Suara.com - Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer atau Noel kini berada di balik jeruji besi setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Dia ditangkap lewat rangkaian Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Rabu 20 Agustus 2025.
Noel diringkus bersama 13 orang lain yang diduga terlibat dalam kasus pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan.
Menariknya, Noel dikenal sebagai tokoh yang keras menentang korupsi.
Saat masih menjabat Ketua Relawan Jokowi Mania (Joman), dia lantang menyerukan agar menteri yang korupsi dihukum mati.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam diskusi Tanya Jawab Cak Ulung bertajuk "Relawan Jokowi Bicara Reshuffle Kabinet" pada 17 Desember 2020.
"Presiden harus memitigasi menteri-menteri, makanya kami tawarkan pakta integritas," kata Noel kala itu.
"Pakta integritas nanti kontennya siapapun menteri yang korupsi siap dihukum mati dan siap disita hartanya, dimiskinkan," ujarnya lebih lanjut.
Dia juga menegaskan bahwa pejabat dengan perilaku mental korup tidak pantas menduduki jabatan penting dalam kabinet.
Baca Juga: Terungkap! Ini Alasan KPK Jerat Wamenaker Noel dengan Pasal Pemerasan, Bukan Sekadar Suap
"Perilaku mental korup. Korupsi ini kan ada dua, kesempatan dan kerakusan," ucap Noel.
"Kalau ada kesempatan tapi tidak rakus maka masih bisa terhindar. Tapi kalau rakus ya korup. Makanya kita kunci di pakta integritas itu," sambungnya.
Namun, ketika kasus korupsi justru menjerat dirinya, sikap Noel berubah drastis.
Usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jumat 22 Agustus 2025, dia menolak menjawab pertanyaan wartawan soal kesiapannya menghadapi hukuman mati.
"Ya nggak, nggak. Terima kasih kawan-kawan," kata Noel singkat sebelum digiring ke mobil tahanan.
Yang mengejutkan, menjelang pintu mobil ditutup, Noel justru meminta amnesti atau ampunan dari Presiden Prabowo Subianto.
"Semoga saya mendapatkan amnesti dari Presiden Prabowo," ucapnya lirih.
Pernyataan itu menuai cibiran publik karena kontras dengan sikapnya di masa lalu.
KPK sendiri memastikan Noel menerima uang pemerasan senilai Rp3 miliar pada Desember 2024.
Ketua KPK Setyo Budiyanto mengungkapkan bahwa uang tersebut mengalir kepada pihak penyelenggara negara dengan inisial IEG, yang tak lain adalah Immanuel Ebenezer.
Selain uang, Noel juga diduga menerima sebuah motor mewah Ducati Scrambler berwarna hitam dan biru.
Dari giat OTT, KPK menyita barang bukti berupa uang tunai serta 22 kendaraan, terdiri dari 15 mobil dan 7 sepeda motor.
Sebanyak 11 orang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk Noel, dan ditahan selama 20 hari pertama, sejak 22 Agustus hingga 10 September 2025.
Selain pernyataannya tentang menteri korup pantas dihukum mati, sejumlah unggahan lama di media sosial Noel juga kembali viral.
Kembali pada 1 April 2019, akun Twitter bernama @wamennoel98 menuliskan kalimat yang menyinggung Prabowo Subianto.
"PRABOWO ITU ANCAMAN BUAT DEMOKRASI DAN KEMANUSIAAN!!!" tulis akun tersebut.
Unggahan itu dibuat di masa Pilpres 2019, ketika Noel masih aktif sebagai Ketua Jokowi Mania dan Prabowo menjadi lawan politik Joko Widodo.
Dalam unggahan lain, dia kembali mencemooh sang Presiden dengan menyebutnya penculik.
"Nggak kebayang, kalau si Wowo berkuasa. Mau jadi apa bangsa ini dibawa," tulisnya.
"Aku dengan tegas menolak penculik memimpin republik ini, jangan kau culik harapan kami dan jangan kau culik masa depan kami, aku menolakmu!!!" tegasnya.
Pilpres 2019 berakhir dengan kemenangan Jokowi, sementara Prabowo gagal.
Ironinya, lima tahun setelahnya, Noel justru memohon belas kasihan kepada sosok yang pernah dia serang habis-habisan.
Kini, publik menyoroti betapa kontras perjalanan Noel, yang ramai dicap penjilat nomor satu.
Dari seorang relawan yang vokal menolak korupsi, kemudian diangkat menjadi pejabat tinggi negara, hingga akhirnya ditangkap KPK karena dugaan pemerasan miliaran rupiah.
Kontributor : Chusnul Chotimah
Berita Terkait
-
Skandal Kemenaker, Bos Perusahaan Ngaku Setor Rp100 Juta Per Tahun Demi Sertifikat K3
-
Di Sidang Noel, Saksi Ungkap Setor Rp 6,4 Miliar ke Kemnaker untuk Sertifikasi K3
-
Jadi Saksi di Sidang Noel, Direktur PT BSK Ngaku Bayar Rp100 Juta per Tahun untuk Sertifikat K3
-
Singgung Gus Yaqut, Eks Wamenaker Noel Minta Jadi Tahanan Rumah: Harus Ajukan Dong!
-
Karena Ini, Pengacara Eks Wamenaker Noel Tuding KPK Tebang Pilih
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
Terkini
-
Indonesia Lebih Dulu, Kenapa Donald Trump Pilih Pakistan Jadi Mediator Damai?
-
Iran Endus Rencana Licik AS: Curiga Sabotase Perundingan dan Jadikan Israel Tameng
-
BRIN Kembangkan Teknologi Plasma, Mungkinkah Produksi Pupuk Lebih Ramah Lingkungan?
-
Gencatan Senjata Terancam Batal, Iran Bersumpah Bakal Hanguskan Seluruh Aset AS di Timur Tengah
-
Netanyahu Siap Negosiasi Langsung dengan Lebanon Usai Serangan Maut
-
Dinilai Lebih Hemat, Bisakah Energi Surya Gantikan PLTD dan Kurangi Impor BBM?
-
Hilang 2 Hari, Mobil Boks Curian Tiba-Tiba Muncul Terparkir di Jalan S Parman
-
Ramai Polemik Blokir Komdigi: Magdalene dan Kritik Warganet Dibungkam?
-
Menlu Iran Peringatkan Amerika Serikat Jangan Mau Jadi Pion Benjamin Netanyahu
-
KPI Dorong Perempuan Jadi Pengawas Kebijakan Publik, Bukan Sekadar Partisipan