Suara.com - Deteksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini makin canggih, berkat bantuan kecerdasan buatan (AI) dan citra satelit resolusi tinggi. Namun, teknologi saja tidak cukup. Diperlukan kolaborasi nyata di tingkat tapak untuk benar-benar mencegah bencana ini.
Hal ini ditegaskan oleh Robi Deslia Waldi, peneliti dari IPB University sekaligus anggota Regional Fire Management Resource Center Southeast Asia (RFMRC-SEA), dalam diskusi daring FOLU Talks yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu (6/8).
“Deteksi dini berbasis AI dan komunitas itu penting. Karena semua kembali ke bagaimana teknologi digunakan dan dipahami oleh masyarakat di lapangan,” ujar Robi Deslia Waldi, seperti dikutip dari ANTARA baru-baru ini.
Menurut Robi, kecerdasan buatan telah banyak digunakan untuk memprediksi hotspot (titik api) dengan menganalisis cuaca, kelembapan tanah, dan tutupan lahan.
AI ini mendukung teknologi satelit seperti Landsat, VIIRS, dan Sentinel-2 yang selama ini dipakai untuk pemantauan jarak jauh.
Namun, keakuratan deteksi tetap perlu dikonfirmasi langsung di lapangan.
“AI bisa memprediksi, tapi yang bisa memastikan apakah itu benar-benar api atau tidak ya masyarakat lokal. Tanpa mereka, respon bisa terlambat,” kata Robi.
Mengejar FOLU Net Sink 2030: Bukan Hanya Target, Tapi Tanggung Jawab
Pemerintah Indonesia menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan menjadi penyerap emisi bersih (net sink) pada 2030. Ini berarti sektor ini harus menyerap lebih banyak emisi dibandingkan yang dilepaskan, setara -140 juta ton CO ekuivalen.
Baca Juga: Karhutla di Muaro Jambi Masih Membara, 270 Hektar Lahan Terbakar
Kebakaran hutan dan lahan, terutama di lahan gambut, menjadi ancaman serius terhadap target ini. Karenanya, menurut Robi, deteksi dini dan respons cepat harus disertai integrasi data dari berbagai sumber, riset aplikatif yang inklusif, dan pelibatan generasi muda serta komunitas lokal.
“Arah strategis ke depan adalah kombinasi teknologi dan partisipasi masyarakat. Tanpa itu, target FOLU Net Sink akan sulit dicapai,” ujarnya.
Data KLHK melalui sistem SiPongi menunjukkan bahwa luas area terbakar memang menurun drastis dibandingkan puncak 2015, ketika 2,6 juta hektare terbakar. Meski sempat naik di 2019, tren cenderung menurun hingga 2024. Namun tahun ini, indikasi kebakaran kembali muncul, dengan 8.594 hektare terbakar hanya sampai Juni 2025.
“Penurunan bukan berarti aman. Sekali lengah, kebakaran bisa kembali meluas. Tahun ini saja, di semester pertama sudah 8.500-an hektare yang terbakar,” kata Robi
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pilihan HP RAM 16 GB Paling Murah, Penyimpanan Besar dan Performa Kencang
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Prabowo Bakal Copot Lagi Pejabat 'Telur Busuk', Hashim Djojohadikusumo: Semua Opsi di Atas Meja
- 35 Link Poster Ramadhan 2026 Simpel dan Menarik, Gratis Download!
- Lebih Bagus Smart TV atau Android TV? Ini 6 Rekomendasi Terbaik Harga di Bawah Rp3 Juta
Pilihan
-
Retinol Boleh Dicampur dengan Apa? Ini 3 Rekomendasi Produk yang Aman Dipakai Bersama
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Kisah Ramadan Pertama Para Mualaf: Antara Adaptasi, Haru, dan War Takjil
-
Bahlil Mantap Nyaleg 2029: Wartawan Jangan Tanya Lagi, Saya Caleg!
-
Kemensos Gandeng YLKI Tindaklanjuti Aduan BPJS PBI Nonaktif, Puluhan Laporan Masuk
-
Gus Ipul Minta Wali Kota Denpasar Cabut Pernyataan soal BPJS PBI
-
Mudik Gratis BUMN 2026 Resmi Dibuka, Jasa Raharja Siapkan Kuota 23.500 Pemudik
-
Gempa Beruntun M 5,5 Guncang Karatung dan Melonguane Sulawesi Utara
-
Gunung Semeru Lima Kali Erupsi Hari Ini, PVMBG Ungkap Lima Titik Waspada
-
Gus Ipul Ajak ASN Kemensos Turun Ground Check DTSEN
-
Kisah Dokter Diaspora Terobos Sekat Birokrasi demi Misi Kemanusiaan di Sumatra
-
Sarmuji Luruskan Fatsun Politik Fraksi Golkar: Bukan Larang Kritik Prabowo-Gibran, Tapi Ada Etikanya