"Sudah kelewatan ini, pak polisi. Harusnya ngayomi, kok malah main hakim sendiri," tulis seorang netizen dengan akun @WargaBiasa.
Netizen lain, @SuaraRakyat, menyoroti inkonsistensi penegakan hukum, "Kalau preman mukul dihukum, kalau polisi mukul kenapa diam saja? Hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah!"
"Ini bukan lagi soal penegakan hukum, tapi pamer kekuasaan. Rakyat sudah muak!" tambah @AntiTindas.
Komentar-komentar ini mencerminkan sentimen publik yang semakin jengah dengan arogansi pejabat dan penegak hukum yang kerap berlaku semena-mena.
Mereka mempertanyakan kredibilitas institusi kepolisian dan menuntut pertanggungjawaban atas tindakan represif yang terus berulang.
Api Protes dari Arogansi Pejabat dan Kematian Affan Kurniawan
Insiden di warteg ini bukan sekadar kasus tunggal, melainkan salah satu dari sekian banyak pemicu yang memperpanas situasi sosial politik di Indonesia.
Gelombang demonstrasi besar-besaran yang pecah di Jakarta dan beberapa daerah lainnya sejatinya adalah akumulasi dari rasa ketidakadilan dan kekecewaan publik terhadap arogansi pejabat serta tindakan represif aparat.
Salah satu peristiwa krusial yang turut memantik api protes adalah kematian tragis Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, yang tewas dilindas mobil rantis Brimob di Pejompongan.
Baca Juga: Heboh! Lucinta Luna Orasi di Depan DPR, Sindir Pemerintah hingga Kibarkan Bendera One Piece
Kematian Affan, yang disinyalir akibat kelalaian dan ketidakhati-hatian aparat, menjadi simbol nyata bagaimana nyawa rakyat kecil seolah tak berarti di mata penguasa.
Kasus ini, ditambah dengan serangkaian insiden serupa, semakin memperkuat keyakinan publik bahwa ada jurang pemisah yang lebar antara rakyat dan para pemegang kekuasaan.
Peristiwa di warteg, dengan brutalitas yang terekam jelas, semakin mengukuhkan narasi bahwa aparat keamanan, alih-alih menjadi pelindung, justru menjadi ancaman bagi warga sipil.
Aksi-aksi represif yang dilakukan tanpa dasar yang jelas ini hanya akan memperdalam jurang ketidakpercayaan, memicu kemarahan yang lebih besar, dan pada akhirnya, memperluas gelombang perlawanan dari rakyat yang sudah terlalu lama terbebani oleh arogansi dan ketidakadilan.
Mendesak Reformasi dan Akuntabilitas
Masyarakat menuntut reformasi total dalam tubuh institusi kepolisian dan penegak hukum.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan, RAM 6 GB Performa Jempolan
- 5 Sepatu Skechers Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Cocok Dipakai Lansia
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
Pilihan
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
Terkini
-
JATAM Ungkap 551 Izin Industri Ekstraktif Kepung Sumatra, Masuk Kawasan Rawan Bencana
-
Mobil Listrik Terbakar Hebat di Tol Lingkar Luar, Penyebabnya Diduga Korsleting
-
Mayat Pria Tanpa Identitas dengan Luka Lebam Mengapung di Kali Ciliwung, Korban Pembunuhan?
-
MBG Selama Ramadan Dianggap Penting Agar Nutrisi Anak Tetap Terpenuhi
-
Jejak Berdarah Pembunuh Sadis Rumania Berakhir di Bali, Diciduk Tim Gabungan di Kerobokan
-
Tanggul Sungai Kalimalang Jebol! Ratusan Keluarga di Karawang Terendam Banjir
-
Dianggap Air Ajaib, BRIN Bongkar Fakta Mengerikan Air Sinkhole: Penuh Bakteri dan Logam Berat
-
Alasan Kuat Polisi SP3 Eggi Sudjana dan Damai Lubis di Kasus Ijazah Palsu Jokowi
-
Tol Cikampek Jadi 'Neraka' Libur Panjang, Jasa Marga Buka Jalur Contraflow Sampai KM 65
-
Tanah Tiba-tiba Ambles Jadi Lubang Raksasa? BRIN Ungkap Penyebab dan Daerah Rawan di Indonesia