Suara.com - Polemik lawas mengenai keaslian ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memanas.
Pakar hukum tata negara, Feri Amsari, melontarkan pernyataan menohok yang mendesak adanya pembuktian konkret, bukan sekadar klarifikasi verbal, untuk menyudahi drama yang telah menggerus kepercayaan publik selama bertahun-tahun.
Dalam sebuah diskusi di siniar (podcast) bersama analis politik Hendri Satrio, Feri Amsari secara lugas menyatakan bahwa penyelesaian isu ini sebenarnya sangat sederhana.
Menurutnya, semua spekulasi bisa langsung berhenti jika bukti otentik ditunjukkan secara transparan kepada masyarakat.
Ia menyentil bahwa klarifikasi yang selama ini dilakukan, baik oleh pihak Istana maupun Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai almamater Presiden, belum cukup kuat untuk mematahkan keraguan di ranah hukum dan opini publik. Baginya, pembuktian adalah kunci utama.
"Dalam hukum, yang penting adalah alat bukti, bukan sekadar pernyataan," tegas Feri Amsari.
Ia menggarisbawahi bahwa meski UGM sudah berkali-kali memberikan jaminan, langkah tersebut belum diikuti dengan pembuktian fisik yang bisa diakses dan diverifikasi secara terbuka, membuat isu ini terus memiliki celah untuk diperdebatkan.
Taruhan Demokrasi dan Kepercayaan Publik
Feri Amsari tidak memandang isu ijazah ini sebagai persoalan sepele. Ia memperingatkan adanya dampak sistemik yang sangat serius jika keraguan publik ini tidak segera dituntaskan dengan bukti yang tak terbantahkan.
Baca Juga: Bendera One Piece di Hari Kemerdekaan: Antara Aksi Kreatif dan Tuduhan Makar
Menurutnya, ini menyangkut integritas jabatan presiden dan fondasi demokrasi Indonesia.
Jika sampai terbukti ada ketidakaslian, Feri menyebut hal itu akan menjadi preseden buruk yang menunjukkan adanya potensi tipu daya dalam pemenuhan syarat pencalonan presiden.
Ini bukan hanya mencoreng legacy Jokowi, tetapi juga mencederai kepercayaan rakyat terhadap seluruh proses politik dan institusi negara.
"Seorang pejabat negara, apalagi sekelas presiden, dilarang berbohong. Hal ini berdampak pada kebijakan yang dibuat dan, yang lebih penting, pada kepercayaan publik," tambah Feri, menekankan bahwa kejujuran seorang pemimpin adalah mata uang yang paling berharga dalam pemerintahan.
Misteri 'Dalang' di Balik Isu yang Terus Berulang
Di sisi lain, Hendri Satrio yang menjadi rekan diskusi Feri menyoroti aspek politik di balik isu yang tak kunjung padam ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
Terkini
-
Dikabarkan Menyerah dan Merapat ke Solo, dr Tifa Beri Jawaban Menohok Lewat 'Senjata' Baru!
-
Percakapan Rahasia Pangeran MBS ke Trump: Teruskan Perang, Hancurkan Iran
-
Tarif Rp1 Picu Lonjakan, Penumpang Transjakarta Tembus 697 Ribu dalam Sehari saat Lebaran
-
Terapkan Operasional Ramah Lingkungan, BNI Hemat Energi 559 Ribu Giga Joule Sepanjang 2025
-
Perang Hari ke-27: Ratusan Pesawat Tempur AS-Israel Rontok di Tangan Iran
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Mendekati Masa Tenggat, KPK Ingatkan Penyelenggara Negara Segera Laporkan LHKPN
-
Krisis Energi, Presiden Korsel Minta Warga Mandi Jangan Lama-lama, Cas HP Hanya Siang
-
Viral Tuduhan Buang Sampah ke Kali Pesanggrahan, DLH DKI: Itu Titik Penampungan Resmi
-
Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?