- Penentuan awal bulan hijriah di Indonesia menggunakan kombinasi metode hisab (astronomi) dan rukyat (observasi hilal) sesuai ajaran Islam.
- Pengamatan hilal sangat bergantung pada faktor ketinggian, elongasi, umur bulan, dan kondisi cuaca, menggunakan kriteria visibilitas MABIMS.
- Pengumuman sidang isbat memerlukan waktu karena pemerintah menunggu dan memverifikasi laporan rukyat dari berbagai lokasi pemantauan.
Suara.com - Belakangan, permintaan agar hasil sidang isbat diumumkan lebih cepat ramai disuarakan publik. Namun di balik itu, ada proses panjang yang harus dilalui sebelum pemerintah menetapkan awal bulan hijriah, termasuk Idul Fitri.
Melalui akun Instagram resminya, Kementerian Agama Republik Indonesia menjelaskan bahwa penentuan awal bulan hijriah tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui kombinasi metode keagamaan dan ilmiah.
Dalam ajaran Islam, penentuan awal Ramadan maupun Syawal merujuk pada pengamatan hilal atau bulan sabit pertama. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Syakban) menjadi tiga puluh hari" (HR. Bukhari dan Muslim).
Di Indonesia, metode tersebut dipadukan dengan hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi langsung) untuk menghasilkan keputusan yang lebih akurat.
Kementerian Agama menjelaskan, hilal sendiri merupakan bulan sabit tipis yang muncul setelah fase bulan baru (ijtimak). Bentuknya sangat tipis dan redup, sehingga tidak selalu bisa dilihat dengan mata telanjang.
Kemunculan hilal juga sangat singkat. Biasanya hanya terlihat beberapa menit setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan hijriah, sebelum akhirnya ikut terbenam.
Karena itu, pengamatannya tidak mudah dan sangat bergantung pada berbagai faktor. Mulai dari ketinggian hilal di atas ufuk, jarak sudut antara bulan dan matahari (elongasi), umur bulan sejak ijtimak, hingga kondisi cuaca seperti awan atau kabut.
Di Indonesia, pemerintah menggunakan kriteria MABIMS, standar yang disepakati bersama oleh negara-negara Asia Tenggara, sebagai acuan visibilitas hilal. Dalam kriteria ini, hilal dinyatakan berpotensi terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Baca Juga: Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
Lalu, kenapa hasil sidang isbat sering diumumkan cukup lama?
Kementerian Agama menyebut, hal itu karena pemerintah harus menunggu laporan rukyat dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia. Data tersebut kemudian diverifikasi oleh para ahli dan ulama dalam sidang isbat.
Sidang ini melibatkan banyak pihak, mulai dari organisasi masyarakat Islam, ahli astronomi, hingga lembaga terkait lainnya.
Proses verifikasi itulah yang membuat pengumuman tidak bisa dilakukan secara cepat.
Pemerintah memastikan setiap data yang masuk diperiksa secara teliti agar keputusan yang diambil tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga sesuai dengan syariat.
Dengan mekanisme tersebut, hasil sidang isbat diharapkan dapat menjadi pedoman bersama bagi umat Islam di Indonesia dalam menentukan awal bulan hijriah.
Berita Terkait
-
Kasus Kebakaran Meningkat, Pemprov DKI Minta Warga Tak Lengah Tinggalkan Rumah Saat Mudik
-
Korlantas Ungkap Penyebab Macet Panjang di Tol Japek dan MBZ Hari Ini
-
Hilal Tak Terlihat, Warga Iran Bakal Rayakan Lebaran 2026 pada Sabtu 21 Maret
-
Hasil Sidang Isbat Lebaran 2026 Diumumkan Jam Berapa? Ini Jadwal Resminya
Terpopuler
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- 15 Tulisan Kata-kata Unik Mudik Lebaran, Lucu dan Relate untuk Anak Rantau
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray: Pantang Terpeleset The Reds!
-
Israel Klaim Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib
-
Dipicu Korsleting Listrik, Kebakaran Kalideres Hanguskan 17 Bangunan
Terkini
-
PrabowoMegawati Bertemu di Istana, Pengamat Sebut Sinyal Konsolidasi Politik dan Jaga Stabilitas
-
Kasus Kebakaran Meningkat, Pemprov DKI Minta Warga Tak Lengah Tinggalkan Rumah Saat Mudik
-
Korlantas Ungkap Penyebab Macet Panjang di Tol Japek dan MBZ Hari Ini
-
Momen Hangat di Penghujung Ramadan: Prabowo Sambut Megawati di Istana, Bahas Apa?
-
Hilal Tak Terlihat, Warga Iran Bakal Rayakan Lebaran 2026 pada Sabtu 21 Maret
-
Laka Lantas Meningkat, Lelah dan Lalai Nyalip Jadi Pemicu Utama Kecelakaan saat Mudik 2026
-
Siapa Dalang Teror Air Keras Aktivis KontraS? DPR Desak Bongkar Aktor Intelektual Oknum BAIS TNI
-
Di Balik Pesta Mewah, Lettice Events Ubah Cara Kelola Limbah Makanan Lebih Efektif
-
Komnas HAM Dorong Agar Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilakukan Melalui Pengadilan Umum
-
Hilal di Batas Kriteria MABIMS, Bosscha ITB Sebut Posisi Bulan Sulit Diamati