-
- Kebakaran hutan ekstrem dapat menciptakan badai langka bernama pyrocumulonimbus.
- Badai ini menyebarkan api dan kilat tanpa hujan yang memperluas kebakaran.
- Ilmuwan kini dapat memodelkan badai api untuk meningkatkan peringatan dini dan kesiapsiagaan.
Suara.com - Ilmuwan di seluruh dunia dibuat pusing oleh satu fenomena cuaca langka yaitu badai yang lahir dari kebakaran hutan. Kebakaran besar yang panasnya ekstrim ternyata juga bisa membangkitkan sistem cuacanya sendiri. Setiap tahunnya para peneliti memperkirakan ada puluhan hingga ratusan badai semacam ini selalu terjadi, dan tren perubahan iklim membuat jumlahnya diprediksi semakin banyak di masa depan.
Fenomena ini telah menjadi bagian dari “musim kebakaran global” dengan dampak berlapis yaitu kualitas udara menurun, cuaca semakin sulit ditebak, dan krisis iklim makin parah.
Lebih jauh, badai api ini justru mempersulit pemadam kebakaran di lapangan karena membuat kobaran api semakin liar dan tak terkendali.
Saat vegetasi terbakar, udara di dekat permukaan tanah memanas dan naik ke atas. Ruang kosong yang ditinggalkan segera diisi udara dingin, menciptakan pola angin baru.
Jika kondisinya tepat, gumpalan asap panas ini mendingin dan berubah menjadi awan raksasa yang dikenal dengan nama pyrocumulonimbus (pyroCB).
Ilmuwan NASA menjuluki awan ini “naga awan yang menyemburkan api” karena kekuatannya luar biasa. Jika energi yang dilepaskan cukup besar, pyroCB bisa memicu badai petir yang menghasilkan arus udara ke bawah, menyebarkan api ke arah tak terduga, bahkan melahirkan kilat berbahaya yang dapat menyalakan kebakaran baru.
Lebih mengkhawatirkan lagi, badai ini sering berupa badai kering dimana kilat menyambar tanpa diikuti hujan.
Akibatnya, bukannya memadamkan api, justru muncul titik-titik kebakaran baru yang makin meluas.
Contoh nyata fenomena badai api bukan sekadar teori. Pada tahun 2020, Kebakaran Creek di California menghasilkan pyroCB yang sangat besar.
Baca Juga: Ramai Brand Hijau Bohongan: Kamu Sedang Jadi Korban Greenwashing?
Awan ini menurunkan kilat dan angin kencang, membuat api kian menyebar dan membahayakan petugas pemadam di lapangan.
Kasus serupa terjadi di Pedrógão Grande, Portugal, pada 2017. Asap hitam tebal menjulang hingga 13 kilometer ke atmosfer, sebelum runtuh kembali dan menyalakan “bom api” yang menyebarkan percikan ke segala arah. Peristiwa itu menewaskan 66 orang, melukai 250 lainnya, serta membakar lebih dari 24.000 hektar lahan dan 500 rumah hanya dalam lima hari.
Namun kini para peneliti berhasil merekonstruksi secara detail bagaimana awan pyroCB terbentuk. Dalam studi yang dipimpin oleh Ziming Ke dari Desert Research Institute, model komputer berhasil meniru waktu, ketinggian, dan kekuatan awan badai dari Kebakaran Creek 2020. Lebih jauh, model ini juga berhasil mereplikasi badai petir dari Kebakaran Dixie tahun 2021 meski terjadi dalam kondisi berbeda.
Menurut Ziming, ini adalah “terobosan pertama dalam pemodelan sistem Bumi” yang bisa meningkatkan kesiapsiagaan nasional.
Dengan kemampuan baru ini, ilmuwan bisa memperkirakan kapan dan dimana badai api berpotensi muncul, sehingga langkah pencegahan maupun penanggulangan bisa lebih efektif.
Dampaknya bagi iklim global PyroCB ini bukan hanya berbahaya di lokasi kebakaran. Awan ini menyuntikkan asap dan uap air ke atmosfer bagian atas dengan skala yang setara letusan gunung berapi kecil. Partikel polusi yang dihasilkan bisa bertahan selama berbulan-bulan, mengubah cara atmosfer menyerap dan memantulkan cahaya matahari.
Jika terbawa angin hingga ke kutub, partikel ini bahkan dapat mempercepat pencairan es dan salju. Artinya, badai api tidak hanya menjadi ancaman lokal, tetapi juga memperburuk pemanasan global secara keseluruhan.
Dengan semakin panjang dan intensifnya musim kebakaran hutan di seluruh dunia, kemampuan untuk memprediksi fenomena ini bisa menjadi kunci dalam melindungi kehidupan, lingkungan, dan sistem iklim planet kita.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Pengelolaan Air Berkelanjutan Dinilai Mendesak di Tengah Tekanan Industri dan Iklim
-
Perjanjian Ibrahim Cara Trump Paksa Negara Arab 'Bermesraan' dengan Israel
-
Miris! Korban Luka Berat di Otak, Pelaku Anak di Singkawang Malah Pamer Respons Tanpa Empati
-
Bukan karena Disembelih, 2 Kerbau Kurban di Kudus Tumbang Didor Polisi
-
Rp 1,3 Triliun Digelontorkan untuk Pembangunan Jalan di Sumut
-
Perang AS vs Iran Kembali Meledak! Kuwait Langsung Aktifkan Pertahanan Udara
-
Gerakan Pilah Sampah Jakarta Masih Berproses, Dampaknya Belum Terlihat
-
Kasus Duel Maut WNA Brunei di Blok M Masuk Radar Interpol, Ini Motifnya
-
Skandal Riset AI Kedokteran Demi Travel Grant, MGBKI Desak Audit Total
-
Bandar Abbas Dibombardir, Militer Iran Balas Dendam Serang Dua Pangkalan Udara AS