Suara.com - Mantan Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong, menyajikan sebuah analisis tajam mengenai rasa cinta Tanah Air di tengah kekecewaan terhadap sistem pemerintahan.
Dalam perbincangan mendalam bersama ahli hukum tata negara Refly Harun, Tom Lembong mengurai cara untuk tetap memegang teguh nasionalisme meski merasa dikhianati oleh negara.
Pembahasan ini mengemuka saat Refly Harun menanyakan pandangan Tom Lembong tentang "Merah Putih" setelah melalui berbagai dinamika politik yang tajam, terutama pasca-Pilpres 2024. Alih-alih menjawab dengan sentimen pribadi, Co-captain Timnas AMIN ini justru menawarkan sebuah refleksi filosofis yang kuat.
Menurut Tom, kunci untuk menjaga kecintaan pada Indonesia adalah dengan membedakan secara tegas antara "bangsa" dan "negara" atau "sistem".
Baginya, kekecewaan terhadap aparat, kebijakan, atau carut-marutnya birokrasi tidak seharusnya melunturkan rasa cinta pada manusianya.
"Saya selalu percaya bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling baik di dunia, minimal paling baik hati," ujar Tom Lembong dalam kanal YouTube Refly Harun.
Kepercayaan ini, menurutnya, bukan isapan jempol belaka. Ia lantas menggunakan sebuah analogi kuat tentang seseorang yang merasakan ketidakadilan sistem hukum hingga harus mendekam di balik jeruji besi.
Alih-alih menjadi benci pada Indonesia, pengalaman pahit itu justru bisa mempertebal keyakinan akan kebaikan bangsa.
Tom Lembong menggambarkan bagaimana seseorang dalam posisi terzalimi justru akan dibanjiri dukungan moral dan kebaikan dari masyarakat luas.
Baca Juga: Hotman Paris Minta Prabowo Bebaskan 8 Importir Gula usai Tom Lembong, Reaksi Kejagung Mengejutkan
Mulai dari doa, pesan semangat di media sosial, surat, hingga kiriman makanan. Bahkan di dalam tahanan sekalipun, kebaikan dari sesama warga binaan dan petugas yang bersimpati akan terasa.
Pengalaman menerima kebaikan dari rakyat inilah yang menjadi jangkar. "Setelah sembilan bulan menerima banyak kebaikan... saya semakin yakin bahwa bangsa ini layak dicintai dan dilayani," katanya, menggambarkan perspektif orang yang mengalami situasi tersebut.
Analisis ini menjadi sebuah sentilan keras bagi publik dan elite politik. Tom seolah ingin mengatakan bahwa sumber masalah bukanlah pada karakter atau watak bangsa Indonesia, melainkan pada sistem dan segelintir oknum yang menggerogotinya.
Dengan memisahkan dua entitas ini, seseorang dapat terus menjadi kritikus paling vokal terhadap pemerintah, namun di saat yang sama tetap menjadi patriot paling setia bagi bangsanya.
Perspektif ini menawarkan cara pandang yang lebih dewasa dalam berpolitik: mengkritik negara adalah wujud cinta pada bangsa, sebuah upaya untuk memperbaiki rumah yang dicintai agar lebih layak huni bagi semua.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Rusia Minta Evakuasi Diplomat dari Ibu Kota Ukraina, Eropa Memanas
-
Gaza Kembali Membara! Serangan Israel Tewaskan Kolonel Polisi dan Lukai 17 Orang
-
Tulisan Tangan Terakhir Jeffrey Epstein Dipublikasikan, Isi Pesannya Bikin Geger
-
Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus
-
Kelicikan Zionis Israel, Beirut Selatan Dibombardir Saat Gencatan Senjata
-
Warga Perumahan Taman Mangu Indah Bantah Isu Banyak Rumah Dijual Akibat Banjir
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?