News / Nasional
Kamis, 19 Maret 2026 | 16:57 WIB
Sidang isbat penentuan awal puasa. (YT Kemenag RI)
Baca 10 detik
  • Penentuan awal bulan hijriah di Indonesia menggunakan kombinasi metode hisab (astronomi) dan rukyat (observasi hilal) sesuai ajaran Islam.
  • Pengamatan hilal sangat bergantung pada faktor ketinggian, elongasi, umur bulan, dan kondisi cuaca, menggunakan kriteria visibilitas MABIMS.
  • Pengumuman sidang isbat memerlukan waktu karena pemerintah menunggu dan memverifikasi laporan rukyat dari berbagai lokasi pemantauan.

Suara.com - Belakangan, permintaan agar hasil sidang isbat diumumkan lebih cepat ramai disuarakan publik. Namun di balik itu, ada proses panjang yang harus dilalui sebelum pemerintah menetapkan awal bulan hijriah, termasuk Idul Fitri.

Melalui akun Instagram resminya, Kementerian Agama Republik Indonesia menjelaskan bahwa penentuan awal bulan hijriah tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui kombinasi metode keagamaan dan ilmiah.

Dalam ajaran Islam, penentuan awal Ramadan maupun Syawal merujuk pada pengamatan hilal atau bulan sabit pertama. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Syakban) menjadi tiga puluh hari" (HR. Bukhari dan Muslim).

Di Indonesia, metode tersebut dipadukan dengan hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi langsung) untuk menghasilkan keputusan yang lebih akurat.

Kementerian Agama menjelaskan, hilal sendiri merupakan bulan sabit tipis yang muncul setelah fase bulan baru (ijtimak). Bentuknya sangat tipis dan redup, sehingga tidak selalu bisa dilihat dengan mata telanjang.

Kemunculan hilal juga sangat singkat. Biasanya hanya terlihat beberapa menit setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan hijriah, sebelum akhirnya ikut terbenam.

Petugas melakukan pemantauan hilal untuk awal Ramadhan di Masjid Al Musyariin Basmol, Jakarta, Indonesia, Selasa (17/2/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Karena itu, pengamatannya tidak mudah dan sangat bergantung pada berbagai faktor. Mulai dari ketinggian hilal di atas ufuk, jarak sudut antara bulan dan matahari (elongasi), umur bulan sejak ijtimak, hingga kondisi cuaca seperti awan atau kabut.

Di Indonesia, pemerintah menggunakan kriteria MABIMS, standar yang disepakati bersama oleh negara-negara Asia Tenggara, sebagai acuan visibilitas hilal. Dalam kriteria ini, hilal dinyatakan berpotensi terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Baca Juga: Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain

Lalu, kenapa hasil sidang isbat sering diumumkan cukup lama?

Kementerian Agama menyebut, hal itu karena pemerintah harus menunggu laporan rukyat dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia. Data tersebut kemudian diverifikasi oleh para ahli dan ulama dalam sidang isbat.

Sidang ini melibatkan banyak pihak, mulai dari organisasi masyarakat Islam, ahli astronomi, hingga lembaga terkait lainnya.

Proses verifikasi itulah yang membuat pengumuman tidak bisa dilakukan secara cepat.

Pemerintah memastikan setiap data yang masuk diperiksa secara teliti agar keputusan yang diambil tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga sesuai dengan syariat.

Dengan mekanisme tersebut, hasil sidang isbat diharapkan dapat menjadi pedoman bersama bagi umat Islam di Indonesia dalam menentukan awal bulan hijriah.

Load More