Pola serupa terulang dalam isu kelangkaan atau rencana pembatasan distribusi gas elpiji 3 kg.
Ketika masyarakat mulai sulit mendapatkan "gas melon" dan harganya meroket, kepanikan melanda.
Pemerintah seolah lamban merespons, membiarkan isu ini menjadi bola liar.
Lagi-lagi, Prabowo muncul dengan pernyataan yang menenangkan dan solusi yang populis, memperkuat citranya sebagai pemimpin yang responsif terhadap denyut nadi rakyat.
Dua kasus ini menunjukkan pola yang sama: muncul wacana kebijakan yang meresahkan, publik dibuat panik, lalu sang pemimpin datang sebagai juru selamat.
Gaya Politik "Problem-Reaction-Solution" di Panggung Dunia
Taktik yang digambarkan sebagai politik "Joko Tingkir" bukanlah hal baru di dunia.
Dalam ilmu politik, strategi ini dikenal sebagai "Problem-Reaction-Solution" atau "Manufactured Crisis".
Tujuannya adalah untuk memanipulasi opini publik guna menerima kebijakan yang mungkin awalnya akan ditolak.
Baca Juga: Pesta Bintang Jasa Prabowo Dikritik: Terlalu Dini, Fadli Zon dan Teddy Jadi Sorotan
Contoh Internasional: Beberapa analis menunjuk bagaimana beberapa pemimpin dunia menggunakan isu imigrasi atau ancaman terorisme.
Ancaman tersebut "diperbesar" melalui media dan retorika politik, menciptakan ketakutan (reaksi).
Sebagai solusinya, pemerintah mengajukan kebijakan keamanan yang lebih ketat atau undang-undang yang membatasi kebebasan sipil, yang kemudian diterima oleh publik yang ketakutan.
Meskipun sulit dibuktikan secara langsung, gaya ini sering diatribusikan kepada pemimpin populis yang ingin memperkuat cengkeraman kekuasaannya dengan tampil sebagai satu-satunya pelindung rakyat dari "ancaman" yang ada.
Baik untuk Pencitraan, Buruk untuk Pemerintahan?
Meskipun efektif untuk mendongkrak citra dan elektabilitas dalam jangka pendek, gaya politik ini menyimpan bahaya laten untuk masa depan tata kelola pemerintahan.
Kelebihan (Bagi Pemimpin):
-Membangun Citra Pahlawan: Pemimpin terlihat tegas, solutif, dan berpihak pada rakyat.
-Meningkatkan Popularitas: Setiap "penyelamatan" menjadi amunisi untuk menaikkan tingkat kepuasan publik.
-Alat Tes Ombak: Melempar isu kontroversial bisa menjadi cara untuk melihat reaksi publik sebelum kebijakan final diputuskan.
Kekurangan (Bagi Negara dan Rakyat):
-Erosi Kepercayaan: Jika publik, seperti yang dicermati Mahfud MD, mulai menyadari pola ini, kepercayaan terhadap pemerintah akan runtuh. Pemimpin akan dicemooh sebagai dalang, bukan pahlawan.
-Tata Kelola yang Kacau: Kebijakan publik menjadi tidak stabil dan reaktif, bukan proaktif dan berbasis data. Energi pemerintah habis untuk "memadamkan api" yang mungkin sengaja dinyalakan.
-Membajak Isu Publik: Fokus masyarakat dialihkan pada drama "penyelamatan", sementara isu-isu substansial seperti korupsi, penegakan hukum, dan reformasi birokrasi terabaikan.
Tantangan Rezim Prabowo: Menavigasi Situasi Sulit
Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan.
Tantangan ekonomi seperti inflasi, daya beli yang menurun, dan utang negara menumpuk.
Ditambah lagi, sengkarut kebijakan yang menyeret DPR, seperti yang digambarkan dalam skenario demo besar pada Senin (25/8/2025), menunjukkan adanya potensi ketidakstabilan sosial-politik.
Di tengah situasi ini, gaya politik "Joko Tingkir" tidak akan cukup. Apa yang perlu dibenahi?
Transparansi Kebijakan: Hentikan wacana kebijakan "tes ombak" yang meresahkan.
Setiap rencana kebijakan harus dikomunikasikan secara transparan, lengkap dengan kajian dan data pendukung, serta melibatkan partisipasi publik yang bermakna.
Fokus pada Masalah Fundamental: Energi pemerintahan harus difokuskan untuk menyelesaikan akar masalah ekonomi, bukan menciptakan drama populis.
Reformasi struktural di bidang ekonomi, hukum, dan birokrasi adalah kunci.
Sinergi Antar Lembaga: Hindari kesan adanya "pahlawan tunggal".
Presiden, menteri, PPATK, dan lembaga negara lainnya harus bekerja dalam satu orkestra yang harmonis.
Jangan sampai ada lembaga yang seolah menjadi "antagonis" untuk menaikkan citra presiden.
Membangun Kepercayaan, Bukan Sekadar Citra: Kepercayaan publik adalah aset paling berharga.
Ini dibangun melalui konsistensi, integritas, dan kebijakan yang benar-benar pro-rakyat dalam jangka panjang, bukan melalui aksi "penyelamatan" sesaat.
Pada akhirnya, rakyat akan menilai berdasarkan hasil nyata, bukan dari seberapa sering seorang pemimpin tampil sebagai pahlawan.
Meminjam analogi Mahfud MD, tugas pemimpin sejati bukanlah membersihkan tanah liat dari hidung kerbau, melainkan memastikan kerbau itu sejak awal tidak pernah dibuat mengamuk.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Prabowo Blak-blakan: Semua Partai Banyak Patriot, Banyak Juga Bajingannya
-
Prabowo Ultimatum Koruptor: Sadar Diri, Hentikan, dan Kembalikan Uang Rakyat!
-
Meninggal karena Serangan Jantung, Temon Sempat Dilarikan ke RSUD Mampang
-
Mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani Meninggal Dunia
-
Akrab di GBK, Intip Gestur Hormat Jaksa Agung-Panglima TNI dan Kapolri Sambut Prabowo
-
LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
-
Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Resmi Ditetapkan, Apa Maknanya?
-
BNI Dorong UMKM Batik Bertransaksi Digital melalui Promo di Puspa Nuswantara 2026
-
Cak Imin Tegaskan PBNU Butuh Pemimpin Baru: Yang Lama Nggak Ada Perubahan
-
Rekam Jejak Rudi Margono Plt Jampidsus Baru, Eks Jaksa KPK Pernah Bongkar Kasus Jiwasraya-Asabri