- Literasi dinilai menjadi faktor penting untuk memperkuat sistem perlindungan sosial.
- Lewat pendidikan sejak dini diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal
- Literasi jaminan sosial di kalangan pelajar diharapkan bisa menciptakan generasi emas Indonesia.
Suara.com - Peningkatan literasi dianggap menjadj faktor penting dalam memperkuat sistem perlindungan sosial di Indonesia. Pasalnya, tanpa adanya pemahaman masyarakat yang memadai, keberlanjutan program jaminan sosial akan terus menghadapi tantangan.
“Tanpa adanya literasi masyarakat yang cukup mengenai pentingnya jaminan sosial dalam kehidupan mereka, maka tantangan keberlanjutan program ini akan terus ada,” ujar Pengamat jaminan sosial Elyasani Irwanti ditulis pada Selasa (7/10/2025).
Menurutnya, peningkatan literasi publik di bidang kesehatan dan ketenagakerjaan merupakan langkah yang tak terelakkan untuk memastikan keberlangsungan program jaminan sosial nasional.
Ia menegaskan, masyarakat perlu memahami fungsi, manfaat, serta mekanisme kerja sistem jaminan sosial agar dapat terlindungi dari berbagai risiko sosial dan ekonomi.
“Peningkatan literasi jaminan sosial ini sangat penting untuk memberikan pemahaman yang komprehensif bagi masyarakat tentang jaminan sosial baik dari fungsi, manfaat, dan cara kerjanya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Elyasani menilai pendidikan sejak dini menjadi strategi efektif untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya jaminan sosial. Salah satu bentuk nyata dari strategi tersebut adalah pengenalan konsep gotong royong dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) melalui dunia pendidikan.
“Dengan membangun kesadaran dan ekosistem jaminan sosial yang kuat melalui pendidikan sejak dini maka ke depannya diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal dan terlindungi dari risiko sosial dan ekonomi,” terangnya.
Sebagai bagian dari upaya itu, pemerintah telah meluncurkan Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (Modul P5) bertema “Jaminan Sosial untuk Masa Depan yang Lebih Cerah” pada 11 Desember 2023. Modul ini bertujuan menanamkan pemahaman tentang jaminan sosial kepada peserta didik agar lebih siap menghadapi tantangan sosial dan ekonomi di masa depan.
Elyasani berharap, langkah ini diikuti dengan komitmen berkelanjutan untuk memperluas penerapan modul tersebut di berbagai satuan pendidikan di Indonesia.
Baca Juga: Melihat Metode pembelajaran modern Smart Clasroom
“Harapannya, akan menciptakan perubahan yang nyata dan membangun kesadaran terhadap literasi jaminan sosial di kalangan pelajar,” ujar lecturer di Learning and Development BPJS Ketenagakerjaan itu.
Menurutnya, proyek Modul P5 tak hanya mengajarkan konsep jaminan sosial, tetapi juga membentuk karakter sesuai dimensi Profil Pelajar Pancasila. Dengan demikian, peserta didik diharapkan dapat memahami pentingnya jaminan sosial bagi diri sendiri dan mampu menularkan pengetahuan tersebut ke lingkungannya.
Dari sisi lembaga penyelenggara, Elyasani melihat inisiatif ini dapat menjadi momentum bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk memperluas kepesertaan di masa depan.
“Ibarat menanam pohon, literasi jaminan sosial kepada peserta didik belum menghasilkan buah saat ini, namun saat mereka memasuki dunia kerja maka akan timbul kesadaran akan pentingnya jaminan sosial,” tuturnya.
Ia menambahkan, kesadaran yang tumbuh sejak dini akan membuat generasi muda menjadikan jaminan sosial sebagai kebutuhan perlindungan kerja secara sukarela.
“Dengan begitu secara sukarela tanpa paksaan mereka akan menjadikan jaminan sosial sebagai kebutuhan perlindungan dalam bekerja,” sambung Elyasani yang juga berprofesi sebagai dokter gigi di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta.
Elyasani menegaskan, dukungan pemerintah melalui Modul P5 perlu diikuti langkah aktif dari lembaga penyelenggara jaminan sosial untuk melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah.
“Badan penyelenggara bisa menjadi fasilitator dan berperan aktif mensukseskan literasi jaminan sosial di kalangan pelajar demi masa depan yang lebih cerah dalam menyongsong generasi emas Indonesia 2045,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Lingkaran Setan Kekerasan di Balik Seragam: Mengapa Polisi Junior Terus Jadi Korban Senior?
-
Bareskrim Ambil Alih Pengejaran Ko Erwin, Bandar Narkoba Terkait Kasus AKBP Didik
-
WNA Australia Terinfeksi Campak Usai Kunjungi RI, Kemenkes Percepat Imunisasi MR untuk Anak PAUDTK
-
Pramono Anung Instruksikan Perluasan Akses Jalan Guna Urai Kemacetan Flyover Latumenten
-
KPK Telusuri Pemilik Lima Koper Berisi Uang Rp5 Miliar dalam Kasus Bea Cukai
-
DPRD DKI Kritik Impor 3.100 Sapi oleh Pramono Anung, Dinilai Tak Sejalan UU Pangan
-
Habib Jafar: Ramadan Momentum Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan Sekadar Kaya Materi
-
Hakim Tetapkan Kerugian Negara Kasus Korupsi Minyak Pertamina Sebesar Rp9,4 Triliun
-
Divonis 9 Tahun Penjara, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Sebut Fakta Sidang Diabaikan
-
Ancaman Nyata dari AS hingga AI: Bagaimana RI Menjaga 'Benteng' Pembangunan Nasional di 2026?