Dalam sebuah interaksi yang terekam, ia terdengar membentak seorang petugas atau karyawan dengan kalimat yang menunjukkan superioritas jabatannya.
"Mas, saya Wakil Menteri!"
Kalimat singkat ini sarat akan makna.
Publik membacanya sebagai upaya untuk mengintimidasi dan mendapatkan perlakuan khusus hanya karena statusnya sebagai pejabat tinggi.
Ini adalah contoh klasik dari mentalitas "priyayi" yang seharusnya sudah terkikis di era reformasi, di mana seorang pejabat seharusnya melayani, bukan minta dilayani.
3. Isu 1.967 CPNS Mundur: Gagal Paham Konteks Generasi Muda
Ketika data menunjukkan ada 1.967 CPNS yang lulus seleksi memilih mengundurkan diri, Noel kembali mengeluarkan pernyataan yang dinilai gagal paham.
Ia menyalahkan para pelamar tersebut karena dianggap tidak siap ditempatkan di mana saja dan mundur seenaknya.
"Menurutnya, pelamar yang sudah diterima seharusnya siap ditempatkan di mana saja. Bukannya malah mundur seenaknya," bunyi pernyataannya.
Baca Juga: Apa Itu Sertifikasi K3? Kasus OTT KPK Wamenaker Immanuel Ebenezer
Komentar ini dianggap tidak sensitif terhadap realita yang dihadapi CPNS, seperti penempatan di daerah terpencil dengan gaji yang tidak sepadan, fasilitas minim, atau deskripsi pekerjaan yang tidak sesuai.
Alih-alih mengevaluasi sistem rekrutmen dan penempatan PNS, Noel justru menyalahkan para pesertanya, menunjukkan jarak yang begitu jauh antara pembuat kebijakan dengan realitas di lapangan.
Serangkaian pernyataan ini membentuk sebuah pola yang konsisten: seorang pejabat yang terlihat lebih suka berkonfrontasi daripada berdialog, lebih mengedepankan kuasa daripada empati.
Menurut Anda, apakah gaya komunikasi Wamenaker Noel ini adalah sebuah ketidaksengajaan, atau memang cerminan dari arogansi kekuasaan? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar.
Tag
Berita Terkait
-
Apa Itu Sertifikasi K3? Kasus OTT KPK Wamenaker Immanuel Ebenezer
-
10 Orang Ikut Terciduk, KPK Amankan Motor Ducati hingga Puluhan Mobil dalam OTT Wamenaker Noel
-
Legislator NasDem Sedih Wamenaker Noel Diciduk KPK: Kinerja Lumayan Bagus, tapi Akuntabilitas Tidak
-
Terkait Kasus Pemerasan, KPK Ungkap Rangkaian OTT Wamenaker Noel Berlangsung dari Semalam
-
OTT KPK, Wamenaker Noel Mengaku Kerap Jadi Target Opsus: Dari Tes Urine hingga Tes DNA
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Polisi Selidiki Kasus Begal Viral di Gunung Sahari Meski Korban Belum Melapor
-
Kemkomdigi Beberkan 7 Ancaman Digital yang Bisa Rusak Mental Anak: PP Tunas Hadir Untuk Melindungi
-
Bukti Awal Sudah Kantongi! Polda Metro Jaya Siap Usut Skandal Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
-
Jarwinn Solar Panel Solusi Listrik Lebih Hemat Di Saat Viral BBM Naik
-
BGN Pastikan Motor Listrik Bakal 'Blusukan' Antar MBG di Seluruh Indonesia
-
Reshuffle Kabinet Makin Dekat? Sekjen Demokrat Tegaskan Nasib Menteri di Tangan Prabowo
-
Isu Reshuffle Kabinet Mencuat, Bahlil Bakal Jadi Menko? Begini Respons Sekjen Golkar
-
Kronologi Kasus Korupsi Nikel, Ketua Ombudsman Hery Susanto Diduga Terima Suap Rp1,5 Miliar
-
Terima Penghargaan KWP Award 2026, Rizki Faisal: Jarak Geografis Tak Boleh Halangi Hak Hukum Warga
-
Jakarta Waspada Ledakan Kasus ISPA, Gubernur Pramono: El Nino Mengancam hingga September!