Suara.com - Profil Wakil Ketua Komisi II DPR dari Fraksi Golongan Karya atau Golkar, Zulfikar Arse Sadikin mengakui bahwa dirinya sulit mendapat uang halal ketika menjadi politikus atau anggota DPR RI. Pernyataan ini dia sampaikan dalam sebuah diskusi ICW, Senin (11/8/2025).
Arse menyatakan dirinya tidak selalu berterus terang kepada keluarga terkait dengan sumber dari uang yang didapatkan. Kendati demikian, sebagai kepala keluarga dia selalu mengupayakan rezeki dari jalan yang halal.
Namun, menurut Arse perilaku korup ini telah mendarah daging sejak masa mahasiswa. Menurt dia, bagi yang familiar dengan aktivitas organisasi kampus, laporan keuangan yang tidak pernah beres cukup jadi buktinya.
Dalam konteks pencalonan dirinya sebagai anggota DPR, Arse mengaku sebagian besar modal didapatkan dari sumbangan bahkan pinjaman. Setelah terpilih, Arse harus memikirkan cara mengembalikan utang-utang tersebut.
Profil Zulfikar Arse Sadikin
Zulfikar Arse Sadikin terpilih sebagai anggota DPR RI melalui Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur III. Ia mengenyam pendidikan Sarjana Ilmu Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada, dan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia pada 2008.
Lulus kuliah S-2 Arse terjun ke politik praktis dengan bergabung bersama Partai Golkar. Dia bergiat di DPP Partai Golkar 2011 – 2015, Wasekjen DPP Partai Golkar.
Tahun: 2014 – 2019, dan Departemen Pemenangan Pemilu Jawa Timur 2017 – 2019. Selain di dalam kepengurusan, Arse juga bekerja bersama Golkar sejak tamat S-2. Arse merupakan Tenaga Ahli Fraksi Partai Golkar 2010 – 2019 sebelum duduk di Senayan dalam payung partai yang sama.
Ia juga pernag menjadi Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Tulungagung, dan Ketua PB HMI.
Baca Juga: Demo Desak Bupati Pati Mundur, DPR Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan
Arse belakangan aktif bersuara terkait dengan rencana revisi Undang-Undang Pemilu (UU Pemilu). Menurutnya, tujuan revisi harus dipastikan terlebih dahulu sebelum nantinya digulirkan dan masuk ke dalam proses pembahasan.
Berdasarkan dari pengalaman beberapa kali penyelenggaraan Pemilu di Indonesia, menurutnya, revisi yang dilakukan terhadap aturan pemilu selalu mengarah kepada penguatan demokrasi dan menjaga suara publik. "Dan ke depan menurut saya, kita tetap bahasanya tujuannya ke sana," kata Arse saat diskusi soal revisi UU Pemilu di Jakarta.
Namun, Arse menyayangkan bahwa tujuan tersebut belum ada dalam pandangan pemerintah mengenai RUU tersebut. Ia menilai bahwa landasan yang akan diambil pemerintah dalam merevisi UU tersebut berasal dari pandangan elit dan bukan pandangan rakyat sebagai pemilih.
Misalnya, katanya, pemerintah ingin memperkuat sistem presidensial dalam revisi UU itu, padahal saat ini kondisinya sistem presidensial sudah sangat kuat. Pasalnya, kata dia, Presiden sudah memiliki wewenang yang sangat kuat.
Selain itu, menurut Arse, pemerintah juga ingin menyederhanakan sistem kepartaian. Namun Arse menilai bahwa permasalahan yang sebenarnya bukan pada jumlah partai, melainkan keseimbangan komposisi partai di parlemen.
Jika ingin mengarah pada demokrasi, dia mengatakan bahwa prinsip check and balance harus berjalan sehingga partai politik mempunyai kekuatan yang efektif. Namun fenomena saat ini, kata dia, partai politik yang kalah justru bergabung dengan partai pemenang.
"Kenapa kita nggak membiarkan saja kalau yang menang ya silakan memerintah mewujudkan janji kampanye, dan yang kalah memastikan yang menang itu mewujudkan tujuan negara," ujarnya.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni
Berita Terkait
-
Potret Presiden Prabowo Sampaikan Pidato Kenegaraan Perdana di Sidang Tahunan MPR
-
Strategi Cerdas Puas Nyanyikan 'Imagine' John Lennon Kritisi Kesetaraan Gender di Sidang Parlemen
-
Sindir Rakyat yang Gali Cuan Demi Kepentingan Pribadi, Puan: Serakahnomics!
-
3 Kebijakan Pemerintahan Prabowo yang Dipuji Ketua DPR Puan Maharani
-
Pesan Ganda Puan Maharani di Sidang Tahunan 2025: Selendang Anti-Penjajah, Batik Pengaruh Jepang
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
AS Evakuasi Staf dan Warganya dari Israel, Isu Perang dengan Iran Memanas
-
Mengurai Krisis Dokter Spesialis di Indonesia: Di Mana Letak Masalahnya?
-
Sekolah Swasta Gratis di Semarang Bertambah Jadi 133, Jangkau Lebih Banyak Siswa
-
Anies Baswedan Soroti Dinasti Politik: Pemerintah Harusnya Bekerja untuk Rakyat, Bukan Keluarga!
-
Anies Baswedan Beri Restu: Ormas Gerakan Rakyat Resmi Jadi Partai, Apa Langkah Selanjutnya?
-
Terbongkar! Hutan Kota Cawang Jadi Sarang Aktivitas Asusila, Pemkot Gerebek dan Segel Lokasi
-
Tolak Ambang Batas Parlemen, Partai Gerakan Rakyat Usul PT 0 Persen: Jangan Ada Suara Mubazir!
-
Luput dari Pengawasan, Praktik Tak Manusiawi di Panti Disabilitas Mental Dilaporkan ke Mensos
-
Siap Berdebat dengan Menteri Pigai Soal HAM, Zainal Arifin Mochtar: Bukan Teoretis tapi Tagih Janji
-
Demo Mahasiswa di Mabes Polri saat Ramadan, Polisi Berpeci dan Bersorban Siap Bagi Takjil