Suara.com - Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, Sigit Purnomo atau yang akrab dikenal dengan Pasha Ungu merespons tajamnya sorotan publik mengenai besaran gaji dan tunjangan anggota dewan yang dinilai fantastis di tengah kesulitan ekonomi masyarakat.
Pasha membela kolega-koleganya dengan menegaskan bahwa seluruh pendapatan yang diterima anggota dewan telah melalui mekanisme perhitungan yang matang dan mempertimbangkan berbagai faktor.
"Ya, silakan semua kan boleh saja menggunakan argumentasinya masing-masing. Tapi dalam hal penempatan pendapatan, perhitungan-perhitungan yang dilakukan DPR kan sudah melalui berbagai mekanisme, sudah dihitung," ujar Pasha di Komplek Parlemen, Senayan, Senin (25/8/2025).
Pasha menjelaskan, salah satu faktor utama dalam perhitungan tersebut, yakni latar belakang anggota DPR yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia.
Menurutnya, biaya hidup dan transportasi bagi anggota dewan yang berasal dari daerah jauh seperti Papua, Aceh, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Sulawesi Utara tentu jauh lebih besar dibandingkan mereka yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.
"Kan anggota DPR tidak semuanya tinggal di Jakarta, tidak semuanya berasal dari Jakarta. Ada yang dari Papua, ada yang dari Aceh, ada yang dari pelosok NTT, ada yang dari Sulawesi Utara yang untuk ke sini cukup jauh dan biaya juga cukup besar," paparnya.
Oleh karena itu, Pasha menekankan bahwa komponen tunjangan yang diberikan bertujuan untuk menunjang kelancaran tugas para wakil rakyat.
"Artinya begini, semua sudah dihitung secara baik, kira-kira begitu, sehingga semua yang jadi kebutuhan akses, kebutuhan-kebutuhan dukungan yang lain bagi anggota DPR untuk bekerja di DPR sudah terpenuhi," lanjut mantan Wakil Wali Kota Palu.
Polemik mengenai pendapatan anggota DPR kembali mencuat setelah adanya isu kenaikan gaji dan tunjangan, termasuk tunjangan perumahan sebesar Rp50 juta per bulan sebagai pengganti fasilitas rumah dinas.
Baca Juga: Diisukan Mundur dari Anggota DPR, Pasha: Belum Setahun Tiba-tiba Mundur? Kurang Kesatria!
Hal ini memicu kritik keras dari publik yang membandingkannya dengan kondisi ekonomi masyarakat luas.
Menanggapi persepsi publik yang menganggap pendapatan dewan berlebihan dan membuang-buang uang rakyat, Pasha menyatakan bahwa hal tersebut memerlukan diskusi yang lebih mendalam dan berbasis data.
"Bahwa kemudian ada masyarakat yang menganggap kok seolah-olah berlebihan misalnya, kok seolah-olah ini buang-buang uang rakyat misalnya, ya ini kan kita tidak bisa bicarakan di meja yang bebas. Ini harus kita dudukkan bersama," katanya.
Ia meyakinkan bahwa penetapan anggaran untuk DPR melibatkan institusi negara yang kompeten seperti Kementerian Keuangan dan Sekretariat Jenderal DPR untuk memastikan kesesuaian dengan kondisi keuangan negara.
"Tapi yang perlu saya sampaikan bahwa semua ini sudah dihitung dengan baik. Kita kan ada Kementerian Keuangan, Sekjen DPR, kira-kira begitu. Apa sih kebutuhan DPR? Bagaimana dengan keuangan pemerintah? Cocok apa enggak. Sampai ke soal dan lain-lain kan kira-kira begitu," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
Terkini
-
Kejar Target Sebelum Ramadan, Mendagri Minta Bantuan 15 Ribu TNI-Polri Bersihkan Lumpur Sumatra
-
OTT Pegawai Pajak, DJP Siap Beri Sanksi jika Terbukti Korupsi
-
Rocky Gerung Terpantau Turut Hadiri Rakernas PDIP di Ancol
-
Ganjar Soroti Pelaksanaan Demokrasi dan Isu Pilkada di Rakernas PDIP 2026
-
Tolak Wacana Pilkada via DPRD, Ganjar: Sikap PDI Perjuangan Sangat Jelas!
-
Dosen Utama STIK: UU ITE Tak Melemah, Penyebar Hoaks Tetap Bisa Dipidana!
-
AMLI Soroti Dampak Ranperda KTR: Usaha Reklame Tertekan, Tenaga Kerja Terancam
-
Dasco Persilakan Tito Lanjut Pimpin Pemulihan Aceh: DPR Fokus Anggaran dan Mengawasi
-
Dasco Pimpin Rapat di Aceh: Minta Pendataan Rumah Rusak Dikebut Sepekan
-
Viral Nenek Curi 16 Potong Pakaian di Tanah Abang, Ketahuan Usai Barang Jatuh dari Balik Gamis