Suara.com - Youtuber sekaligus founder Malaka Project, Ferry Irawandi menanggap istilah 'wahabi lingkungan' yang ditujukan kepada aktivis lingkungan yang menolak tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya adalah bentuk sesat pikir.
Pernyataan itu disampaikan Ferry Irawandi menanggapi pernyataan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Ulil Abshar Abdalla yang menyinggung soal 'wahabi lingkungan' saat berdebat dengan Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik soal polemik izin tambang di Raja Ampat.
Dalam siniar yang tayang di akun Youtube pribadinya pada Jumat (20/6/2025), Ferry Irwandi awalnya menyebut tudingan wahabi dari Gus Ulil kepada aktivis lingkungan penolak tambang bukan barang baru dan kerap digaungkan oleh pihak-pihak yang pro dengan tambang di media sosial.
"Sebenarnya argumen-argumen yang disampaikan oleh Gus Ulil di tayangan tersebut itu bukan barang baru karena semua pihak yang pro tambang Nikel di Raja Ampat punya basis argumen yang sama. Bisa kalian temukan di Twitter TikTok ataupun Instagram, jadi enggak susah buat dipatahin. Sesat pikir tersebut adalah straw man fallacy dan ini tercantum jelas sekali dalam istilah wahabi lingkungan," ujar Ferry Irwandi dalam siniar yang dikutip Suara.com pada Sabtu (21/6/2025).
Menanggapi soal tudingan 'wahabi lingkungan' dari Gus Ulil, Ferry Irwandi menganggap orang yang menuding aktivis lingkungan kontra dengan industri pertambangan adalah bentuk kesalahan dalam bernalar alias sesat pikir. Menurutnya, para aktivis lingkungan yang menyatakan penolakan terhadap tambang di Raja Ampat sudah menghitung potensi kerugian dari berbagai aspek.
"Seakan-akan yang menolak pertambangan ini semuanya adalah aktivis lingkungan yang anti dengan industri dan kemajuan. jelas ini sesat pikir, kenapa demikian? Karena faktanya penolakan tambang nikel di Raja Ampat bukan cuma soal idealisme lingkungan tapi perhitungan untuk rugi secara ekonomi, ekologi, sosial dan jangka panjang," ungkapnya.
Lebih lanjut, Ferry Irwandi menyebut sesat pikir itu karena Gus Ulil terlalu menyepelekan isu lingkungan yang digaungkan para kelompok aktivis penolak tambang.
"Jadi ini sesat pikir karena menyederhanakan posisi lawan jadi karakter lemah yang mudah diserang, seakan-akan alasan penolakan ini cuma masalah lingkungan. Padahal aslinya udahlah ngerusak lingkungan, enggak cuan pula ya kan. Mau bilang ini majuin ekonomi ya ekonominya siapa?" beber Ferry Irwandi.
Selain itu, Ferry juga menyinggung ucapan Gus Ulil yang menganggap kelompok 'wahabi lingkungan' yang menolak tambang nikel tidak mendukung kemajuan ekonomi di kawasan Raja Ampat. Ferry pun mengungkapkan data terbaru soal peringkat Raja Ampat yang masuk 10 besar menjadi provinsi termiskin di Indonesia dan wilayah Papua.
Baca Juga: Bisa Picu Konflik di Raja Ampat, Senantor Papua: Jangan Adu Domba Kita Cuma Gara-gara Tambang!
Dia juga menyebut kawasan-kawasan lain di Indonesia yang menjadi sasaran industri pertambangan yang disebut masih menjadi dearah termiskin.
Nah, kalau pertambangan ini memang benar seperti yang dikatakan oleh para pronya ya bisa bikin penduduk sejahtera, pendapatan meningkat hidup lebih baik maka daerah kayak Riau, Jambi, Papua dan Maluku pasti lepas dari kemiskinan dan jadi provinsi paling sejahtera, bukannya Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur," ungkapnya.
Ferry juga menyampaikan alasannya membuat video soal tambang di Raja Ampat bukan semata-mata karena dirinya adalah aktivis lingkungan, tapi karena menolak untuk dibodoh-bodohi.
"Gue bahkan harus menyatakan secara jelas nih di video sebelumnya benar-benar di awal video kalau gua bukan aktivis lingkungan, gua bukan anti tambak dan nikel, nikel bukan anti hilirisasi dan industri handphone gua dari nikel mobil gua juga butuh nikel gua cuman anti kebodohan aja teman-teman," ungkapnya.
Tag
Berita Terkait
-
Bisa Picu Konflik di Raja Ampat, Senantor Papua: Jangan Adu Domba Kita Cuma Gara-gara Tambang!
-
Fakta IUP Raja Ampat Belum Dicabut, Senator Papua Sentil Bahlil: Mau Dibawa ke Mana Negara Ini?
-
3 Mahasiswa Pendemo Gibran Ditangkap Paspampres, Wali Kota Blitar: Saya Malu dan Kecewa Sekali
-
Usai Dicap Wahabi oleh Gus Ulil Imbas Tolak Tambang Raja Ampat, HP Aktivis Greenpeace Nyaris Diretas
-
Anak Otto Hasibuan Dicap Dungu, Rocky Gerung: Apa Pun yang Didalilkan, Jokowi Adalah Pembohong!
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat
-
Gus Ipul Pastikan Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Transparan
-
Tutup Program Magang Kemendagri Wamendagri Bima Arya Tekankan Pentingnya Penguatan Karakter
-
Evaluasi Rekrutmen Polri: Hapus Kuota Khusus, Libatkan Multi-aktor
-
Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun 2026, Mendikdasmen Siapkan Dana Rp14 Triliun
-
Peneliti Temukan Cara Ubah Kulit Kayu Eukaliptus Jadi Penangkap Polusi, Seberapa Efektif?