- Aksi massa yang meluas di Tanah Air dianggap sebagai situasi konstitusional.
- Bivitri memandang gelombang protes massa yang terjadi karena kemarahan rakyat terhadap kebijakan dan sederet pernyataan konyol anggota DPR.
- Bivitri menyinggung soal pidato Presiden Prabowo saat menanggapi situasi mencekam di Tanah Air atas meluasnya aksi demonstasi.
Suara.com - Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti alas Bibip menyindir sikap Presiden Prabowo Subianto saat menanggapi situasi Tanah Air sejak meletusnya aksi massa, termasuk di Gedung DPR RI. Prabowo sebelumnya menuding ada gejala makar dan terorisme di balik aksi massa tersebut.
Namun, menurut pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) itu, aksi massa yang sudah sepekan ini meluas di Tanah Air adalah situasi konstitusional. Maka, Bivitri menganggap meledaknya aksi massa itu tidak berkaitan adanya isu anarkis, tapi karena upaya rakyat memperjuangkan kedaulatannya.
"Kami ingin memaknai hari-hari ini apa yang terjadi dari kemarin 2 hari yang lalu sampai minggu lalu sebenarnya sudah mulai demonstrasi itu adalah situasi konstitusional, bukan inkonstitusional, bukan anarkis, bukan agenda siapa-siapa," ujar Bivitri dikutip dalan tayangan akun Youtube @CALS-Indonesia pada Selasa (2/9/2025).
"Ini adalah situasi konstitusional. Karena ini semua terjadi dalam rangka rakyat mengambil kedaulatannya kembali. Karena itulah kami ingin mengisi apa yang kami namai situasi konstitusional ini," sambungnya.
Dalam siniar itu, Bibip juga menyinggung ada perbedaan sudut pandang antara masyarakat dan pemerintah terkait aksi demonstrasi yang sepekan ini meletus di berbagai daerah, termasuk Jakarta. Dia pun menyinggung soal pidato Presiden Prabowo yang dianggap hanya untuk meredam gejolak di masyarakat.
Selain itu, Bibip juga menanggapi sikap partai politik yang akhirya menonaktifkan kader-kadernya di DPR RI karena ucapan kontroversial yang memicu gelombang protes publik.
"Bagi kami yang dilakukan oleh Presiden maupun para partai politik itu hanyalah upaya untuk meredam gejolak. Dia hanya menyasar gejala yang selama ini terjadi, tapi tidak menyelesaikan akar masalah," ujarnya.
Lebih lanjut, Bivitri juga menganggap gelombang demonstrasi yang terjadi bukan karena ada yang menunggangi tapi akibat dari kebijakan pemerintah dan pernyataan-pernyataan anggota dewan yang memicu kemarahan rakyat.
"Karena bagi kami ini persoalannya memang bukan persoalan, persoalan apakah ada kelompok yang menyetir, menunggangi dan lain sebagainya. Ini adalah peristiwa konstitusional. Ketika warga melihat bahwa para wakil rakyat ternyata tidak mewakili rakyat, malah menolol pada tempatnya, tidak etis sama sekali," bebernya.
Baca Juga: BEM SI Mendadak Batalkan Aksi Demo 2 September Hari Ini, Ada Apa?
Berita Terkait
-
Demo 2 September Tetap Menyala! BEM SI Jakarta Batal, Ini Daftar Lengkap Lokasi Aksi di Daerah
-
BEM SI Mendadak Batalkan Aksi Demo 2 September Hari Ini, Ada Apa?
-
Viral Suara Polisi Larang Posko Bantuan LBH Bandung di Polda Jabar: Kalau Pimpinan Lewat Gimana?
-
Sebar Ulang Poster Kucing hingga Bantuan Nyaleg: Eko Patrio-Uya Kuya Kini Cari Simpati Publik?
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
Terkini
-
Langit RI Bocor? Menelusuri Celah Hukum Akses Pesawat Militer AS
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Jangan Cuma Jago Kandang, Pramono Anung Tantang BUMD DKI Ekspansi ke Pasar Global
-
Perjuangkan Kesetaraan di Senayan, Ledia Hanifa Amaliah Digelari Legislator Peduli Disabilitas
-
LPSK Lindungi 20 Korban Pelecehan FH UI dari Potensi Intimidasi hingga Pelaporan Balik
-
Kasus Hery Susanto Jadi Alarm, Pakar Dorong Pembentukan Dewan Pengawas Ombudsman
-
wondr Kemala Run 2026 Dorong Aksi Donasi, Peserta Diajak Berlari Sambil Berbagi
-
Bikin Macet Parah! Satpol PP Jatinegara Tertibkan 43 PKL Ular hingga Anjing di Balimester
-
Rekrutmen 30 Ribu Manajer Kopdes Dinilai Dongkrak Konsumsi Desa, tapi Simpan Risiko Besar
-
Getol Perkuat Diplomasi Antar-Parlemen, Ravindra Airlangga Sabet KWP Award 2026