Suara.com - Sebuah foto yang dirilis Istana menampilkan citra yang nyaris sempurna. Presiden Prabowo Subianto, duduk santai bersandar di kursi, tertawa lepas saat berbicara di telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Narasi yang menyertainya pun sama mulusnya; "sebuah pembicaraan yang sangat baik, yang akan membawa hubungan dagang kedua negara ke era baru yang saling menguntungkan."
Kabar baik itu dipermanis dengan pengumuman penurunan tarif resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen—sebuah kemenangan negosiasi yang dirayakan oleh pemerintah. Namun, di balik citra diplomasi personal yang hangat dan angka-angka yang menggembirakan ini, tersembunyi pertanyaan besar yang sengaja dibiarkan menggantung. Apa harga sesungguhnya dari 'kemenangan' ini?
Misteri di Balik 'Detail yang Sedang Dikerjakan'
Pemerintah, melalui Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi meminta publik untuk menunggu kesepakatan payungnya terlebih dahulu, sementara detail krusialnya masih tersimpan rapat di ruang negosiasi.
"Khusus untuk hal ini kami minta temen temen bersabar sedikit lagi, detailnya sedang dikerjakan oleh tim negosiasi, kesepakatan payungnya sudah ada," kata Hasan di kantor PCO, Gedung Kwarnas, Jakarta Pusat, Rabu (16/7/2025).
Pernyataan "detailnya sedang dikerjakan" adalah frasa kunci yang membedakan antara pengumuman kemenangan dan kesepakatan final. Dalam negosiasi dagang tingkat tinggi, terutama dengan pemerintahan AS di bawah Donald Trump yang mengusung kebijakan "America First", tidak ada konsesi yang diberikan secara gratis.
Penurunan tarif sebesar 13 persen adalah angka yang sangat signifikan. Pertanyaan yang wajar dan harus dijawab adalah: Konsesi apa yang diberikan Indonesia sebagai gantinya? Apakah terkait akses pasar yang lebih luas untuk produk AS? Apakah menyangkut kebijakan investasi, hak kekayaan intelektual, atau komitmen geopolitik lainnya? Inilah detail yang akan menentukan apakah ini kemenangan sejati atau sekadar pertukaran yang setimpal.
Diplomasi Personal Sebagai Pembuka, Bukan Penutup
Baca Juga: Prabowo Diprediksi Tak akan Maju di Pilpres 2029, Rocky Gerung Bocorkan Sosok Penerus: Bukan Gibran?
Tidak diragukan lagi, kemampuan Prabowo membangun hubungan personal dengan Trump, seperti yang digambarkan dalam foto tersebut adalah aset diplomasi yang penting.
Hal ini diakui oleh Hasan Nasbi yang menyebut adanya "negosiasi luar biasa yang juga dilakukan oleh presiden kita secara langsung dengan Presiden Donald Trump."
Namun, dalam catur perundingan global, hubungan personal hanyalah pelumas yang melancarkan mesin negosiasi. Isi dari kesepakatan itu sendiri dirancang oleh para teknokrat, dalam hal ini tim yang dipimpin Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berdasarkan kalkulasi untung-rugi yang dingin.
Publik kini disajikan sebuah sampul buku yang menarik; Presiden yang akrab dengan pemimpin dunia, menghasilkan potongan tarif. Namun, isi dari buku tersebut—bab-bab yang memuat klausul dan pasal-pasal perjanjian—masih menjadi misteri yang akan diungkap langsung oleh Prabowo setibanya di tanah air.
Saat Prabowo mendarat, sorotan publik seharusnya tidak hanya pada perayaan penurunan tarif. Perhatian utama harus tertuju pada "ongkos" dari penurunan tersebut.
Pengumuman detail itulah yang akan menjawab apakah tawa lepas Prabowo di telepon benar-benar menandakan kemenangan mutlak bagi Indonesia, atau sekadar awal dari babak baru perdagangan yang ongkosnya belum kita ketahui sepenuhnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- Bukan Sekadar Wacana, Bupati Bogor Siapkan Anggaran Pembebasan Jalur Khusus Tambang Tahun Ini
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Mendagri Pimpin Rakor Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra
-
DPRD DKI Pastikan Tiang Monorel Rasuna Said Kembali ke Adhi Karya usai Dibongkar Pemprov
-
Laras Faizati Divonis Bersalah Tapi Bebas, Bivitri: Ini Bukan Putusan Demokratis
-
Prabowo Diprediksi Reshuffle Usai Evaluasi saat Retret, Siapa saja Menteri Layak Diganti?
-
Soal Vonis Laras Faizati, Ketua Komisi III DPR Sebut Bukti Manfaat Nyata KUHP dan KUHAP Baru
-
Prabowo Naikkan Anggaran Riset 50 Persen Jadi Rp12 Triliun, Fokus pada Swasembada Pangan dan Energi
-
Pembongkaran Tiang Monorel Rasuna Said Tak Langgar Prosedur, Pemprov: Itu Berdiri di Atas Tanah Kita
-
KPA: Konflik Agraria Naik 15 Persen di Tahun Pertama Prabowo, Kekerasan Aparat Melonjak
-
OPM Tembaki Pesawat Hercules, Wapres Gibran Batal ke Yahukimo dan Balik ke Jakarta
-
Buntut Kasus Aurelie Moeremans, Komisi XIII DPR Akan Gelar Rapat Gabungan Bahas 'Child Grooming'