- Ribuan siswa di berbagai daerah menjadi korban keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG)
- Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) menemukan banyak dapur penyiapan makanan (SPPG) yang tidak memenuhi standar kebersihan
- Muncul desakan kuat dari berbagai pihak, termasuk FKBI dan DPR, agar pemerintah segera melakukan audit total terhadap penyedia makanan
Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi solusi masalah gizi anak bangsa kini justru berubah menjadi sumber bencana nasional.
Insiden keracunan massal yang menimpa ribuan siswa penerima manfaat program ini disebut sebagai bukti adanya kegagalan sistemik dari pemerintah dalam menjalankan program unggulannya.
Data dari lembaga pemantau pendidikan bahkan mencatat, hingga pertengahan September 2025, sebanyak 5.360 siswa telah menjadi korban keracunan makanan akibat program ini.
Kritik tajam datang dari Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) yang menyoroti amburadulnya pelaksanaan program di lapangan.
Ketua FKBI, Tulus Abadi, mengungkapkan temuan mengejutkan dari investigasi pihaknya yang menunjukkan sejumlah dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi di bawah standar kebersihan minimum, membahayakan kesehatan jutaan anak sekolah.
"Dapur SPPG di berbagai daerah ditemukan tidak memenuhi standar kebersihan minimum. Proses penyiapan makanan dilakukan di lantai, tanpa alat penangkal serangga, dan dengan jeda waktu distribusi yang terlalu panjang," ungkap Tulus dalam pernyataannya, Senin (22/9/2025).
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa proses memasak, kebersihan bahan pangan, hingga transportasi dan penyimpanan menjadi titik kritis yang berpotensi menyebabkan kontaminasi dan keracunan.
Masalah ini bukan hanya isapan jempol, kasus keracunan massal telah dilaporkan terjadi di berbagai daerah, salah satunya di Kabupaten Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, yang membuat lebih dari 250 siswa harus dilarikan ke rumah sakit.
Lebih jauh, FKBI juga menyoroti ketiadaan data publik terkait vendor MBG, hasil audit dapur, maupun uji laboratorium makanan.
Baca Juga: Pusing hingga Muntah, Dinkes Garut Ungkap 600 Siswa Keracunan MBG: Alhamdulillah Semua Sudah Sehat
Tulus juga menyinggung adanya dugaan ribuan dapur fiktif dalam program tersebut, yang mengindikasikan adanya potensi penyelewengan anggaran besar-besaran.
Selain itu, mekanisme pelaporan insiden keracunan dinilai tidak terstruktur dan tidak inklusif. Komunitas sekolah serta orang tua siswa sama sekali tidak dilibatkan dalam pemulihan korban.
Gelombang kritik yang semakin deras membuat berbagai pihak mendesak adanya evaluasi menyeluruh.
Pimpinan Komisi IX DPR RI bahkan mengusulkan agar pengelolaan program MBG dialihkan ke pihak sekolah yang dinilai lebih memahami kondisi siswa dan dapat menjaga higienitas makanan.
Atas kondisi darurat ini, FKBI mendesak pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk tidak tinggal diam dan segera melakukan audit publik atas seluruh penyedia makanan MBG.
Transparansi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik yang sudah terlanjur tercoreng.
Berita Terkait
-
Menkeu Purbaya Ancam Tarik Anggaran Program Makan Gratis jika Penerapannya Tidak Efektif
-
Pusing hingga Muntah, Dinkes Garut Ungkap 600 Siswa Keracunan MBG: Alhamdulillah Semua Sudah Sehat
-
Ribuan Siswa Keracunan, FKBI Nilai Program MNG Telah Langgar Hak Konsumen Anak
-
Anak-Anak Keracunan, Belatung Ditemukan, Mengapa Program MBG Tak Juga Dihentikan?
-
Banyak Siswa Keracunan MBG, FKBI Menuntut Adanya Skema Ganti Rugi dan Pemulihan Korban
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
KPK Ungkap Ada Kode pada Amplop Berisi Uang yang Akan Dibagikan pada Kasus Bea Cukai
-
Prabowo Ajak PM Australia Anthony Albanese Hadiri Ocean Impact Summit di Bali
-
Fakta Baru Terungkap! Satu Keluarga di Warakas Tewas Diracun Anak Sendiri, Ini Motifnya
-
Bertemu Prabowo di Istana, PM Albanese: Kami Selalu Merasa Sangat Disambut di Sini
-
Jadi Tersangka Suap Bea Cukai, Direktur P2 DJBC Rizal Ternyata Punya Harta Rp19,7 Miliar
-
Di Sidoarjo, Gus Ipul Ajak Camat Hingga Kades Bersama Perbarui Data
-
Sudah Bocor! Ini Prediksi Awal Ramadan 1447 H Berdasarkan Hasil Hisab Kemenag
-
Perkuat Stabilitas Indo-Pasifik, Prabowo dan PM Albanese Resmi Teken Traktat Keamanan Bersama
-
Update Terbaru: Ini Daftar Rumah Sakit yang Menampung 40 Korban Luka Akibat Gempa Pacitan di DIY
-
11 Juta Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan, PDIP: Keselamatan Rakyat Tak Boleh Dikalahkan Birokrasi!