Suara.com - Tawuran yang kembali pecah di Manggarai, Jakarta Selatan, memicu reaksi keras dari parlemen Kebon Sirih.
Sekretaris Komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono, mendesak agar pos pantau di kawasan rawan konflik tersebut dioperasikan selama 24 jam penuh untuk mengantisipasi bentrokan yang kerap terjadi.
Ia menekankan bahwa potensi konflik bisa meletus kapan saja, terutama pada jam-jam rawan seperti larut malam dan menjelang subuh.
"Potensi tawuran dapat timbul kapan saja, khususnya pada jam rawan seperti larut malam atau menjelang subuh. Pemprov perlu memberikan dukungan anggaran yang memadai guna memastikan kegiatan piket berjalan optimal," ujarnya.
Menurut Mujiyono, kehadiran petugas yang siaga penuh di pos pantau terbukti efektif dalam mempercepat respons dan meminimalkan dampak tawuran.
Keberadaan mereka di lokasi menjadi krusial untuk melerai massa yang bertikai.
"Selama ini, pos pantau telah efektif melerai tawuran karena petugas di lokasi kerap menjadi pihak pertama yang memisahkan massa," jelasnya.
Akar Masalah Jadi Sorotan
Lebih jauh, Mujiyono menegaskan bahwa penanganan tawuran tidak cukup hanya dengan patroli rutin atau program bersifat seremonial.
Baca Juga: Terowongan Manggarai Membara! Tawuran Warga Pecah Akibat Serangan Petasan, Senjata Tajam Beredar
Menurutnya, masalah ini merupakan puncak dari persoalan sosial dan ekonomi yang lebih mendalam.
Ia menyoroti beberapa akar masalah yang harus segera ditangani secara komprehensif.
"Mulai dari minimnya lapangan kerja, tingginya angka putus sekolah, terbatasnya ruang ekspresi positif bagi remaja, hingga lemahnya pengawasan lingkungan. Penanganan tawuran harus menyentuh akar masalah ini, bukan sekadar meredam gejalanya," ucapnya.
Untuk itu, Mujiyono mendorong adanya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, sinergi antar lembaga menjadi kunci untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.
"Dinas Pendidikan, BUMN/BUMD, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Pemuda dan Olahraga, kepolisian, tokoh agama, organisasi kepemudaan, sekolah, dan keluarga harus bersatu dalam satu barisan dengan tujuan yang sama menciptakan lingkungan yang aman, kondusif, dan bebas dari tawuran," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Dirjen Imigrasi Copot Pejabat Terkait Pungli Batam, Buka Peluang Proses Pidana
-
Formappi Soal Permintaan RDPU Kasus Korupsi Minyak Mentah: Komisi III Bukan Tempat Uji Hukum!
-
Cak Imin Dorong Koperasi Merah Putih Siap Bersaing di Tengah Kebuntuan Global
-
Survei Poltracking: Kepercayaan Publik pada Prabowo-Gibran Tembus 75,1 Persen
-
Golkar Bukan Milik Satu Keluarga! Bahlil Ingatkan Kader Tak Saling Singkirkan karena Beda Pilihan
-
MKD DPR Panggil Aboe Bakar Besok Soal Isu Ulama Madura di Pusaran Narkoba
-
Kemhan Luruskan Kabar 'Akses Udara Tanpa Izin' Militer AS: Itu Masih Pembahasan, Jangan Terprovokasi
-
Mendagri Tegaskan Dana Otsus dan Dana Keistimewaan Harus Beri Manfaat Nyata bagi Masyarakat
-
Mendagri Pastikan Pengawasan Diperketat, Pemanfaatan Dana Otsus Lebih Optimal
-
Diplomasi 'Sahabat' di Kremlin: Putin Puji Prabowo, Indonesia Tancap Gas Perkuat Ekonomi dan Energi