- Program Makan Bergizi Gratis yang digagas pemerintah dikritik karena memicu ribuan kasus keracunan.
- Akademisi NTU, Prof. Sulfikar Amir, menilai persoalan MBG bukan sekadar teknis, melainkan fundamental, mulai dari distribusi yang terlalu luas hingga tujuan ekonomi yang menggeser aspek sosial.
- Ia menegaskan, program kesejahteraan seharusnya fokus pada keamanan dan kesejahteraan masyarakat, bukan pada target pertumbuhan ekonomi.
Suara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang pemerintah sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi anak bangsa kini justru menuai kritik keras. Sejak dijalankan, ribuan kasus keracunan dilaporkan terjadi di berbagai daerah.
Akademisi Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, menilai persoalan mendasar MBG tidak hanya terletak pada aspek teknis, melainkan juga bersifat struktural.
“Program makanan bergizi gratis—atau lebih tepat saya sebut proyek—memang punya niat baik. Tetapi ada empat masalah fundamental yang perlu digarisbawahi, yang membuat MBG bermasalah hingga mengakibatkan ribuan kasus keracunan,” ujarnya.
Prof. Sulfikar juga menyoroti respons pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, yang menyebut kasus keracunan hanya 0,0017 persen dari total penerima. Baginya, pernyataan tersebut tidak tepat.
“Walaupun dinormalisasi oleh Prabowo dengan mengatakan kasus ini cuma 0,0017 persen, buat saya itu tidak bermakna. Dalam situasi krisis, sekecil apa pun angkanya, tetap berbicara soal manusia. Jadi bukan sekadar persentase,” tegasnya.
Salah satu masalah fundamental MBG, lanjutnya, adalah skala distribusi yang terlalu luas. Menurut dia, program kesejahteraan tidak bisa bersifat universal, melainkan harus tepat sasaran.
“Dalam program kesejahteraan ada dua pendekatan distribusi: universal, di mana semua orang mendapatkannya, atau targeted, di mana hanya kelompok tertentu yang menerima. Untuk mengatasi ketimpangan, biasanya program bersifat targeted,” jelasnya.
Sebagai contoh, ia menyebut Amerika Serikat yang sejak 1904 menjalankan National School Lunch Program (NSLP) di era Presiden Truman. Program tersebut bersifat targeted, sehingga tidak semua siswa mendapat makan siang gratis.
Selain distribusi, Prof. Sulfikar menilai perencanaan MBG terlalu menekankan pada dorongan pertumbuhan ekonomi ketimbang tujuan sosial.
Baca Juga: Kepala BGN: Dampak Program MBG Nyata, Tapi Tak Bisa Dilihat Instan
“Masalah kedua adalah perencanaan MBG yang dijadikan instrumen untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Ini problematik,” ungkapnya dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Jumat (3/10/2025).
Ia mengakui program makan sekolah bisa memberi multiplier effect bagi petani maupun pengusaha kecil. Namun, jika tujuan utamanya sekadar mendorong pertumbuhan ekonomi 2 hingga 3 persen, maka efektivitas program justru berkurang.
“Program kesejahteraan tidak boleh diperlakukan sebagai instrumen ekonomi semata. Tujuannya bukan profit, tapi sosial. Tanpa mekanisme pasar dan profit besar, sulit menjadikan program ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Benturan antara kepentingan ekonomi dan sosial, menurutnya, justru membuat MBG kehilangan arah.
“Dua kepentingan ini bertemu, dan akhirnya program MBG gagal menjaga kesejahteraan sekaligus tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi signifikan. Itu inti masalahnya,” pungkasnya.
Reporter: Maylaffayza Adinda Hollaoena
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Bareskrim Bongkar Jaringan Judi Online Internasional, Puluhan Tersangka Ditangkap di Berbagai Kota
-
Ajang 'Pajang CV' Cari Jodoh: Fenomena Cindo Match di Mall of Indonesia
-
Hujan Deras Bikin 10 RT dan 3 Ruas Jalan di Jakarta Tergenang
-
Gus Yahya Bantah Tunjuk Kembali Gus Ipul sebagai Sekjen PBNU
-
Longsor Akibat Kecelakaan Kerja di Sumedang: Empat Pekerja Tewas
-
Polisi Tembakkan Gas Air Mata Bubarkan Tawuran di Terowongan Manggarai
-
Hujan Deras Genangi Jakarta Barat, Sejumlah Rute Transjakarta Dialihkan
-
Alasan Kesehatan, 5 Terdakwa Korupsi Pajak BPKD Aceh Barat Dialihkan Jadi Tahanan Kota
-
Mulai Berlaku 2 Januari 2026, Ini 5 Kebiasaan yang Kini Bisa Dipidana oleh KUHP Nasional
-
Misteri Satu Keluarga Tewas di Tanjung Priok, Ini 7 Fakta Terkini