Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membunyikan alarm tanda bahaya menyusul meledaknya kasus campak di sejumlah daerah, termasuk ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa atau KLB di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Pemerintah kini mendesak para orang tua untuk tidak lagi menunda-nunda imunisasi campak bagi anak-anak mereka, di tengah ancaman komplikasi serius seperti radang otak.
Kemenkes menegaskan, vaksin campak terbukti aman, bermutu, dan yang terpenting, diberikan gratis oleh pemerintah.
Publik diimbau untuk tidak meremehkan penyakit campak. Komite Ahli, Prof. Anggraini Alam, memperingatkan bahwa campak bisa menyebabkan serangkaian komplikasi yang sangat serius dan berbahaya. Di antaranya, Pneumonia (radang paru-paru), Diare berat, Radang otak (ensefalitis), dan yang paling mengerikan; SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis), sebuah penyakit saraf fatal yang bisa muncul bertahun-tahun setelah infeksi dan belum ada obatnya.
“Karena itu, imunisasi harus diberikan tepat waktu," ujar Anggraini.
Jangan Takut, Vaksin Gratis dan Aman
Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Prima Yosephine, meminta masyarakat untuk tidak termakan hoaks atau ketakutan yang tidak berdasar terhadap imunisasi. Ia menjamin keamanan dan mutu vaksin yang disediakan.
"Masyarakat diimbau agar tidak menunda dan tidak takut imunisasi karena vaksin campak terbukti aman, bermutu, serta diberikan gratis oleh pemerintah," kata Prima dalam keterangannya, Rabu (27/8/2025).
Sebagai respons cepat terhadap KLB, Dinas Kesehatan Sumenep kini menggelar Outbreak Response Immunization (ORI) serentak bagi anak usia 9 bulan hingga 6 tahun.
Kemenkes juga meminta para orang tua untuk waspada terhadap gejala-gejala campak. Jika anak atau anggota keluarga mengalami; demam, bercak merah pada kulit, batuk dan pilek, mata merah.
Baca Juga: KLB Campak Meluas ke-14 Provinsi, Ketua Pengurus Pusat IDAI: Ini Bukti Nyata Adanya Celah Imunisasi
Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan, termasuk pemberian vitamin A.
"Pasien campak perlu diisolasi di rumah untuk mencegah penularan," pesan Prima.
Selain itu, Anggraini memberikan pesan penutup yang sangat krusial; jangan menunggu sampai ada kasus di sekitar Anda. Ia meminta para orang tua untuk proaktif.
"Imunisasi MR dosis pertama diberikan pada usia 9 bulan dan dosis kedua pada usia 18 bulan. Bila belum lengkap, segera lengkapi tanpa menunggu ada kasus di sekitar,” jelasnya.
Orang tua diimbau untuk segera mengecek buku KIA atau status imunisasi anak di Puskesmas atau Posyandu terdekat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 5 Rekomendasi Sepeda Lipat di Bawah 5 Juta yang Ringan dan Stylish, Mobilitas Semakin Nyaman
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Kekerasan Terus Berulang, Peneliti BRIN Minta Berhenti Gunakan Kata Oknum untuk Polisi Bermasalah
-
Viral "Cukup Aku WNI", Dirjen AHU: Orang Tua Tak Bisa Sepihak Ganti Status Kewarganegaraan Anak
-
Dari Perca Batik ke Ikon Ramadan: Kisah Peci Jogokariyan Tembus Pasar Mancanegara
-
Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
-
DPRD DKI: Pasar Induk Kramat Jati Jadi 'Lapak' Pembuangan Sampah Ilegal
-
Jangan Jadi Korban! Satgas Pangan Temukan Susu Kedaluwarsa dan Mie Boraks di Jawa Barat
-
Model Baru MBG Lansia: Dimasak di SPPG, Diantar Pokmas dan Pendamping Sosial
-
Wajah Baru Pasar Palmerah: Trotoar Akan Diperbaiki, Pedagang Tak Boleh Berjualan di Bahu Jalan
-
Singgung Tanggung Jawab Lembaga, Peneliti BRIN Minta Polri Setop Pakai Istilah Oknum
-
Aktivis Soroti Respons Istana ke Kritik BEM UGM: Harusnya Dialog, Bukan Serang Balik