- Peristiwa kekerasan Brimob di Tual yang menewaskan pelajar adalah cerminan masalah institusional kepolisian berulang.
- Para ahli menekankan Polri harus berhenti menggunakan istilah "oknum" dan bertanggung jawab kelembagaan atas tindakan aparat.
- Reformasi Polri lebih dari dua dekade dinilai belum signifikan akibat lemahnya pengawasan dan aspek pendidikan.
Suara.com - Peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh anggota Brimob terhadap seorang anak bukan sekadar masalah individu, melainkan cermin persoalan institusional di tubuh kepolisian. Pasalnya, aksi kekerasan yang melibatkan anggota Polri terus berulang.
Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sarah Siregar, mengatakan agenda Reformasi Polri telah bergulir selama lebih dari 20 tahun. Namun, kemajuannya dinilai belum signifikan karena berbagai indikator terus tercoreng oleh praktik kekerasan.
“Polisi seharusnya berhenti menggunakan kata ‘oknum’. Polisi adalah representasi negara dan harus bertanggungjawab secara kelembagaan,” kata Sarah saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Tragedi Tual: Alarm Reformasi Polri”, Kamis (26/2/2026).
Sementara itu, Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, menyatakan lemahnya pengawasan dan akuntabilitas kepolisian menyebabkan tidak tumbuhnya budaya menghormati hukum dan hak asasi manusia.
“Benar, kasus Tual itu perilaku individu. Tapi itu tak berarti tidak ada masalah dengan institusi. Sebab kasus itu terus berulang. Artinya masalah individu itu juga cermin masalah institusi dan pengawasan yang lemah,” kata Usman.
Pandangan senada disampaikan Direktur Eksekutif Public Virtue Research Institute, Muhammad Naziful Haq. Ia menilai berulangnya brutalitas aparat menyiratkan persoalan mendasar dalam cara berpikir kepolisian.
“Profesi polisi adalah profesi paling sulit karena ia harus terbuka pada fakta empiris, cakap dalam berlogika, dan sensitif dalam beretika. Ketika kepolisian terjerat konflik kepentingan elit politik, tiga hal itu berpeluang besar akan dikesampingkan. Dan terjadilah misconduct, brutalitas, dan indikator penegakan hukum yang membolak-balik nalar,” jelasnya.
Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Nicky Fachrizal, juga menilai reformasi Polri harus menyentuh aspek pendidikan. Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi utama dalam upaya pembenahan institusi kepolisian.
“Pendidikan polisi mungkin tidak semegah masalah posturnya, tetapi perbaikan pendidikan polisi bisa mengarahkan polisi supaya lebih humanis,” ungkapnya.
Baca Juga: Jangan Jadi Korban! Satgas Pangan Temukan Susu Kedaluwarsa dan Mie Boraks di Jawa Barat
Kasus ini bermula dari peristiwa di Kota Tual, Maluku Tenggara, yang menewaskan pelajar berusia 14 tahun, Arianto Tawakal. Korban diduga dipukul menggunakan helm oleh Bripda Masias saat patroli terkait balap liar.
Arianto sempat menjalani perawatan sebelum akhirnya meninggal dunia. Peristiwa tersebut memicu perhatian publik secara luas. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan pengusutan tuntas dan menegaskan pelaku harus dijatuhi hukuman setimpal.
Desakan agar proses hukum tidak berhenti pada sanksi etik juga datang dari DPR RI. Sejumlah lembaga dan organisasi masyarakat sipil turut menyoroti pola penanganan kasus kekerasan aparat, termasuk pentingnya transparansi serta pelibatan pengawas eksternal.
Berita Terkait
-
Jangan Jadi Korban! Satgas Pangan Temukan Susu Kedaluwarsa dan Mie Boraks di Jawa Barat
-
Singgung Tanggung Jawab Lembaga, Peneliti BRIN Minta Polri Setop Pakai Istilah Oknum
-
Marak Kasus Kekerasan, Aparat Akan Diberi Pelatihan Hak Asasi Manusia Agar Lebih Humanis
-
Bertaruh Nyawa di Arus Lahar Semeru, Aksi Heroik Polisi Lumajang Gendong Siswa SD Demi Bisa Sekolah
-
Anggota Damkar Depok Terima Teror Setelah Konten Diduga Sindir Oknum Brimob Viral
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Rumah di Sleman 39 Kali Terbakar, Misteri Teror Api Belum Terpecahkan Meski Gegana Turun Tangan
-
Jokowi Siap 'Turun Gunung' Lagi Demi PSI, Ini Daftar Provinsi yang Akan Segera Dikunjungi
-
Waduh! AS Ancam Bom Oman, Berpotensi Ciptakan Perang Baru
-
Polisi Usut Pelecehan Santriwati di Pekalongan, Korban Lain Jangan Takut Melapor
-
AS Serang Kota Pelabuhan Bandar Abbas Iran Dekat Selat Hormuz
-
Aturan Ketat Jakarta Soal Pengelolaan Limbah Hewan Kurban di Hari Raya
-
Ribuan Pil Berbahaya Disita dari Tiga Lokasi di Tanah Abang, Tiga Pengedar Diringkus
-
Jokowi Akan Keliling Indonesia, Pengamat Nilai Ada Target Politik 2029
-
Kebakaran di Warakas Hanguskan Dua Rumah, 9 Penghuni Selamat
-
Indonesia Ingin Belajar Strategi China soal Pengentasan Kemiskinan