Logikanya sederhana: AI dirancang untuk mengambil alih fungsi kecerdasan alami manusia. Ketika kecerdasan alami itu jarang diasah, kemampuannya pun akan tumpul. Dari premis ini, Prof. Sulfikar menarik kesimpulan yang menohok.
"Mempromosikan AI secara besar-besaran tanpa pemahaman yang cukup berarti ikut mempromosikan kebodohan."
Ia menambahkan ironi di baliknya, "Kecerdasan buatan dirancang untuk menggantikan kecerdasan natural, dan jika kecerdasan natural jarang digunakan, kapasitasnya akan berkurang."
Sebagai antitesis dari pendekatan Indonesia yang terkesan gegabah, ia mencontohkan Singapura. Negara tetangga itu sangat berhati-hati dalam mengadopsi AI, terutama di sektor krusial seperti pendidikan.
"Singapura sangat hati-hati dalam penggunaan AI, menetapkan batas yang jelas kapan boleh dan tidak boleh digunakan, bahkan memberikan nilai nol pada mahasiswa yang menyalahgunakan AI dalam tugas," paparnya.
Tiga Konsekuensi Sosial yang Mengintai dan Kritik Kebijakan
Lebih jauh, Prof. Sulfikar memetakan setidaknya tiga konsekuensi sosial besar yang mengintai Indonesia jika adopsi AI tidak dikelola dengan bijak. Pertama adalah disrupsi pasar tenaga kerja. "Kehilangan lapangan pekerjaan untuk jutaan orang," katanya.
Kedua, revolusi di dunia pendidikan di mana "peran guru dan profesor bisa tergantikan."
Dan yang ketiga, ancaman terhadap stabilitas sosial-politik melalui "penyebaran informasi palsu (seperti deep fake) yang dapat menyebabkan disrupsi sosial politik."
Baca Juga: Lebih Pilih Pakai AI, Perusahaan Lowongan Kerja Indeed PHK 1.300 Karyawan
Ia juga pesimis Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam revolusi AI global. Menurutnya, Indonesia hanya akan menjadi pasar.
"Indonesia kemungkinan besar hanya akan menjadi pengguna atau penonton dalam dunia AI karena butuh investasi besar dan negara lain sudah memulai jauh lebih dulu."
Pada akhirnya, promosi AI yang dilakukan Gibran dipandang sebagai cerminan dari keterbatasan dalam memahami isu-isu kompleks dan bisa memperburuk masalah yang sudah ada.
"Promosi AI oleh Gibran bisa jadi merupakan indikator keterbatasannya dalam memahami masalah yang kompleks," ujarnya, seraya khawatir bahwa "AI bisa memperparah ketimpangan sosial dan rendahnya daya kognitif anak-anak."
Prof. Sulfikar menyimpulkan bahwa seluruh pendekatan ini tidak terencana secara matang.
"Apa yang dilakukan Gibran dalam promosi AI lebih berdasarkan intuisi, tidak terprogram secara sistematis, dan tidak ada grand design kebijakan AI yang jelas," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Siapa Sebenarnya Pelapor Pandji? Polisi Usut Klaim Atas Nama NU-Muhammadiyah yang Dibantah Pusat
-
Langit Jakarta 'Bocor', Mengapa Modifikasi Cuaca Tak Digunakan Saat Banjir Melanda?
-
Debit Air Berpotensi Naik, Ditpolairud Polda Metro Jaya Sisir Permukiman Warga di Pluit
-
Bus TransJakarta Hantam Tiang PJU di Kolong Tol Tanjung Barat, Satu Penumpang Terluka!
-
El Clasico Legenda Bakal Hadir di GBK, Pramono Anung: Persembahan Spesial 500 Tahun Jakarta
-
Jakarta Dikepung Banjir, Ini 5 Cara Pantau Kondisi Jalan dan Genangan Secara Real-Time
-
Superflu vs Flu Biasa: Perlu Panik atau Cukup Waspada?
-
BNI Pertegas Dukungan Sekolah Rakyat untuk Perluas Pemerataan Pendidikan Nasional
-
Tutup Rakernas I 2026, PDIP Umumkan 21 Rekomendasi Eksternal
-
Banjir Rendam Jakarta, Lebih dari Seribu Warga Terpaksa Mengungsi