Suara.com - Selama lebih dari satu dekade terakhir, saham-saham hijau, yakni saham dari perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan, telah menunjukkan kinerja yang menjanjikan.
Bahkan, menurut laporan dari London Stock Exchange Group (LSEG), saham-saham ini sempat mencatat kenaikan hingga 59 persenlebih tinggi dibanding indeks pasar umum seperti The Financial Times Stock Exchange All Cap Index.
Namun, meskipun pertumbuhan jangka panjangnya menjanjikan, pasar saham hijau dikenal fluktuatif dalam jangka pendek.
Laporan LSEG menyebutkan bahwa dalam periode 12 bulan terakhir, kinerja saham hijau naik-turun, yang membuat sebagian investor ragu dan khawatir. Demikian seperti dikutip dari KnowESG
Salah satu penyebabnya adalah tekanan dari berbagai arah, mulai dari kondisi geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, hingga kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan yang memengaruhi pasar.
Selain itu, di awal tahun 2024, saham hijau sempat lesu dan tampil lebih buruk sekitar 3 persen dibanding pasar umum. Namun, di paruh akhir tahun, saham-saham ini mulai pulih dan menutup tahun dengan performa yang seimbang dengan pasar secara keseluruhan.
Meski begitu, sektor hijau tetap memiliki prospek cerah. Faktor-faktor seperti transisi energi global, peraturan lingkungan yang semakin ketat, serta lonjakan investasi di teknologi ramah lingkungan dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi dorongan kuat bagi pertumbuhan sektor ini.
LSEG mencatat bahwa pada kuartal pertama 2025, nilai pasar saham hijau global mencapai sekitar Rp126.400 triliun (US$7,9 triliun), atau sekitar 8,6 persen dari total pasar saham global.
Pendapatan dari produk dan layanan ramah lingkungan pun sudah melebihi Rp74.800 triliun (€4,4 triliun) pada tahun 2024, menjadikannya sektor dengan pertumbuhan tercepat kedua setelah teknologi.
Baca Juga: IHSG Bakal Terus Melanjutkan Penguatan, Target Level Hari Ini di 7.150
Beberapa sektor yang dinilai punya potensi besar antara lain: energi bersih, transportasi listrik, efisiensi energi, dan teknologi adaptasi iklim. Bahkan, pendapatan dari produk dan layanan hijau secara global sudah menembus angka Rp80.000 triliun (US$5 triliun), angka yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Meski naik-turun dalam jangka pendek, data historis menunjukkan bahwa saham hijau secara umum menghasilkan keuntungan lebih besar dalam jangka panjang.
Sejak 2008, saham hijau berhasil memberikan kinerja 59 persen lebih tinggi secara kumulatif dibanding tolok ukur pasar. Bahkan, dalam 70 persen dari periode lima tahunan yang diamati, saham hijau mengungguli pasar umum.
Jika dipandang sebagai sektor tersendiri, ekonomi hijau saat ini bisa disebut sebagai sektor terbesar keempat di dunia setelah teknologi, industri, dan kesehatan. Sub-sektor yang paling menonjol adalah manajemen dan efisiensi energi, yang mencakup hampir setengah dari total nilai ekonomi hijau global.
Secara wilayah, Asia menjadi penyumbang pendapatan hijau terbesar (44 persen ), sementara negara-negara berkembang mengalami pertumbuhan pendapatan hijau hampir dua kali lebih cepat dibanding negara-negara maju.
Menariknya, tren baru juga muncul dari meningkatnya fokus pada adaptasi dan ketahanan terhadap perubahan iklim. Pemerintah di berbagai negara mulai mengalokasikan anggaran untuk menghadapi risiko iklim, seperti banjir dan gelombang panas. Hal ini juga tercermin dalam dunia bisnis, di mana sekitar 34 persen perusahaan besar dan menengah kini sudah menyebutkan strategi adaptasi iklim dalam laporan tahunannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Kelakuan Zionis! Militer Israel Tewaskan 3 Warga Gaza, Puluhan Ditangkap di Tepi Barat
-
Seenaknya Blokade Selat Hormuz, Iran Sebut AS Seperti Perompak di Mata Dunia
-
Benjamin Netanyahu Koar-koar Sebut Israel Serang Iran Demi Cegah Holocaust Kedua
-
Tak Cukup Andalkan Polisi, Sosiolog Dorong Warga Jakarta Kompak Lawan Premanisme
-
Lakukan Penistaan Gegara Foto Yesus, Donald Trump Bela Diri Salahkan Media
-
Panduan Lengkap IDAI: Cara Benar Menangani Anak Tersedak dan Teknik RJP untuk Orang Awam
-
Iran Tertawakan Blokade AS di Selat Hormuz: Mereka akan Rindukan Harga Bensin 4 Dolar
-
Iran Tak Kenal Kata Tunduk! Tegaskan 'Gertak Sambal' AS di Selat Hormuz Sia-sia
-
Akses Masuk Mekkah Telah Dibatasi, Hanya Pemilik Izin Resmi yang Diizinkan Jelang Haji 2026
-
KPK Temukan Dokumen 'Sakti' dari Tangan Tersangka, Nama-nama Besar Pengusaha Rokok Masuk Radar