News / Nasional
Kamis, 19 Juni 2025 | 17:18 WIB
Salah satu momen saat Presiden Timor Leste Xanana Gusmao bercanda dengan Rocky Gerung. [YouTube/Rocky Gerung Official]

Saat bercerita tentang pengalamannya dan membandingkan dirinya dengan Rocky, Xanana melontarkan sebuah akronim tak terduga.

"Mungkin Bucendi. Tahu apa Bucendi? Bule Cetak Sendiri!" ujar Xanana, yang langsung membuat Rocky Gerung tertawa terbahak-bahak hingga memegangi kepalanya.

Lelucon ini bukan sekadar candaan. Ini adalah cara Xanana untuk mengatakan bahwa ia adalah produk perjuangan nyata di lapangan, bukan sekadar seorang pemikir "buatan" atau produk teoretis.

Rocky, yang biasanya menjadi pelempar lelucon, kali ini menjadi targetnya dan tampak sangat menikmati sindiran cerdas tersebut.

Sistem Pendidikan Seperti Mesin Fotokopi

Tampil dengan penuh semangat, Xanana Gusmao menyoroti masalah fundamental yang ia lihat di banyak negara, termasuk yang baru merdeka seperti Timor-Leste.

Ia gelisah melihat sistem pendidikan yang hanya berfokus pada gelar dan pengetahuan teknis, namun gagal mengajarkan hal yang paling esensial.

"Yang penting adalah pendidikan yang bisa membantu mereka (generasi muda) berpikir," tegas Xanana.

Menurutnya, banyak institusi pendidikan di dunia kini hanya menjadi tempat "fotokopi" ilmu pengetahuan tanpa mengajarkan cara mengolahnya.

Baca Juga: Anak Otto Hasibuan Dicap Dungu, Rocky Gerung: Apa Pun yang Didalilkan, Jokowi Adalah Pembohong!

"Pengetahuan yang ada di dunia itu fotokopi saja, fotokopi saja kasih ini (ke mahasiswa)," ujarnya dengan nada menyindir.

Ia mengkritik keras para penanggung jawab kebijakan yang hanya mengikuti aturan hukum secara buta (follow the law) tanpa memiliki "perasaan sosial" untuk melihat dampak sebenarnya di masyarakat.

Akibatnya, hukum menjadi kaku dan tidak berpihak pada keadilan substansial. Bagi Xanana, krisis terbesar adalah krisis logika dan filsafat.

"Cara berpikir, logika, filsafat. Ini yang... kalau tidak, tidak bisa membantu," katanya.

Rocky Gerung: Dari Diplomasi Otak ke Diplomasi Dagang

Menyambung kegelisahan Xanana, Rocky Gerung memberikan analisis tajam mengenai pergeseran makna diplomasi di panggung global.

Menurutnya, diplomasi pada hakikatnya adalah upaya luhur untuk menghindari perang dan kekerasan melalui pertarungan otak.

"Diplomasi itu adalah upaya untuk menghindari politik kekerasan," ujar Rocky.

Namun, hakikat itu kini telah tergerus. Di era modern yang didominasi efisiensi teknologi dan kepentingan ekonomi, diplomasi kehilangan jiwanya.

Perang tidak lagi dianggap biadab, melainkan efisien, karena bisa dilakukan dari jarak jauh menggunakan drone dan kecerdasan buatan (AI).

Akibatnya, fungsi diplomasi pun direduksi secara drastis.

"Ilmu diplomasi sekarang diubah menjadi ilmu untuk memungkinkan ada transaksi dagang dengan negara lain. Cuma itu sekarang," kritik Rocky.

Ia menjelaskan bahwa diplomasi tidak lagi menjadi ajang adu retorika dan logika untuk mencari kebenaran, melainkan hanya menjadi alat untuk memuluskan kepentingan ekonomi. Kemampuan bernegosiasi kini digantikan oleh model-model ekonometri yang dingin dan transaksional.

Jalan Keluar: Moralitas Negara Kecil dan Kekuatan Akal Sehat

Di tengah pesimisme ini, Rocky Gerung justru melihat secercah harapan dari negara-negara kecil seperti Timor-Leste.

Ketika negara-negara adidaya terjebak dalam absurditas perang nuklir—di mana "menang jadi arang, kalah jadi abu"—justru negara kecillah yang memiliki kekuatan moral untuk bersuara.

"Siapa yang bisa menegur itu? Bukan negara besar. Negara kecil harus menegur itu," tegasnya.

Rocky mendorong agar Timor-Leste tidak terjebak dalam perlombaan senjata, melainkan mengunggulkan apa yang menjadi kekuatannya: diplomasi yang berbasis pada pertarungan pikiran dan moral.

Ide ini sejalan dengan seruan Xanana untuk menghidupkan kembali pendidikan yang mengasah logika dan filsafat.

Load More