Lula Lahfah, Polisi Akui Belum Bisa Tindak: Tunggu Regulasi
-
Polisi Segera Buka Kartu Soal Kasus Penganiayaan yang Menjerat Habib Bahar
-
Jelang Ramadan, Jalanan Jakarta Dipantau Ketat: Drone Ikut Awasi Pelanggar Lalu Lintas
-
BMKG Terbitkan Peringatan Dini Cuaca Hari Ini, Jabodetabek Masuk Level Waspada
-
Kronologi Habib Bahar Jadi Tersangka: Dijerat Pasal Berlapis, Dijadwalkan Diperiksa 4 Februari
-
Berawal dari Ingin Salaman, Anggota Banser Diduga Dikeroyok: Habib Bahar Kini Resmi Jadi Tersangka
-
Teriakan Histeris di Sungai Tamiang: 7 Taruna Akpol Selamatkan Remaja yang Hanyut di Aceh